Sebelum jembatan ini ada, Ayu harus memutar jauh lewat Blang Teurakan. Perjalanannya kini hanya 20 menit, dulu memakan waktu hingga 50 menit.
Aceh Utara (Waspada Aceh) – Udara pagi menyapa Gampong Lhok Gajah, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Di tepian sungai yang dulu memisahkan warga dari pusat kecamatan, kini berdiri Jembatan Perintis Garuda III yang sederhana, melintas tenang di atas arus deras. Jembatan gantung perintis ini disebut panjangnya 97 meter dan lebar 2,4 meter.
Bagi Ayu Resya (14), pelajar SMK yang tinggal di pinggiran sungai itu, jembatan ini bukan sekadar tumpukan papan dan kawat. Ia adalah jalan pulang yang lebih pendek, waktu istirahat yang lebih panjang, dan senyum lebar setiap pagi saat melangkah menuju sekolah.
“Rasanya senang, soalnya kalau ke sekolah makin dekat,” ujar Ayu dengan wajah berseri.Â
Sebelum jembatan ini ada, Ayu harus memutar jauh lewat Blang Teurakan. Perjalanannya kini hanya 20 menit, dulu memakan waktu hingga 50 menit. Setiap pagi ia harus bangun lebih awal, bergegas di jalan yang berliku, khawatir terlambat masuk kelas. Kini, waktu yang terpulihkan itu terasa seperti anugerah kecil yang berharga.
Pengalaman serupa dirasakan Jumilatil Asia, guru di SDN 7 Sawang. Dulu, menuju sekolah memerlukan waktu sekitar satu jam karena harus memutar lewat Kabupaten Bireuen. Kini perjalanannya cukup 20 menit.Â
Meski begitu, ia tak sepenuhnya tenang setiap kali melintas. “Sangat bermanfaat. Tapi kami harapkan sekarang ada jembatan yang lebih layak lagi,” katanya lembut.Â
Jembatan sementara ini memang bisa dilewati sepeda motor, namun harus hati-hati, terutama bagi anak-anak yang melintas sendirian.Â
Cerita putusnya jembatan yang terjadi pada akhir November 2025 masih membekas di ingatan warga. Marzan Safri, Keuchik Lhok Gajah, mengenang bagaimana kehidupan seakan terhenti sementara. Jalan menuju kecamatan terputus.Â

di Gampong Lhok Gajah, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, ini cukup membantu konektivas antar warga setempat. (Foto: Tim Media Satgas PRR)
Anak-anak ketika itu sulit berangkat sekolah, petani tak bisa membawa hasil panen ke pasar, dan warga yang sakit harus menempuh perjalanan berputar jauh demi mendapatkan pertolongan medis.
“Dulu ke kecamatan cukup 15–20 menit. Saat jembatan putus, kami harus lewat Bireuen dulu, baru ke Muara Batu, lalu ke Sawang. Satu jam lebih baru sampai. Untuk ke rumah sakit, ke sekolah, ke kebun, aktivitas kami benar-benar terhambat,” kenang Marzan.
Kehadiran jembatan yang dibangun TNI bersama masyarakat mengubah segalanya. Sekarang sepeda motor sudah bisa menyeberang. Mahyedin, warga dari seberang sungai di Teupin Siron, bersyukur perjalanannya kini jauh lebih mudah. Namun keterbatasan tetap ada: mobil belum bisa melintas.Â
Hasil panen masih sulit diangkut ke pasar. Jika ada warga yang butuh dilarikan ke rumah sakit, ambulan belum bisa menyeberang.
“Kami cukup berterima kasih. Jembatan ini sudah sangat membantu. Tapi kami berharap ada jembatan permanen yang bisa dilewati mobil. Biarpun bukan rangka baja, yang penting kendaraan roda empat bisa lewat,” ujar Marzan mewakili harapan warga.
Jumilatil Asia pun menyampaikan hal serupa. “Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo yang memberikan jembatan ini untuk sementara. Tapi yang kami harapkan, mendapatkan jembatan yang lebih layak lagi,” ucapnya tulus.
Data Kementerian PU per 18 Oktober, dalam laporan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Aceh bertanggal 19 Oktober 2026, mencatat 44 dari 73 sasaran penanganan jembatan di Aceh Utara telah selesai. Rinciannya, dua jembatan kategori penanganan pusat dan 42 kategori daerah. Sebanyak 29 lainnya masih diproses. Sebanyak 29 lainnya masih diproses.
Pada tingkat provinsi, terdapat 678 sasaran, dengan 221 selesai dan 457 masih dalam proses. Sementara itu, laporan harian mencatat 409 jembatan sudah fungsional, terdiri atas 23 jembatan nasional dan 386 jembatan daerah.

di Gampong Lhok Gajah, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, ini cukup membantu konektivas antar warga setempat. (Foto: Tim Media Satgas PRR)
TNI AD turut memulihkan penyeberangan melalui pembangunan Bailey, Armco, dan jembatan perintis. Laporan harian Satgas PRR menyebut penanganan di Aceh mencakup 48 Bailey selesai dan 12 dalam proses, 137 Armco selesai, serta 69 jembatan perintis selesai dengan 50 lainnya masih dikerjakan.
Penyeberangan Gampong Teungoh, Sawang, menuju Blang Gurun, Gandapura, Bireuen, juga dipulihkan melalui Jembatan Gantung Garuda. Dibangun Yonzipur 5/ABW dan Yonzipur 17/AD. Fasilitas tersebut diresmikan pada 24 Februari 2026 dengan uji lintas sepeda motor serta pejalan kaki.Â
Pada tingkat provinsi, terdapat 678 sasaran, dengan 221 selesai dan 457 masih dalam proses. Sementara itu, laporan harian mencatat 409 jembatan sudah fungsional, terdiri atas 23 jembatan nasional dan 386 jembatan daerah.
Di seluruh Aceh, 409 jembatan sudah kembali berfungsi. Di Sawang sendiri, Jembatan Keude Sawang yang dibangun sebagai jembatan perintis kini mencapai progres 61–70 persen, sementara jembatan Bailey Sawang sedang dalam tahap pengerjaan awal.Â
Bantuan ini bukan sekadar angka di laporan, ia adalah langkah kaki anak-anak menuju masa depan. Senyum petani yang bisa menjual hasil kebunnya, dan kelegaan hati warga yang tak lagi terpisah dari dunia luar.
Ayu Resya melangkah menyeberang jembatan itu pagi ini dengan langkah lebih ringan. Ia tahu, jembatan ini belum sempurna. Tapi ia juga tahu: jalan yang terbuka hari ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Harapan bahwa suatu hari nanti, di tepian sungai ini akan berdiri jembatan yang kokoh, aman, dan membawa mereka lebih jauh lagi.Â
Dan sampai saat itu tiba, jembatan sederhana ini sudah cukup menjadi simbol: bahwa mereka tidak dilupakan, dan perjalanan mereka terus berlanjut. (*)



