BerandaBuku The Ocean Remembers Bahas Jejak Masyarakat India dalam Sejarah Aceh

Buku The Ocean Remembers Bahas Jejak Masyarakat India dalam Sejarah Aceh

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Sejarah hubungan masyarakat India dengan Aceh dan kawasan Melayu melalui jaringan Samudra Hindia dibahas dalam peluncuran dan diskusi buku The Ocean Remembers: Indians and The Tides of Empire, yang digelar di BSI Landmark Aceh Green Building, Rabu (2/9/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) bersama Waqeefa tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Muhammad Nasir, S.IP., MPA., serta Ketua TP PKK Aceh, Marlina Usman.

Acara diawali opening remarks Direktur ICAIOS, Reza Idria, dan pendiri Waqeefa, Shadia Marhaban.

Reza mengatakan, Samudra Hindia telah menjadi bagian dari kajian ICAIOS. Karena itu, penelitian mengenai Aceh perlu terus dikembangkan dengan melihat keterhubungannya dengan wilayah yang lebih luas.

“Ini merupakan salah satu inisiatif baru dari ICAIOS. Samudra Hindia sudah menjadi bagian dari kajian kami, dan kami ingin memperluas penelitian mengenai Aceh dengan selalu memasukkan konteks Samudra Hindia,” ujar Reza.

Menurutnya, Aceh perlu dipandang sebagai bagian dari jaringan yang lebih luas untuk memahami makna keterhubungan maupun keterputusan yang terjadi di dalam jaringan tersebut.

Reza menyebutkan, peluncuran buku karya Nia Deliana, akademisi Universitas Islam Internasional Indonesia, menjadi salah satu langkah awal memperkuat kajian hubungan Aceh dengan kawasan Samudra Hindia. Ia berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi proyek bersama ICAIOS dan Waqeefa.

Sementara itu, Shadia Marhaban mengapresiasi kehadiran para pembicara dari Singapura dan Malaysia yang turut membahas hubungan masyarakat di kawasan Samudra Hindia.

Ia mencontohkan Syekh Nuruddin ar-Raniry yang berasal dari Gujarat, India, kemudian datang ke Aceh dan menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu pusat pembelajaran Islam.

“Di sini kita berbicara tentang bagaimana Samudra Hindia menghubungkan satu masyarakat dengan masyarakat lainnya,” kata Shadia.

Menurutnya, hubungan antarmasyarakat tersebut telah berlangsung dalam sejarah yang panjang dan meninggalkan jejak dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Connection and disconnection ini sebenarnya terus berada di sekitar kita. Hubungan tersebut dibangun dan dipertahankan oleh manusia, dan perkembangannya dapat berlangsung dalam waktu yang sangat panjang,” ujarnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tabuhan rapa’i sebelum memasuki sesi pertama berupa peluncuran dan diskusi buku The Ocean Remembers: Indians and The Tides of Empire karya Nia Deliana.

Sesi tersebut menghadirkan Sumit Mandal dari Asia Research Institute, National University of Singapore (NUS), dan Shobana Gabriel, dosen Sunway University, sebagai discussants. Diskusi dimoderatori peneliti ICAIOS, Mirza Ardi.

Pembahasan berfokus pada sejarah masyarakat India dalam kehidupan maritim Samudra Hindia serta hubungan mereka dengan Aceh dan dunia Melayu pada masa pra-kolonial.

Salah satu topik yang dibahas adalah istilah “Keling” yang dalam sejumlah sumber sejarah digunakan untuk menyebut masyarakat dari India Selatan yang berhubungan dengan kawasan Melayu, termasuk Aceh dan Malaysia.

Dalam buku tersebut disebutkan, Aceh dan Malaysia memiliki penggunaan istilah yang sama untuk menyebut pedagang dari India Selatan. Istilah “Keling” juga ditemukan dalam Hikayat Hang Tuah sebanyak 132 kali dan penggunaannya tidak selalu berada dalam konteks negatif atau diskriminatif.

Para pedagang India Selatan merupakan bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan Coromandel di India dengan Aceh, Perak, dan Kedah.

Pergerakan melalui jalur laut tersebut tidak hanya membawa komoditas, tetapi juga memungkinkan perpindahan manusia serta pertukaran bahasa, pengetahuan, budaya, hingga hubungan kekerabatan.

Diskusi juga mengulas bagaimana masyarakat dari luar wilayah dapat memperoleh posisi penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat setempat.

Salah satu contoh yang dibahas adalah Poh Saleh yang disebut dalam catatan perjalanan Thomas Forrest dan dikaitkan dengan komunitas Keling di Aceh. Poh Saleh disebut memiliki pengaruh dalam persoalan ekonomi dan politik.

Hal tersebut menunjukkan bahwa posisi seseorang dalam masyarakat pada masa itu tidak semata-mata ditentukan oleh asal-usul. Kemampuan bahasa, pengetahuan, jaringan perdagangan, hubungan sosial, dan kredibilitas juga menjadi faktor yang memungkinkan seseorang memperoleh pengaruh.

Kisah Syekh Nuruddin ar-Raniry turut menjadi contoh bagaimana seseorang yang berasal dari India dapat memperoleh posisi penting dalam Kesultanan Aceh. Ia dikenal sebagai ulama, mufti, dan penasihat kesultanan serta berperan dalam perkembangan intelektual Islam di Nusantara.

Pembahasan kemudian melihat kehidupan masyarakat maritim pada masa pra-kolonial yang memiliki pola hubungan lebih cair dibandingkan kategorisasi ras dan etnis yang semakin menguat pada abad ke-19.

Melalui perspektif tersebut, The Ocean Remembers tidak menempatkan India dan Indonesia sebagai dua kelompok yang berhadapan. Buku ini melihat Samudra Hindia sebagai ruang yang memungkinkan berbagai masyarakat terhubung, berpindah, menetap, dan membentuk komunitas.

Setelah sesi pertama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kedua bertajuk The Indian Ocean and Global Power: Connections and Disconnections Throughout Ages.

Sesi tersebut menghadirkan Mehmet Ozay dari International Institute of Islamic Thought and Civilization-International University of Malaysia (ISTAC-IIUM), Lilianne Fan dari Southeast Asian Women Peace Mediators, serta Asyaari Muhammad, Direktur Institute of the Malay World and Civilization, Universiti Kebangsaan Malaysia. Diskusi dimoderatori peneliti ICAIOS, Cut Dewi.

Sesi kedua memperluas pembahasan mengenai hubungan dan keterputusan dalam sejarah Samudra Hindia serta bagaimana perubahan kekuatan global turut memengaruhi hubungan antarmasyarakat di kawasan tersebut.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab bersama pembicara dan peserta.

Salah seorang peserta, Najmul, mengatakan pembahasan buku tersebut memberikan perspektif baru mengenai hubungan Aceh dengan masyarakat dari kawasan lain.

“Yang menarik bagi saya adalah bagaimana hubungan Aceh dengan India ternyata tidak hanya soal perdagangan. Ada perpindahan pengetahuan, budaya, bahkan hubungan sosial yang kemudian ikut membentuk masyarakat Aceh,” katanya.

Peserta lainnya, Bima, menilai pembahasan mengenai masyarakat India di Aceh menunjukkan bahwa keberagaman dan perjumpaan antarmasyarakat telah menjadi bagian dari sejarah Aceh sejak masa lalu.

“Diskusi ini mengingatkan kita bahwa keberagaman sebenarnya sudah menjadi bagian dari sejarah Aceh sejak lama. Masyarakat dari berbagai wilayah pernah datang, berinteraksi, dan hidup berdampingan di sini,” ujarnya.

Kegiatan ditutup setelah seluruh rangkaian diskusi dan tanya jawab selesai.

Peluncuran The Ocean Remembers menjadi ruang untuk melihat kembali posisi Aceh dalam jaringan Samudra Hindia serta bagaimana mobilitas manusia, perdagangan, pengetahuan, dan hubungan kekerabatan turut membentuk kehidupan masyarakat di dunia Melayu. (Nisrin)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER