Perlahan namun pasti, berkat dukungan lembaga sosial, pemerintah, TNI, dan Polri, masjid kembali terbuka. Meski belum sempurna, salat berjemaah kembali terdengar di sana.
Aceh Utara (Waspada Aceh) – Empat kali Jumat, jemaah Masjid Jamik Al Izzah Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, harus menunaikan ibadah di meunasah (musala) di desa itu. Bukan karena lalai, tetapi karena jalan menuju masjid terhalang lumpur tebal yang ditinggalkan banjir akhir November 2025. Air naik hingga dua meter, merendam Al-Qur’an, buku-buku, pengeras suara, kipas angin, dan fasilitas di dalamnya.
“Sempat sekitar empat Jumat kita tidak bisa melaksanakan salat Jumat karena semuanya tergenang, berlumpur, dan kotor,” kenang TGK Azhar Hasni, penasihat masjid, suaranya lembut.
Namun, iman tak pernah benar-benar terendam lumpur. Di saat yang sama rumah-rumah mereka juga tertimpa musibah. Tapi warga Gampong Cot Seurani dan Keude Mane justru memilih mendahulukan rumah ibadah.
“Semua kita terdampak, jadi kita fokuskan terutama kepada tempat-tempat ibadah. Itu swadaya masyarakat sebelum datang bantuan dari pemerintah,” ujar Keuchik Cot Seurani, Azman Abdul Wahid.
Ketua Satuan Tugas Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Kasatgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, mengingatkan, “Kegiatannya nggak boleh dikurangi karena akan berdampak ke masyarakat.”
Menurut Tito, pemulihan rumah ibadah menjadi perhatian serius pemerintah karena berperan penting dalam mengembalikan semangat dan ketenangan masyarakat pascabencana. Dalam pertemuan pemaparan program pemulihan bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah di ruang rapat Kemendagri, Rabu (21/10/2026), Tito meminta setiap kementerian/lembaga tetap menjalankan kegiatan sesuai sasaran yang telah ditetapkan.
Selama sebulan penuh, warga bahu-membahu mengangkat lumpur yang tebalnya memerlukan bantuan alat berat untuk tuntas bersih. Kamaruddin, salah seorang warga, mengenang kehangatan kebersamaan itu.
“Atas inisiatif para jemaah dan pengurus masjid, kita sama-sama bergotong royong membersihkan lumpur yang menggenang di dalam masjid.”

Pemulihan yang Bertahap
Perlahan namun pasti, berkat dukungan lembaga sosial, pemerintah, TNI, dan Polri, masjid kembali terbuka. Meski belum sempurna, salat berjemaah kembali terdengar di sana. Remaja masjid pun terlibat aktif, bukan hanya saat membersihkan, tetapi juga berjanji menjaga fasilitas yang akan datang.
“Kita ikut memelihara seluruh fasilitas yang telah diberikan sehingga bantuan ini betul-betul bermanfaat dalam jangka waktu lama,” harap Azhar.
Kini, di bawah naungan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi yang ditangani Kementerian Pekerjaan Umum melalui PT Waskita Karya, Masjid Jamik Al Izzah dibangun kembali.
Pekerjaan senilai sekitar Rp900 juta itu mencakup perbaikan atap, plafon, dinding, penataan batas suci, hingga penyempurnaan instalasi air. Progres telah mencapai 50 persen dan ditargetkan selesai pertengahan November 2026.

“Alhamdulillah, bantuan sekarang ini sangat bermanfaat karena membuat jemaah lebih nyaman,” ungkap Azman dengan wajah tenang. Kegiatan ibadah kini tetap berjalan di ruang yang aman, sementara perbaikan dilakukan di bagian lain bangunan.
Namun, kebutuhan belum sepenuhnya tuntas. Tempat wudu yang telah berusia sekitar 50 tahun masih menanti perbaikan. Halaman yang berdebu juga berharap penataan agar ketenangan beribadah tak terusik debu yang berhembus masuk ruang salat.
Kisah Al Izzah adalah satu dari ribuan kisah pemulihan yang terjadi di tiga provinsi Sumatera terdampak bencana. Laporan Satgas PRR per 22 Oktober 2026 mencatat, dari 1.593 rumah ibadah yang terdampak, sebanyak 1.558 unit atau sekitar 97,8 persen telah kembali beroperasi.
Aceh mencatat jumlah terdampak terbesar, yaitu 918 rumah ibadah. Dari jumlah itu, 906 unit (98,7 persen) sudah dapat digunakan kembali, menyisakan 12 masjid dan musala yang masih dalam proses pemulihan. Di Sumatera Utara, 552 dari 571 unit telah berfungsi, dan di Sumatera Barat, 100 dari 104 unit kembali melayani jemaahnya.
Pemulihan ini berjalan melalui sinergi lintas kementerian. Kementerian Agama telah menyalurkan bantuan tahap I sebesar Rp3,75 miliar untuk 85 rumah ibadah di Aceh, dan pada tahap II menambah alokasi Rp11,628 miliar bagi 306 masjid dan musala di wilayah terdampak. Sementara Kementerian PUPR menangani pemulihan yang lebih besar, mencakup 984 masjid dan meunasah, selain 207 madrasah dan 68 pondok pesantren di seluruh Aceh.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan, pemulihan sarana keagamaan adalah bagian tak terpisahkan dari pemulihan kehidupan masyarakat. Menurut Azhari, rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas keagamaan pascabencana dilakukan melalui kerja sama lintas lembaga. Penanganan tersebut diharapkan mempercepat kembalinya layanan pendidikan dan keagamaan bagi masyarakat.
Masjid Jamik Al Izzah belum selesai seluruhnya. Namun yang terpenting telah pulih: jemaah kembali melangkah ke sana setiap waktu salat. Bagi warga Cot Seurani, masjid bukan sekadar bangunan batu dan semen. Ia adalah jantung kehidupan sosial dan spiritual mereka. Ketika lumpur datang, mereka membersihkannya bersama. Ketika bantuan datang, mereka menjaganya bersama.
Di ujung perjalanan pemulihan ini, satu hal yang lebih tinggi dari menara masjid: keyakinan bahwa apa pun yang dirusak bencana, persaudaraan dan kebersamaan, itulah fondasi yang tak pernah bisa terguncang. (*)



