“Alhamdulilah ya Rab, selama ini Engkau telah memberi nikmat. Kini Engkau uji ketabahan kami. Kuatkanlah ya Malikul Mulk. Beri semangat untuk bangkit”
Di penghujung tahun 2025, ketika awan berkumpul seperti gumpalan kesedihan, Bahtiar Gayo (60 tahun) berdiri di tepi danau yang kini hanya genangan lumpur. Matanya mengintip gubuk papan tempat dia biasa istirahat, telah terendam hingga pinggul, kayu-kayu yang pernah hangat kini berlumuran kotoran alam yang marah.
“Kebun alpukat di Tetak, Dedamar, 420 batang yang sudah belajar berbuah… hancur lebur,” bisiknya, suaranya terdengar sedikit tercekik.
Tangan yang pernah memegang sekop untuk merawat tanaman kopi yang diselingi antara pohon alpukat kini hanya menggenggam udara panas yang penuh debu bencana. Warga Aceh Tengah ini menahan sedih di depan istri dan anaknya.
Ketika kabar sampai bahwa kebun masa tua di Kala Segi juga lenyap ditelan banjir bandang, nafasnya tersengal. “Perumahan saudaraku… tidak lagi berwujud rumah,” ucapnya dengan mata mulai berair.
Sawah warisan Ume Roda di Suku, Wihlah Setie, juga tak luput—lebih dari 1,5 kaleng bibit yang siap disemai kini hanya lumpur basah yang tak berguna.
Air mata Bahtiar menetes, sesak di dada membuatnya hampir tak bisa bernapas. Namun tak lama kemudian, sebuah ketenangan menyelimuti bathinnya.
Dia mengangkat wajah ke langit: “Alhamdulilah ya Rab, selama ini Engkau telah memberi nikmat. Kini Engkau uji ketabahan kami. Kuatkanlah ya Malikul Mulk. Beri semangat untuk bangkit.”
Di tengah deru angin dan genangan air, dia kumpulkan anak-anaknya. “Allah menunda rejeki kita dengan cobaanya,” katanya dengan suara teguh meskipun mata masih basah merah.
“Semuanya disapu, tinggal kenangan. Tapi kami ihklas ya Rab atas cobaan ini. Jangankan harta benda yang menjadi titipan Mu, jiwa dan raga ini juga, ketika sampai masanya, kami ikhlas,” ucap jurnalis senior ini.
Anak-anak tidak menangis lagi; mereka menunduk, lalu mengangguk. Tak lama kemudian, mereka keluar menjadi relawan, membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah. Istri Bahtiar juga bergabung, menjadi relawan pendidikan untuk anak-anak yang kehilangan sekolah.
Bahtiar tetap aktif meliput berita, mengabarkan kondisi negeri yang porak-poranda. Dia menyaksikan teman-teman kehilangan keluarga—beberapa jasad bahkan belum ditemukan.
“Sedih… siapa yang tidak sedih,” katanya saat memberi semangat kepada warga yang duduk di tenda darurat.

“Namun kita tidak boleh larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Ambillah hikmah dibalik amukan alam ini. Yang hilang, bila jasadnya tidak ditemukan, ihlaskanlah—dia sudah bersemayam ke asal muasalnya, damai dalam pelukan bumi.”
Malam itu, dia berdiri di atas tanah yang pernah subur, bersama warga yang tersisa. Suaranya bergema di antara reruntuhan: “Kita yang bertahan harus berjuang! Saat kritis sudah kita lalui, linangan air mata dalam munajat sudah kita lakukan. Yakinlah Tuhan maha mendengar jeritan hati kita.”
Bahtiar melanjutkan: “Walau tidak punya apa-apa lagi, kita masih punya Tuhan yang menuntun. Kita harus bangkit! Jangan menyerah. Tuhan menguji kita karena kita mampu menghadapinya—karena itu janji-Nya, tidak menguji di luar batas kemampuan. Kita dipilih, jadi kita bangkit!”
Langit mulai memancarkan sinar fajar tipis di ufuk Timur. Bahtiar menatap tanah yang kini tandus, namun dalam hatinya, dia merasakan benih harapan mulai tumbuh—tanah yang berdoa, menunggu untuk disulap kembali menjadi tempat kehidupan di kemudian hari.
Kondisi Terkini Gayo
Mengutip berbagai sumber, memasuki awal tahun 2026, dataran tinggi Gayo masih memancarkan bekas luka alam yang dahsyat. Berdasarkan laporan terbaru, bencana di dataran tinggi Gayo menelan 12 korban jiwa dan 8 orang masih hilang, dengan ribuan warga mengungsi ke tenda darurat.
Infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan penghubung di beberapa daerah amblas total, tertutup lumpur dan bebatuan besar, sementara rumah serta kebun yang menjadi tulang punggung ekonomi serta sawah lenyap diterjang lumpur dan air bah.
Meskipun menghadapi kehancuran material, realitas sosial yang memukau muncul dari tengah derita: ketangguhan masyarakat Gayo yang tetap menjaga martabat dan kemandirian. Warga tidak hanya menunggu bantuan eksternal tetapi secara mandiri membersihkan reruntuhan, membangun tempat tinggal sementara dari bahan yang tersedia, dan saling berbagi makanan serta kebutuhan dasar.
Nilai kebersamaan terwujud dalam bentuk relawan lokal. Mereka mengambil hikmah dari bencana, mencerminkan semangat kolektif bahwa meskipun tanah kini tandus, benih harapan telah tumbuh untuk membangun kembali dataran tinggi Gayo. (*)



