BerandaAcehJejak Lumpur Tersapu Kebahagiaan Murid TK Negeri Pembina Dewantara

Jejak Lumpur Tersapu Kebahagiaan Murid TK Negeri Pembina Dewantara

Di ruang kelas yang nyaman, suara tawa dan cerita anak-anak kembali terdengar, lebih lantang dari deru air banjir yang dulu pernah datang

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Beberapa pekan setelah bencana banjir bandang pada akhir November 2025, lumpur tebal menyelimuti lantai dan dinding TK Negeri Pembina Dewantara di Gampong Bangkajaya, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

Ketika air banjir setinggi lebih dari satu meter perlahan surut pada akhir 2025, yang tersisa bukan sekadar genangan, melainkan puing-puing perlengkapan belajar, buku yang tak lagi layak pakai, kursi yang hanyut, dan wajah-wajah kecil yang tak bisa masuk ke sekolah. Namun dari sisa-sisa kerusakan itu, kini tumbuh kembali harapan, dibangun di atas fondasi yang lebih tinggi dan kokoh.

Sri Mulyana, Kepala TK Negeri Pembina Dewantara, masih teringat jelas hari-hari pascabanjir itu. “Dibilang parah, ya parah, karena kena lumpur,” ucapnya. Bangunan sekolah memang masih berdiri kokoh, tetapi isinya nyaris hancur.

Buku-buku basah sempat dijemur berharap bisa diselamatkan, namun usaha itu sia-sia. Banyak perlengkapan belajar rusak permanen, sebagian permainan anak hanyut terbawa arus, dan pagar bagian belakang tumbang sepenuhnya.

Kesulitan tak berhenti di sekolah saja. Rumah sejumlah guru juga ikut terdampak banjir, sehingga mereka harus membagi waktu antara memulihkan rumah dan menata kembali sekolah. Akses menuju sekolah pun terputus. Sri yang berdomisili di Kabupaten Bireuen harus menempuh perjalanan melintasi Kutablang yang tergenang air, belum tentu bisa ia dilewati setiap hari.

Namun semangat tak pernah surut. Pembersihan dilakukan secara gotong-royong, guru, orang tua murid, perangkat gampong, dan warga. Mereka bahu-membahu menyapu lumpur, mengangkat barang rusak, dan mencuci lantai. Sekitar dua pekan setelah air surut, anak-anak mulai kembali bersekolah, meski ruang belajar belum benar-benar layak.

Suasana anak-anak di dalam kelas TK Negeri Pembina Dewantara, Gampong Bangkajaya, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara. (Foto: Tim Media Satgas PRR)

Belajar di Ruang yang Terbatas

Putri Mawadda, seorang wali murid, menceritakan anaknya tak bersekolah selama sebulan penuh, kemudian disambung masa libur semester. Kembalinya kegiatan belajar belum berarti persoalan selesai. Dinding masih menampakkan garis batas air, perlengkapan belajar berkurang drastis, dan ruang kelas sempat dipakai secara bergantian.

Guru-guru terpaksa menggabungkan kelompok B1 dan B2, membuat ruangan terasa sempit dan kurang nyaman. Belajar tetap berjalan, namun keterbatasan fasilitas terasa nyata.

Bagi Nur Lely, ketua komite yang anaknya baru pertama kali masuk sekolah tahun ini, melihat kondisi sekolah pascabanjir membuatnya khawatir.

“Waktu banjir itu, hampir seluruh desa mengalami dampak luar biasa. Banyak buku, kursi, dan permainan anak hilang dibawa air,” kenang Agusri, Keuchik Gampong Bangkajaya. Posisi sekolah yang agak rendah membuatnya paling dulu terendam.

Suasana kamar mandi dan teman wudhu TK Negeri Pembina Dewantara, Gampong Bangkajaya, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara. (Foto: Tim Media Satgas PRR)

 Bangunan Baru, Harapan Baru

Cahaya harapan datang melalui program revitalisasi sekolah pemerintah pusat. Anggaran bersumber dari APBN 2026 sebesar Rp555.623.000. Proses dimulai dengan pendataan dari Dinas Pendidikan, pengisian berkas, hingga penandatanganan kerja sama. Bantuan yang diterima mencakup pembangunan satu ruang kelas baru, satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), tiga pintu kamar mandi, tempat berwudu, serta pembangunan pagar yang sempat tumbang.

Pertimbangan paling bijak terletak pada pondasi bangunan baru yang sengaja dibuat lebih tinggi. “Posisi sekolah ini agak rendah, makanya pondasinya ditinggikan untuk berjaga-jaga ke depan, jangan ada masalah lagi,” jelas Agusri. Keputusan sederhana namun penuh makna, belajar dari pengalaman, agar sekolah tak lagi mudah terendam banjir berikutnya.

Terkait revitalisasi sekolah terdampak bencana, Mendagri Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus mengawal percepatan pemulihan fasilitas pendidikan terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).

“Sebanyak 4.922 sekolah terdampak telah kembali melaksanakan pembelajaran,” kata Tito pada Rapat Koordinasi Perkembangan Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Provinsi Aceh, Sumut, Sumbar di Bidang Pendidikan yang berlangsung di Posko Satgas PRR di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Menurut Tito, keberlanjutan proses belajar mengajar di semua jenjang pendidikan menjadi salah satu capaian penting dalam pemulihan pendidikan pascabencana. Meski jumlah sekolah terdampak mencapai ribuan, proses pembelajaran telah kembali berjalan di seluruh sekolah terdampak.

