“Irma! Rian! Dedi!” teriakku, suaraku memecah malam yang sunyi. “Kalian di mana?” Tidak ada jawaban. Hanya bunyi lumpur yang masih bergulir dari bukit.
Desa Aek Manis, Sibolga Selatan. Tempat di mana pohon rambutan di halaman rumahku pernah menyaksikan tawa Irma yang ceria. Di mana anakku sulung, Rian, pernah berlari mengejar kupu-kupu di sawah. Di mana adik-adikku sering berkumpul untuk makan bubur pagi.
“Sekarang, semua itu hanya bayangan di mata yang selalu basah. Semua menjadi saksi bisu kehilangan paling kelam dalam hidupku,” kata Doris, pria 33 tahun yang tiba-tiba kehilangan segalanya dalam sekejap.
Malam itu, Jumat 25 November 2025. Udara sejuk menyelimuti rumah bambu kami. Irma Yani Marbun, istriku yang sedang mengandung lima bulan, duduk di kursi kayu di teras, memegang selimut tipis di pinggangnya. Matanya yang cerah seperti bintang sore terlihat tenang, meskipun aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya saat aku menghampirinya.
Dia tersenyum kecil—senyum yang selalu membuat hatiku meleleh, senyum yang kini aku ingat seolah-olah itu adalah senyum perpisahan.
“Pergilah shalat, Yang,” katanya dengan suaranya yang lembut seperti angin pagi.
Kalimat sederhana itu, seolah tidak ada arti apa-apa pada saat itu. Aku mengusap pipinya, mencium dahinya yang lembut. “Sebentar, sayang. Nanti aku bawa kamu minum teh hangat ya?”
Tetapi matanya berkilat dengan nada yang tak bisa aku pahami. “Pergilah saja, Yang. Segera.”
Aku mengangguk, tak berpikir panjang. Mungkin dia merasa lelah, atau mungkin dia ingin aku cepat kembali. Aku mengambil peciku, melangkah keluar dari rumah, menuju masjid yang hanya berjarak lima ratus meter dari tempat kami tinggal.
Langkahku ringan, pikiranku penuh dengan rencana besok—membeli buah untuk Irma, bermain dengan Rian, dan mengajak adik-adikku pergi ke sungai.
Shalat Maghrib baru selesai. Aku masih berdiri di halaman masjid, berbicara sebentar dengan pak imam, ketika semuanya tiba-tiba berguncang. Getaran dahsyat yang membuat kaki-kaki tergelincir, yang membuat atap masjid bergoyang, yang membuat bumi seolah ingin melemparkan segala yang ada di atasnya. “Tanah longsor!” teriak seseorang. “Dari bukit!”
Aku memalingkan wajah. Dari arah bukit yang menjulang di belakang desa, gunungan tanah raksasa meluncur turun dengan kecepatan yang mengerikan. Lumpur, batu, dan pohon tercopot bergulir deras, menelan segala yang menghalangi—sawah, pohon, dan… rumahku.
Aku segera menuju rumah. Rumahku yang penuh dengan orang-orang yang kucintai. Tapi kakiku langsung lemas. Aku terjatuh di tanah, mata memandang dengan tak percaya. Rumah bambu kami hilang dalam sekejap, tertutup rapat oleh tumpukan lumpur yang tebal.
Suara teriakan, tangisan, dan kebingungan memenuhi udara, dari orang-,orang sekitar. Tapi aku tidak mendengar apa-apa. Hanya ada satu bunyi di telingaku: bunyi jantungku yang berdebar kencang, seolah ingin meledak.
Di bawah timbunan itu, ada enam jiwa yang kucintai. Irma yang sedang mengandung, Rian yang baru berusia empat tahun, dan tiga adikku—Dedi, Siti, dan Anton. Semuanya. Hilang.
Aku berdiri terpaku sejenak, kemudian melesat menuju gundukan tanah, tempat rumahku dulunya. Lumpur menyelimuti kakiku, bahkan mencapai pinggangku, tetapi aku tidak peduli. Aku menggali dengan tangan telanjang, mencoba menemukan celah-celah di antara tumpukan lumpur dan batu.
“Irma! Rian! Dedi!” teriakku, suaraku memecah malam yang sunyi. “Kalian di mana?” Tidak ada jawaban. Hanya bunyi lumpur yang masih bergulir dari bukit.
