Aceh Tamiang (Waspada Aceh) – Ketua Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), KH Bachtiar Nasir (UBN), mengunjungi Aceh untuk menemui para alumni Timur Tengah yang terkena dampak banjir besar yang melanda sebagian wilayah Provinsi Aceh sejak akhir November 2025.
Selain mendorong semangat agar mereka tetap konsisten dalam berdakwah, ia juga menyerahkan bantuan kepada korban bencana.
Ustad Marwan Islmail, alumni Libya tahun 1998 yang kini menetap di Kampung Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, mengungkapkan kegembiraannya menerima kunjungan dari UBN yang datang langsung dari Jakarta.
Ia menjadi perwakilan para alumni Timur Tengah di wilayah tersebut yang memiliki latar belakang pendidikan dari berbagai negara di kawasan Timur Tengah seperti Libya, Mesir, Sudan, dan Yaman.
“Saya awalnya dari Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, namun pindah ke sini karena istri saya berasal dari Aceh Tamiang. Sejak tahun 2005, saya telah aktif berdakwah di wilayah ini bersama rekan-rekan alumni lainnya,” jelasnya pada Kamis (15/1/2026).
Dari total 25 orang alumni Timur Tengah yang tersebar di berbagai kabupaten di Aceh, sebanyak 21 orang dapat menghadiri pertemuan silaturahmi dan penyaluran bantuan tersebut – dan seluruhnya merupakan korban banjir yang rumah atau tempat aktivitas dakwah mereka terdampak.
Menurut Marwan, kondisi rumah dan jalanan yang rusak parah membuat mereka kesulitan menjalankan aktivitas dakwah, seperti mengadakan pengajian rutin, pendidikan agama bagi anak-anak, dan pendampingan bagi masyarakat yang terkena dampak psikologis akibat bencana.
“Kami biasanya mengadakan pengajian setiap hari Jumat dan pendidikan agama setiap sore hari untuk anak-anak sekitar. Namun sejak banjir datang, semua harus dihentikan karena tempatnya tidak layak dan akses yang sulit. Semoga apa yang hilang segera digantikan Allah SWT, sehingga kami bisa kembali aktif berdakwah,” harapnya.
Salah satu peserta lain, Ahmad Nabawi, alumni Mesir yang kembali ke Aceh tahun 2010 setelah menyelesaikan studi di Universitas Al-Azhar Kairo, mengaku masih mengalami guncangan mental akibat dampak bencana.
Rumah Ahmad Nabawi yang terletak di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Karang Baru, masih tertutup lumpur setinggi lutut dan akses jalan utama menuju kawasan tersebut belum dapat berfungsi dengan baik.
“Saat ini, baik bepergian keluar kota maupun berada di dalam kota membuat kami merasa stres karena melihat kondisi pascabencana yang luas. Banyak masyarakat yang kehilangan harta benda bahkan sanak keluarga, sehingga mereka membutuhkan dukungan tidak hanya materi tapi juga spiritual,” ungkapnya.
Ahmad juga mengungkapkan dilema yang dihadapi para korban. Meskipun kondisi mereka sangat tidak baik, namun mereka merasa tidak tega untuk menyampaikan kebutuhan bantuan kepada pihak terkait karena melihat banyaknya masyarakat lain yang juga terkena dampak lebih parah.
“Kami benar-benar membutuhkan bantuan untuk membangun kembali rumah dan tempat dakwah, tapi kami merasa sungkan untuk menyampaikannya karena ada banyak keluarga yang lebih membutuhkan. Beberapa dari kami bahkan masih membantu masyarakat sekitar dalam membersihkan lumpur dari rumah mereka,” katanya.
Sebagai Pembinan Laznas AQL Peduli – lembaga amil zakat yang fokus pada penanganan bencana dan pengembangan dakwah – UBN telah beberapa kali mengucurkan bantuan ke Aceh melalui posko yang telah dibangun.
Pada kunjungan kali ini, bantuan yang disalurkan kepada alumni Timur Tengah meliputi paket sembako, perlengkapan kebersihan pribadi, bahan bangunan sederhana, dan bantuan tunai masing-masing sebesar Rp 5 juta per keluarga korban.
“Kami mengucapkan Alhamdulillah atas bantuan yang diberikan. Bantuan ini tidak hanya membantu kami secara materi tapi juga memberikan semangat bahwa kami tidak ditinggalkan dalam menghadapi kesulitan. Kami berjanji akan menggunakan bantuan ini sebaik-baiknya dan tetap berusaha untuk terus berdakwah,” ucap Marwan menyampaikan terima kasih mewakili para alumni.
Selain menyerahkan bantuan, UBN juga memberikan materi penyuluhan tentang cara mengelola stres dan trauma akibat bencana, yang disusun bersama dengan tim ahli psikologi dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Menurutnya, dukungan spiritual dan psikologis sama pentingnya dengan bantuan materi dalam proses pemulihan pascabencana.
“Alumni Timur Tengah memiliki peran penting dalam pembangunan dan pemulihan masyarakat Aceh, terutama dalam bidang dakwah dan pendidikan. Oleh karena itu, kami tidak hanya memberikan bantuan materi tapi juga mendukung mereka untuk dapat kembali menjalankan peran tersebut dengan lebih baik,” ujar UBN dalam sambutannya saat penyaluran bantuan.
Setelah mengunjungi Aceh Tamiang, UBN berencana melanjutkan kunjungan ke Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Nagan Raya pada hari Sabtu (17/1/2026).
Di setiap lokasi tujuan, ia juga akan mengecek kondisi posko Laznas AQL Peduli yang telah dibentuk untuk menangani dampak bencana, serta melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah terkait program pemulihan jangka panjang bagi korban banjir. (*)