Kasatgas Nasional PRR ini mengatakan, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi tetap perlu dilakukan mengingat masih terdapat sejumlah sekolah yang menghadapi kendala pembangunan.

Tito Karnavian terus mendorong pemerintah daerah mempercepat pemanfaatan realisasi TKD Tambahan Rp10,6 triliun untuk mendukung pemulihan pascabencana sebelum akhir 2026. TKD Tambahan adalah alokasi dana tambahan dari pemerintah pusat yang disalurkan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah, khususnya guna mempercepat rehabilitasi, rekonstruksi, serta pemulihan wilayah yang terdampak bencana atau untuk mendukung penanganan kebutuhan mendesak lainnya.

Penggunaan anggarannya harus segera digunakan karena kebutuhan masyarakat, terutama yang belum terjangkau dari program kementerian atau lembaga.

Dalam rapat koordinasi di Posko Nasional Satgas PRR, Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis (15/10/2026), Tito menegaskan TKD Tambahan diberikan untuk memperkuat kemampuan keuangan daerah. Dengan dukungan tersebut, pemerintah daerah diharapkan dapat menjalankan pemulihan secara bersamaan dengan pekerjaan pemerintah pusat.

“Jangan sampai enggak dimanfaatkan. Tujuan-tujuan kita adalah kami memperjuangkan tambahan TKD tersebut dua kali di bulan Februari dan di bulan Agustus, tujuannya adalah memperkuat kemampuan keuangan daerah sehingga daerah juga bisa bergerak paralel,” ujar Tito.

 Belanja Sektor Pendidikan di Aceh

Realisasi belanja sektor pendidikan melalui Tambahan Transfer ke Daerah atau TKD Tambahan Pemerintah Aceh mencapai Rp49,62 miliar atau 49,62 persen. Capaian tersebut tercatat dalam pembaruan data pada Jumat, 16 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB, melalui sistem Pusat Pengendalian Pembangunan Kegiatan (P2K) Pemerintah Aceh.

Angka itu menunjukkan hampir separuh pagu tambahan TKD yang dikelola Dinas Pendidikan Aceh telah dibelanjakan. Dengan sisa tahun anggaran yang semakin pendek, pelaksanaan kegiatan perlu terus dipercepat agar dukungan pembiayaan dapat memberikan manfaat bagi layanan pendidikan di wilayah yang membutuhkan pemulihan.

Perkembangan penyerapan dipantau melalui portal P2K-APBA. Badan Pengelolaan Keuangan Aceh mendata pergerakan realisasi pada perangkat daerah, kemudian perkembangannya dilaporkan secara berkala oleh Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dengan tembusan kepada Gubernur dan Penjabat Sekda Aceh.

Siswa, Wali Murid dan Guru Kembali Tersenyum

Kini pada Oktober 2026, perubahan terasa nyata. Ruang belajar yang lebih luas memungkinkan anak-anak belajar dengan lebih leluasa. Tak lagi berdesakan di ruang yang sempit.

Kamar mandi bertambah dari sebelumnya, sehingga tak ada lagi antrian panjang saat jam istirahat. Adanya UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) membuat orang tua merasa lebih tenang menitipkan anak mereka di sekolah.

“Alhamdulillah, senang karena anak-anak juga bisa beraktivitas kembali ke sekolah. Sudah ada gedung baru yang kemarin mungkin belum ada, sekarang sudah ada,” ucap Putri Mawadda dengan wajah lega. Nur Lely pun menyambut gembira penambahan fasilitas tersebut, merasa lebih yakin menyekolahkan anaknya di tempat yang lebih layak.

Para guru merasakan dampak yang sama. Jumlah murid bertambah signifikan, anak-anak dari kampung lain kini memilih bersekolah di sini karena fasilitasnya yang semakin membaik. Semangat belajar pun meningkat.

“Anak-anak nyaman belajarnya, ruangannya sudah luas. Kemarin agak sempit karena digabung B1 dengan B2,” ungkap salah seorang guru.

Sri Mulyana tak henti bersyukur. “Alhamdulillah, luar biasa perkembangannya untuk anak didik kami. Wali murid dan masyarakat, termasuk Pak Keuchik, antusias karena gedungnya pun kita permak dengan cantik.”

Ia menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Presiden Prabowo Subianto, Satgas PRR, jajaran Dinas Pendidikan Aceh Utara, dan semua pihak yang telah mendukung pemulihan sekolah ini.

Harapan pun dituturkan para pendidik, semoga dukungan terus berlanjut. Pengalaman banjir menjadi pengingat bahwa kesiapan dan keamanan sekolah adalah hal yang tak boleh diabaikan.

Musim hujan akan datang lagi, namun kali ini, anak-anak TK Negeri Pembina Dewantara memiliki gedung yang lebih kokoh, fondasi yang lebih tinggi, dan harapan yang lebih cerah.

Di ruang kelas yang nyaman, suara tawa dan cerita anak-anak kembali terdengar, lebih lantang dari deru air banjir yang dulu pernah datang. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER