Banda Aceh (Waspada Aceh) – Warga di sejumlah wilayah terisolasi akibat bencana di Kabupaten Gayo Lues menunjukkan antusiasme tinggi mengikuti pelayanan kesehatan yang dilakukan Tim Cadangan Kesehatan dari Dinas Kesehatan Aceh.
Pelayanan tersebut dilaksanakan sejak 16 hingga 22 Januari 2026 di daerah terdampak dan terisolasi hampir dua bulan terakhir.
Tim kesehatan yang diturunkan terdiri dari 6 hingga 8 tenaga medis dalam setiap kelompok, meliputi dokter umum, perawat, bidan, ahli gizi, petugas kesehatan lingkungan (kesling), serta tenaga farmasi. Tim ini memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan langsung kepada masyarakat, sekaligus melakukan penyuluhan terkait kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Kepala Bidang PSDK Dinas Kesehatan Gayo Lues, dr. Mutia Fitri, selaku Koordinator Operasional Health Emergency Operation Center (HEOC), mengatakan pada hari Minggu (18/1/2026) terdapat dua tim yang diterjunkan ke lapangan. Masing-masing menuju Kampung Seneren dan Kampung Kuning Kurnia Kecamatan Pantan Cuaca.
“Sejak kami turun ke beberapa lokasi bencana dan wilayah terdampak, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Hal ini karena selama ini warga cukup kesulitan menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, terutama di tingkat kecamatan,” ujar dr. Mutia kepada Waspadaaceh.com, Minggu (18/1/2026).
Ia menjelaskan, keterbatasan akses diperparah dengan kondisi sebagian tenaga kesehatan yang belum dapat bertugas secara optimal di wilayah tersebut. Oleh sebab itu, kehadiran tim lapangan menjadi sangat dibutuhkan masyarakat.
Untuk menjangkau lokasi pelayanan, tim kesehatan harus menempuh medan berat. Dari pusat Kota Blangkejeren, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki hampir 30 menit melewati perbukitan menuju Kampung Seneren.
Sementara itu, untuk wilayah Pining, tim harus berjalan kaki selama 6 hingga 8 jam.
“Medannya cukup berat, namun demi memastikan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan, tim tetap turun langsung ke lapangan,” katanya.
Selama pelaksanaan pelayanan, penyakit yang paling banyak ditemukan di wilayah bencana dan terdampak antara lain infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), demam disertai batuk pilek, gangguan pencernaan seperti dispepsia, serta penyakit kulit.
“Penyakit-penyakit tersebut menjadi tiga tertinggi yang kami temukan. Data ini telah kami laporkan kepada Tim VOC Dinas Kesehatan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi,” jelas dr. Mutia.
Ia menegaskan, hingga saat ini belum ditemukan adanya penyakit menular maupun kejadian luar biasa (KLB). Tim kesehatan juga terus melakukan pemantauan melalui data surveilans di setiap kecamatan di Kabupaten Gayo Lues.
“Untuk kondisi saat ini masih terkendali. Pemantauan akan terus kami lakukan guna memastikan tidak munculnya potensi wabah pascabencana,” tutupnya. (*)