Pagi harinya tiba, dan aku masih di situ. Orang-orang desa mulai berkumpul, membawa cangkul dan sekop, tetapi aku menolak ketika mereka menawarkan bantuanku. Aku ingin menggali sendiri—aku takut orang lain akan menyentuh mereka dengan kasar, takut aku akan ketinggalan saat mereka ditemukan.
Jari-jariku terluka, berdarah. Kulitnya lepas, tergores oleh batu yang tajam. Tapi rasa sakit itu tak berarti apa-apa dibandingkan keinginan yang membara di hatiku: ingin memeluk mereka lagi, ingin mendengar suaranya, ingin melihat senyum Irma sekali lagi.
Hari berganti hari. Ketika jasad-jasad itu satu per satu ditemukan, aku merasa dunia runtuh untuk kedua kalinya. Pertama, Rian—badannya kecil tertutup lumpur, matanya tertutup rapat. Kemudian Dedi, kemudian Siti, kemudian Anton. Dan terakhir, Irma. Jasadnya masih memegang baju Rian di tangannya, perutnya yang mengandung masih terlihat sedikit membengkak.
Aku melihat enam kantong jenazah berderet di depan mata, dan rasanya jantungku dicengkeram dan diremas hingga tak bersisa. Air mata sudah habis, digantikan oleh rasa sakit yang begitu dalam, seolah-olah jiwaku juga telah terbawa pergi bersama mereka.
Aku kira rasa sakitku sudah mencapai batas. Namun, takdir memiliki cara sendiri untuk menguji aku. Di tengah duka yang tak terperikan, aku harus berhadapan dengan petugas yang membawa tagihan administrasi untuk biaya pemulasaraan jenazah. Aku berdiri di sana, telanjang dada jiwa—tidak ada rumah, tidak ada keluarga, tidak ada harta. Hanya pakaian yang kusandang dan memori yang menyakiti.
“Maaf, mas,” katanya dengan nada yang datar. “Biayanya harus dibayar hari ini.”
Aku memandangnya, mulutku tertekan. Aku ingin marah. Ingin meneriakkan pada dunia betapa tidak adil semuanya. Tetapi kemudian, aku mendengar suara Irma di dalam pikiranku: “Pergilah shalat, Yang.” Kalimat itu yang menyelamatkan nyawaku. Kalimat itu yang adalah doa terakhirnya untukku.
Dalam kehampaan itu, aku memilih untuk tidak menyerah pada amarah. Aku memilih untuk fokus pada kebesaran hati yang diwariskan oleh orang-orang yang kucintai. Irma yang selalu sabar, Rian yang selalu ceria, adik-adikku yang selalu setia. Mereka tidak akan ingin melihatku terjatuh. Mereka ingin aku tetap berdiri tegak, demi kehormatan mereka.
Kini aku sendiri. Setiap pagi, aku bangkit dari tempat tidur yang kuhuni di masjid, tubuhku rapuh, dada ku sesak. Tapi aku berusaha bangkit. Aku membantu warga desa membersihkan puing, aku mengajar anak-anak kecil di masjid, aku berusaha menjalani hari-hari seperti biasa. Karena aku tahu, Irma ingin aku tetap hidup. Anakku dan adik-adikku ingin aku terus berjalan.
Aku membawa mereka dalam setiap langkahku, dalam setiap napas, dan dalam setiap doa. Mereka telah beristirahat di tempat terbaik, di sisi-Nya yang penuh kasih. Tugasku kini adalah menjadi saksi abadi dari cinta mereka—cinta yang takkan pernah terkubur, bahkan oleh tumpukan lumpur terbesar di dunia.
Seandainya aku menunda sholat itu satu menit saja, mungkin aku sudah menyusul mereka. Tapi aku percaya, aku selamat bukan karena kebetulan. Itu adalah titah terakhir Irma, doa penyelamat yang ia kirimkan sebelum kami dipisahkan oleh takdir. Kalimat yang sederhana, tetapi penuh makna—makna yang aku akan bawa sepanjang hidupku.
Semoga luka ini suatu hari nanti sembuh, dan yang tersisa hanyalah kekuatan yang mereka berikan. Cepatlah pulih, Indonesiaku. Cepatlah pulih, desa ku yang tercinta.
Di balik setiap musibah, selalu ada hati yang tegar, cinta yang abadi, dan kita—yang dipilih untuk tetap hidup, untuk menceritakan cerita mereka. (*)
- Cerita ini dikutip dari salah satu grup WhatsApp.



