Selasa, Januari 13, 2026
spot_img
BerandaAcehBanjir Gayo Luwes: Hampir Semua Desa Hancur di Sepanjang Alur Sungai Kuala...

Banjir Gayo Luwes: Hampir Semua Desa Hancur di Sepanjang Alur Sungai Kuala Tripa

Gayo Lues (Waspada Aceh) – Bencana banjir yang melanda sejumlah desa di sepanjang alur Sungai Kuala Tripa, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada November 2025, telah meninggalkan kerusakan yang sangat parah.

Hampir seluruh pemukiman di wilayah tersebut mengalami kehancuran, menjadikan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal dan kehilangan semua harta benda.

Relawan Yayasan Tangan Kanan, Selasa (12/1/2026), mengatakan, dua desa yang paling terdampak adalah Desa Pasir dan Desa Uyem Beriring, keduanya berada di Kecamatan Tripe Jaya. Dari total 305 rumah di Desa Pasir, hanya tersisa 30 rumah yang masih berdiri, sedangkan di Desa Uyem Beriring dari 250 rumah hanya tersisa 20 rumah.

Semua bangunan yang tersapu banjir termasuk dua sekolah dan satu pesantren yang hancur total, serta dua masjid yang tidak dapat digunakan lagi. Kedua desa ini berjarak sekitar 345 kilometer dari Kota Medan (dengan waktu tempuh sekitar 12 jam melalui Tanah Karo dan Kutacane) atau 204 kilometer arah barat dari Kota Langsa.

Selain kedua desa tersebut, dampak banjir juga menyebar ke sebagian wilayah Kecamatan Seneren, seperti Desa Kuning Kurnia dan Pantan Cuaca. Di Kecamatan Pining, hingga tanggal 11 Januari 2026, terdapat 9 desa yang masih dalam kondisi terisolir dan sulit dijangkau akses bantuan.

“Awalnya saya tidak menyangka banjir bisa mencapai skala seperti ini. Sejak 21 tahun tinggal di daerah ini, ini adalah kejadian pertama yang saya temui dengan kerusakan yang begitu parah,” ujar Aipda Julianto Pane, Kanit Binpolmas Polres Gayo Lues.

Julianto Pane juga dikenal sebagai Tuan Guru Pane dan pemilik Pesantren Ruhul A’zham di Gunyak, Sentang, Blangkejeren. Meskipun berada tepat di sisi alur sungai, pesantren yang dipimpinnya aman dari banjir.

Julianto Pane yang juga dikenal sebagai Tuan Guru Pane dan pemilik Pesantren Ruhul A’zham di Gunyak, Sentang, Blangkejeren. (Foto/Ist)

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Aceh yang diakses secara eksternal, intensitas hujan ekstrem yang terjadi selama tiga hari berturut-turut pada awal Januari 2026 menjadi penyebab utama meluapnya Sungai Kuala Tripa.

Selain itu, perluasan lahan pertanian dan pengambilan material alam di sekitar daerah aliran sungai (DAS) juga diperkirakan memperparah kekuatan arus air yang menghanyutkan segala sesuatu di jalurnya.

Warga yang selamat dari banjir mengungsi ke area perbukitan dan membangun tenda-tenda sementara sebagai tempat tinggal sementara.

“Masjid tidak bisa digunakan untuk mengungsi karena sudah hancur. Semua rumah tangga seperti hidup dari nol – tanpa alat masak, pakaian, alas tidur, makanan, rumah, kendaraan, bahkan tanpa apapun,” jelas Trisna Yusrizal, relawan Yayasan Tangan Kanan yang turut terlibat dalam pengiriman bantuan.

Menurut keterangan dari warga pengungsi, mereka telah turun temurun tinggal di pinggir sungai karena memudahkan akses air untuk kebutuhan sehari-hari. Saat ini, bantuan sporadis mulai datang dari berbagai elemen masyarakat, namun belum ada kepastian terkait rencana pemulihan dan pembangunan rumah baru bagi korban.

Yayasan Tangan Kanan sendiri mengantarkan bantuan yang berasal dari komunitas pengajian di Medan dan Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan. Bantuan yang dikirim meliputi sembako, alat tidur, pakaian, obat-obatan, perlengkapan masak, serta Alquran. Sebelumnya, komunitas Trooper Indonesia Chapter Medan yang bekerja sama dengan Yayasan Tangan Kanan juga telah mengirimkan bantuan ke daerah-daerah terdampak bencana lainnya di Aceh, seperti Takengon (Aceh Tengah), Aceh Timur, Aceh Tamiang dan juga mengirim bantuan ke Desa Ketambe, Aceh Tenggara, kabupaten yang bertetangga dengan Gayo Lues.

Rulianto Tarigan, Pimpinan Yayasan Ar-Raudlatul Hasanah Medan, menjelaskan bahwa informasi tentang bencana di Gayo Lues diperoleh melalui komunikasi antar pesantren.

“Kami berkomunikasi antar pesantren, sehingga mengetahui bencana yang dialami saudara-saudara kita di sini. Kami sekadar membawa bantuan untuk meringankan beban para korban dan memberikan dukungan moral agar mereka tetap tabah dan tawakal menghadapi cobaan ini,” ucapnya.

Pemerintah Kabupaten Gayo Lues bersama dengan pihak terkait sedang menyusun rencana pemulihan jangka pendek dan panjang bagi korban banjir. Rencana tersebut mencakup penyediaan tempat tinggal sementara yang lebih layak, pemulihan infrastruktur pendidikan dan ibadah, serta program pemberdayaan ekonomi agar masyarakat dapat kembali berdiri sendiri. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER