“Sampai hari ini beras belum datang lagi. Ada kabar sembako numpuk di bandara, tapi kami nggak tahu kapan dibagi”
Sudah 15 hari terjebak tanpa akses, Roman Sani (37) akhirnya nekat berjalan kaki 6 jam pergi-pulang menembus jalur longsor hanya untuk membeli beras. “Kalau nggak gini, kami nggak makan,” kata warga Desa Tawar Sedenge, Bener Meriah, itu.
Sejak banjir bandang dan longsor memutus total akses Bener Meriah pada 26 November lalu, kehidupan warga berubah drastis. Jalan nasional amblas, jembatan hanyut, dan pasokan makanan hilang dari pasar.
Kebutuhan pangan semakin langka. Roman mengatakan sejumlah toko di desanya sudah kosong, baik beras, minyak goreng, maupun LPG. Toko kelontong tutup, grosir pun benar-benar tidak memiliki stok.
Ia menambahkan, bantuan memang sempat diberikan sekitar satu minggu lalu, tetapi jumlahnya sangat terbatas. “Hanya 1 sampai 1,2 kilo beras per KK. Setelah itu, nggak ada lagi,” ujarnya.
Kelangkaan BBM ikut menjerat warga. SPBU di sekitar kosong sejak hari pertama akses putus. Harga di eceran melonjak.
“Pernah dijual Rp80 sampai Rp110 ribu per liter,” kata Roman kepada Waspadaaceh.com, Rabu (10/12/2025).
Karena itu ia menempuh jalur ekstrem ke perbatasan Aceh Utara berjalan kaki sekira 3 jam sekali jalan, dan 3 jam jalan pulang, melewati tebing licin dan tanah runtuh untuk mencari solar dan pertalite.
“Alhamdulillah dapat Rp35–Rp40 ribu per liter. Tapi tetap berat buat kami,” ucapnya.

Roman mengatakan komunikasi juga sangat sulit. Jaringan seluler nyaris tidak ada, sementara internet hanya bisa diakses di titik-titik tertentu.
“Jaringan susah sekali. Starlink kabarnya cuma ada di kantor bupati, itu pun susah juga,” ujarnya.
Beras Jadi Barang Mewah
Beras pun menjadi barang langka. Di perbatasan, Roman membeli 15 kg beras seharga Rp250 ribu. Untuk 5 kg, harga termurah Rp110 ribu.
“Kalau ada pasar murah dari pemerintah atau swasta, pasti diserbu,” katanya.
Roman yang sehari-hari bertani kopi kini kehilangan penghasilan. Kebunnya rusak, akses tertutup, dan pesanan biji kopi yang sudah masuk tak bisa dikirim.
“Semua gagal. Ini pukulan berat buat kami petani,” ujarnya.
Menurut Roman, sebagian warga kini menggunakan cara apa pun agar dapur tetap mengepul. “Bahkan ada petani yang rela tukar kopi dengan beras. Apa saja dilakukan supaya keluarga tetap bisa makan,” katanya
Sejumlah petani di Kabupaten Bener Meriah kini terpaksa menukarkan hasil kebun mereka seperti kopi demi mendapatkan beras, sembako, hingga BBM untuk bertahan hidup setelah banjir bandang memutus akses sejak 27 November lalu.

Roman mengatakan kondisi di lapangan jauh parah dengan narasi yang beredar di media sosial.
“Sampai hari ini beras belum datang lagi. Ada kabar sembako numpuk di bandara, tapi kami nggak tahu kapan dibagi,” ujarnya.
Dia mengatakan, sejumlah kecamatan seperti Mesidah, Syiah Utama, Pintu Rime Gayo, Gajah Putih, Permata, dan Timang Gajah masih belum bisa dijangkau kendaraan karena akses ambruk total.
Ia menyebut dua hari kedepan beredar kabar bahwa jalur untuk kendaraan roda dua mulai bisa ditembus.
Roman menegaskan warga bukan ingin mengeluh, tetapi bertahan hidup.
“Kami bukan nggak sabar, kami lapar,” tegasnya.
Ia khawatir masa depan masyarakat Gayo akan semakin terpuruk bila perbaikan akses tidak segera dilakukan. (*)



