Minggu, November 30, 2025
spot_img
BerandaAcehLangsa Bagai Kota Mati, Jeritan yang Tak Terdengar

Langsa Bagai Kota Mati, Jeritan yang Tak Terdengar

Langsa (Waspada Aceh) – Kota yang seharusnya gemerlap dengan aktivitas ekonomi dan sosial, kini bagai kota mati. Banjir yang menerjang sejak Selasa (25/11/2025) telah mengisolasi Langsa, memutusnya dari dunia luar.

Empat hari berlalu, dan kota ini masih terendam dalam nestapa, sebagian besar tanpa listrik, internet, sinyal seluler, apalagi uluran tangan bantuan. Nyaris tidak terlihat kehadiran negara dalam kondisi ini.

Puluhan ribu jiwa terperangkap di kota yang kini menjadi “penjara sunyi”. Akses darat lumpuh total, baik dari arah Aceh Tamiang maupun Aceh Timur. SPBU yang tersisa hanya satu, dua, dengan antrean mengular hingga satu kilometer, menjadi saksi bisu kepanikan warga yang berebut setetes bahan bakar.

Ironisnya, di tengah krisis ini, bantuan tak kunjung tiba. Warga Langsa kini menggenggam nestapa tanpa uang tunai, karena bank dan ATM mati suri. Bank Aceh Syariah, yang seharusnya menjadi harapan warga dalam kondisi kesulitan, justru tak memberikan layanan yang mumpuni di kota ini.

Rizal, seorang warga mengungkapkan kekecewaannya. “Telkom nol besar, apalagi Telkomsel. Bank Aceh juga tidak ada. Pemerintah tidak ada,” ujarnya dengan nada geram.

Masyarakat ramai-ramai memanfaatkan jaringan internet yang disediakan oleh salah satu kafe di Langsa, Minggu (30/11/2025). (Foto/Abdullah)

Ia mempertanyakan keberadaan pemerintah daerah, BNPB, bahkan Presiden, yang seolah menutup mata terhadap penderitaan mereka.

Lumpur setinggi sekitar 10 – 20 Cm yang menggenangi rumah dan halaman warga dibersihkan dengan tangan kosong, tanpa bantuan alat berat atau relawan. Uang tunai tak berarti lagi, karena tak ada cara untuk mengaksesnya.

“Bank Aceh itu bank lokal, minimal dia menyediakan offline orang mau ambil duit. Ini tidak ada sama sekali. Kacau disini,” keluhnya.

Di tengah keterbatasan, warga terpaksa membayar mahal demi secercah harapan. Sebuah kafe menjadi satu-satunya tempat untuk mendapatkan akses internet dan listrik, agar bisa memberi kabar kepada keluarga yang cemas. Namun, akses ini pun harus ditebus dengan antrean panjang dan sedikit biaya.

Beberapa jurnalis dan warga setempat, banyak juga yang mendapat bantuan mengakses jaringan internet melalui kapal Bea Cukai di Bandara Kuala Langsa. Kapal Bea Cukai ini membantu warga untuk bisa menyampaikan informasi kepada kerabatnya di luar Langsa yang sudah berhari-hari tidak mendapat kabar.

“Ini demi kemanusiaan. Alhamdulillah melalui jaringa internet di kapal ini kami bisa membantu warga untuk berkomunikasi dengan keluarganya di luar kota Langsa,” kata Komandan Patroli Bea Cukai Langsa, Budi Irawan.

Memasuki hari kelima, kesabaran warga mulai menipis. Rahmat, warga Langsa, khawatir masyarakat akan marah. Seperti yang terjadi dua hari lalu, terjadi penjarahan mini market demi mendapatkan makanan karena bantuan tak kunjung datang.

Ia mempertanyakan upaya BNPB, BPBA, Pemerintah Aceh, dan pemerintah pusat untuk membuka akses ke kota yang terisolasi ini.

“Tolonglah, kami. Kami juga manusia yang perlu makanan, minuman dan obat-obatan,” pintanya.

“Tidak ada apapun, helikopter tidak ada. Apapun tidak ada,” ujarnya dengan nada putus asa. Ia dan beberapa warga lainnya terpaksa menumpang internet dari kapal Bea Cukai Langsa, demi menyampaikan jeritan mereka ke dunia luar. Sukur kapal Bea Cukai di Pelabuhan Kuala Langsa membantu warga memberi akses internet melalui perangkat satelit yang tersedia di kapal ini.

Langsa, kota mati di ujung Aceh, kini menunggu uluran tangan. Akankah jeritan mereka didengar? (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER