Jumat, Januari 2, 2026
spot_img
BerandaAcehDi Tengah Deru Bencana Aceh, Bukit Soeharto, Lamreh, Hingga Pantai Lampuuk Tetap...

Di Tengah Deru Bencana Aceh, Bukit Soeharto, Lamreh, Hingga Pantai Lampuuk Tetap Favorit di Penutup Tahun

Udara sejuk berhembus melalui pepohonan lebat, dan warung-warung sederhana sekitar menyediakan kopi dan makanan dengan harga terjangkau.

Di tengah deru badai dan bayangan bencana yang masih menggelayuti sebagian wilayah Aceh, ada kilauan harapan yang terpancar dari bukit dan pantai di Banda Aceh serta Aceh Besar.

BMKG memang telah memperingatkan cuaca ekstrem hingga awal 2026 dengan potensi banjir dan longsor yang melanda 11 kabupaten kota yang masih dalam status tanggap darurat. Seolah menentang hiruk pikuk musibah, objek wisata seperti Bukit Soeharto, Bukit Lamreh, Pantai Lampuuk, dan Pantai Lhoknga tetap menjadi magnet bagi warga yang mencari kedamaian di ujung tahun 2025.

Libur panjang mulai 22 Desember 2025 hingga awal Januari 2026, bersamaan dengan akhir semester sekolah, menjadikan kawasan ini ramai dikunjungi. Pantai Lampuuk dan Lhoknga, dengan pasir putih yang seperti karpet alami dan air laut yang bergantian antara warna hijau muda dan biru tua, menawarkan pilihan wisata sesuai dengan kantong dan keinginan.

Seperti yang digambarkan dalam cerpen Mentari Senja di Pantai Lhoknga, senja di sini adalah palet warna yang hidup—merah keemasan menyelimuti langit, sementara ombak berdebur sebagai irama alam.

Di Mon Ikeun, Lhoknga, Maha Corner berdiri sebagai destinasi ekslusif, menyuguhkan panorama laut dan aneka makanan lezat, dengan biaya masuk hanya Rp3.000/orang dan parkir gratis di pinggir pantai.

“Ada Maha Corner, Lepas Senja, dan Moon Beach. Air jernih, panorama sunset estetik untuk foto bersama keluarga,” ujar A Rizaldi, warga Emperom Banda Aceh.

Ke arah timur, Bukit Lamreh mengundang dengan tebing-tebingnya yang menjulang dan ombak yang memukul pantai di bawahnya.

Tempat ini menjadi surga bagi pencinta matahari terbit, sementara Bukit Soeharto—meskipun namanya juga terdapat di Kalimantan Timur sebagai taman hutan raya—menawarkan pemandangan kota Banda Aceh dan aktivitas Pelabuhan Malahayati yang terlihat jelas dari atas.

Udara sejuk berhembus melalui pepohonan lebat, dan warung-warung sederhana sekitar menyediakan kopi dan makanan dengan harga terjangkau.

“Untuk dua gelas kopi panas, tiga gelas teh hijau dingin, dan tiga es kelapa muda besar, hanya Rp65.000,” cerita Fitri, wisatawan dari Medan, yang juga menyatakan bahwa lokasi ini cocok untuk berkemah, meskipun saat ini dilarang karena bencana.

Meskipun pemerintah dan perkantoran mulai beraktivitas normal pada 2 Januari 2026, diperkirakan objek wisata ini akan tetap ramai hingga sebelum sekolah mulai pada 5 Januari.

Fenomena ini tidak hanya mencerminkan keindahan alam Aceh, tetapi juga semangat ketangguhan masyarakat yang, seperti yang disimbolkan oleh Museum Tsunami Aceh, mampu bangkit dari kehancuran dan menemukan harapan dalam keindahan alam.

Dengan target kunjungan wisatawan 10 juta pada tahun 2025, sektor pariwisata Aceh terus berkembang meskipun menghadapi tantangan bencana, membuktikan bahwa alam dan semangat manusia dapat bersatu sebagai daya tarik yang tak tergantikan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER