Banda Aceh (Waspada Aceh) – Aroma makanan tradisional menyambut pengunjung yang memasuki Anjong Rumah Adat Gayo Lues di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Jumat (11/9/2026).
Suasana khas Gayo Lues turut dihadirkan melalui ornamen dan ukiran tradisional, lengkap dengan lanskap persawahan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gayo Lues.
Anjong tersebut menjadi salah satu tempat pengunjung mengenal beragam kuliner khas Gayo Lues dalam gelaran Aceh Culinary Festival. Beberapa makanan yang diperkenalkan antara lain keririsen, itik encer, dan dedah.
Staf Dinas Pariwisata Gayo Lues, Maharmi, mengatakan krisan merupakan salah satu makanan tradisional yang masih dikenal masyarakat Gayo Lues.
Meski bentuk dan cara memasaknya sekilas mirip lemang, bahan yang digunakan berbeda.
“Keririsen hampir serupa dengan lemang. Bedanya tidak menggunakan santan, tetapi langsung parutan kelapa yang dicampur dengan garam,” kata Maharmi.
Beras ketan yang telah dicampur parutan kelapa dan garam kemudian dimasukkan ke dalam bambu. Berbeda dari lemang pada umumnya, bambu untuk membuat keririsen tidak dilapisi daun pisang.
Menurut Maharmi, cara tersebut menghasilkan rasa gurih dan lemak dari kelapa yang menjadi ciri khas keririsen.
Makanan ini juga tidak terlepas dari tradisi masyarakat Gayo Lues. Krisan biasanya dibuat ketika kenduri, termasuk pada saat panen padi dan panen ketan.
“Ketan yang baru dipanen rasanya lebih enak kalau dibuat keririsen,” ujarnya.
Selain keririsen, Gayo Lues memiliki itik encer yang juga diperkenalkan dalam festival tersebut.
Hidangan ini dibuat tanpa santan. Daging itik yang sudah memiliki kandungan lemak dimasak bersama beragam rempah dan daun ruku-ruku atau reruku.
ÀRasanya cenderung gurih dan pedas dengan aroma rempah yang kuat.
“Itik encer setiap ada kumpul-kumpul pasti ada. Seperti tradisi kuah beulangong,” kata Maharmi.
Bagi masyarakat Gayo Lues, itik encer juga berkaitan dengan tradisi memuliakan tamu. Dahulu, hampir setiap rumah memelihara itik sehingga hidangan tersebut mudah disiapkan ketika ada tamu atau kegiatan keluarga.
Selain itu, terdapat dedah yang dibuat menggunakan bumbu seperti bawang, cabai dan tomat. Bumbu tersebut tidak dihaluskan, tetapi cukup diiris sebelum diolah.
Maharmi mengatakan sejumlah kuliner tersebut hingga kini masih dilestarikan. Meski tradisi panen tidak lagi melibatkan banyak orang seperti dahulu, makanan tradisional tetap dibuat dan disajikan dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu pengunjung, Tati, warga Pidie, mengaku terkesan dengan keragaman kuliner yang ditemuinya dalam festival tersebut.
“Takjub juga, ternyata kuliner Aceh sangat kaya. Banyak yang unik dan setiap daerah punya ciri khas masing-masing,” kata Tati.
Tati menghadiri rangkaian acara sejak pembukaan Aceh Culinary Festival. Ia pun sempat mencicipi sejumlah makanan khas Aceh yang disajikan di lokasi acara.
Saat berkunjung ke Anjong Rumah Adat Gayo Lues, ia mencoba krisan, makanan berbahan dasar ketan yang sekilas menyerupai lemang.
Menurut Tati, krisan memiliki rasa gurih dengan cita rasa kelapa yang cukup kuat. “Rasanya enak, gurih. Ada rasa khas kelapanya,” ujarnya.
Melalui Aceh Culinary Festival, pengunjung tidak hanya dapat mencicipi makanan khas dari berbagai daerah di Aceh, tetapi juga mengenal cerita dan tradisi yang melekat pada setiap hidangan.
Bagi Tati, pengalaman tersebut membuat festival tidak sekadar menjadi tempat mencicipi makanan.
“Jadi kita bukan cuma tahu makanannya, tapi juga tahu cerita dan tradisi di baliknya,” kata dia. (*)



