Aceh Tamiang (Waspada Aceh) – Hari pertama masuk sekolah tahun 2026, di Kabupaten Aceh Tamiang, berlangsung di tengah pemulihan pascabencana banjir bandang dan longsor.
Meski fasilitas belum sepenuhnya pulih, aktivitas pendidikan kembali dimulai demi memastikan anak-anak tidak kehilangan hak belajarnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti memimpin upacara hari pertama sekolah di SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Sungai Liput, Aceh Tamiang, Senin (5/1/2026). Sekolah ini merupakan salah satu yang terdampak paling parah akibat banjir bandang dan longsor pada 26 November 2025, dengan ketinggian air mencapai hingga tujuh meter.
“Prinsipnya, anak-anak harus tetap belajar. Tidak harus selalu di sekolah asal, bisa di sekolah lain, di tenda, maupun di ruang kelas darurat,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan, pembukaan kembali sekolah pascabencana juga menjadi bagian penting dari pemulihan psikososial bagi siswa.
Pantauan Waspadaaceh.com di hari pertama sekolah belum sepenuhnya diisi kegiatan belajar mengajar. Sejumlah siswa terlihat masih bergotong royong membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah bersama para guru.
Tidak semua siswa mengenakan seragam. Sebagian pakaian sekolah mereka masih terendam lumpur sejak banjir melanda.
Salah satunya Radit, siswa kelas XI SMA Negeri 4 Kejuruan Muda. Pada hari pertama sekolah, ia hanya mengenakan kaus hitam karena seragamnya belum bisa digunakan.
“Hari ini pertemuan pertama setelah libur panjang. Senang bisa ketemu teman-teman dan guru-guru,” ujar Radit singkat.
Ia mengatakan kegiatan belajar belum berlangsung penuh dan masih diisi dengan gotong royong serta arahan dari guru.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang, terdapat 459 sekolah di kabupaten tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 394 sekolah terdampak banjir bandang dan longsor, sementara 65 sekolah lainnya tidak terdampak.
Secara keseluruhan, Provinsi Aceh menjadi wilayah terdampak terbesar dengan total 2.756 sekolah atau satuan pendidikan yang terkena dampak banjir dan longsor.

Hingga awal Januari 2026, sekitar 90 persen atau 2.468 sekolah telah kembali beroperasi, 18 sekolah masih menggunakan tenda darurat, dan 288 sekolah masih dalam proses pembersihan.
Pemerintah telah menyiapkan 18 tenda sekolah darurat di Aceh, serta 46 ruang kelas darurat, dengan 32 unit di antaranya telah disalurkan dan sedang dibangun.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Muthalamuddin, mengatakan secara umum proses pembelajaran di Aceh mulai berjalan kembali. Namun, di sejumlah wilayah, terutama yang terdampak berat, pembelajaran belum dapat dilakukan secara maksimal.
Hampir 90 persen sekolah di Aceh sudah bisa melaksanakan pembelajaran. Tapi memang ada beberapa wilayah yang sempat terkendala, terutama di daerah pedalaman karena kondisi air yang masih naik-turun,” ujar Muthalamuddin.
Ia menegaskan, pihaknya telah mengeluarkan kebijakan agar siswa tidak dibebani kewajiban mengenakan seragam sekolah.
“Yang terpenting anak-anak hadir ke sekolah, bertemu guru dan teman-temannya. Ini penting untuk pemulihan psikososial mereka pascabencana,” katanya. (*)



