BerandaAcehMenjelajah Mangrove Park Lampulo, Wisata Hijau di Tengah Kota Banda Aceh

Menjelajah Mangrove Park Lampulo, Wisata Hijau di Tengah Kota Banda Aceh

“Mangrove Park Lampulo menawarkan cara berbeda menikmati wisata alam di Banda Aceh. Selain menyusuri kawasan hijau, pengunjung dapat belajar tentang mangrove dan konservasinya”

Tak jauh dari kawasan pesisir Lampulo, Banda Aceh, hamparan hijau mangrove menawarkan suasana berbeda bagi masyarakat yang ingin menikmati wisata alam di tengah kota.

Di antara pepohonan mangrove yang tumbuh rapat, pengunjung dapat berjalan menyusuri kawasan sambil mengenal berbagai jenis tanaman pesisir serta manfaatnya bagi lingkungan.

Tempat tersebut dikenal dengan nama Mangrove Park Lampulo (MPL). Pantauan Waspadaaceh.com, Minggu (30/8/2026), kawasan itu dilengkapi sejumlah papan informasi yang memberikan penjelasan mengenai jenis dan manfaat mangrove.

Papan informasi ini memperkenalkan berbagai jenis mangrove yang tumbuh di kawasan itu sekaligus menjelaskan perannya dalam menjaga ekosistem pesisir.

Setidaknya terdapat 10 jenis mangrove di Mangrove Park Lampulo, di antaranya Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Avicennia marina, Avicennia officinalis, Avicennia alba, Bruguiera cylindrica, Bruguiera gymnorhiza, Ceriops tagal dan nipah.

Berdasarkan data pengelola, sekitar 113.000 batang mangrove telah tumbuh di kawasan seluas kurang lebih 11 hektare tersebut.

Mangrove memiliki fungsi penting bagi kawasan pesisir. Akar tanaman ini membantu menahan sedimen dan mengurangi tekanan gelombang sehingga dapat melindungi garis pantai dari abrasi.

Selain itu, hutan mangrove menjadi habitat berbagai jenis ikan, kepiting, moluska, burung dan biota lainnya.

Mangrove juga mampu menyimpan karbon dalam biomassa dan sedimen sehingga keberadaannya turut berperan dalam upaya menghadapi perubahan iklim.

Mangrove Park Lampulo yang dipenuhi pepohonan mangrove, Banda Aceh, Minggu (30/8/2026). (Foto/Cut Nauval D).

Namun, keberadaan hutan mangrove di kawasan tersebut tidak terlepas dari proses penanaman dan perawatan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Sore itu, Fikri salah satu Pemuda Peduli Mangrove Kutaraja (PEMANGKU) terlihat memeriksa sejumlah propagul. Bibit-bibit tersebut dipilah untuk menentukan mana yang masih layak ditanam.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa hutan mangrove yang terlihat hijau saat ini membutuhkan proses panjang untuk dapat tumbuh dan bertahan.

Mangrove Dipantau dengan Teknologi

Pengelolaan mangrove di kawasan tersebut kini juga mulai memanfaatkan teknologi digital.

Fikri memperlihatkan salah satu tanaman yang telah dilengkapi barcode. Tanaman tersebut dapat dikenali dan dipantau melalui platform Jejakin.

Pada tag tanaman yang diperlihatkannya tercantum informasi ukuran tanaman sekitar 25 sentimeter dan potensi karbon sekitar 60 gram.

Pemanfaatan teknologi itu merupakan bagian dari program digitalisasi konservasi mangrove yang melibatkan Indosat Ooredoo Hutchison, Universitas Syiah Kuala (USK) dan Global System for Mobile Communications Association (GSMA).

Teknologi Internet of Things (IoT) digunakan untuk membantu pemantauan kondisi tanaman dan lingkungan di sekitarnya.

Dengan adanya barcode tersebut, setiap tanaman dapat memiliki informasi yang dapat ditelusuri. Teknologi ini juga memberikan gambaran kepada pengunjung mengenai bagaimana perkembangan mangrove dapat dipantau secara digital.

Wisatawan saat berada di kawasan Mangrove Park Lampulo yang dipenuhi pepohonan di Banda Aceh, Minggu (30/8/2026). (Foto/Cut Nauval D).

Jadi Tempat Edukasi

Selain wisata, Mangrove Park Lampulo juga dimanfaatkan sebagai lokasi pembelajaran dan penelitian.
Mahasiswa, perguruan tinggi dan komunitas terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari penanaman, pemantauan hingga edukasi mengenai mangrove.

Keberadaan satwa juga menjadi daya tarik tersendiri. Sejumlah burung dapat ditemukan di antara pepohonan mangrove.
Untuk membantu menyediakan sumber air bagi satwa, pengelola memasang botol berisi air yang dapat digunakan sebagai tempat minum burung. Namun, proses menjaga mangrove tidak selalu berjalan mudah.

Pantauan Waspadaaceh.com, sejumlah bibit ditemukan gagal tumbuh. Kondisi panas dan minimnya air pasang menjadi salah satu tantangan bagi tanaman untuk bertahan.

Bibit yang mati kemudian dipilah, sementara tanaman yang masih dapat diselamatkan terus dirawat. Sebagian lainnya diganti dengan bibit baru.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari proses konservasi yang dapat dilihat langsung oleh pengunjung.

Salah seorang pengunjung, Wahyu Majiah, mengaku mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru saat berkunjung ke Mangrove Park Lampulo.

Menurut dia, kawasan tersebut tidak hanya menawarkan suasana hijau dan udara terbuka, tetapi juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal berbagai jenis mangrove dan manfaatnya.

Wahyu juga mengabadikan kunjungannya dengan memotret sejumlah tanaman dan suasana di kawasan mangrove.

Bagi pengunjung, Mangrove Park Lampulo menawarkan lebih dari sekadar tempat untuk menikmati pemandangan.

Wisatawan dapat mengenal berbagai jenis mangrove, melihat proses pembibitan, mengamati keberadaan burung dan biota lainnya hingga mengetahui pemanfaatan teknologi digital dalam pemantauan tanaman.

Kawasan tersebut memperlihatkan bahwa wisata alam dan edukasi dapat berjalan beriringan.

Di balik hijaunya pepohonan mangrove, terdapat upaya panjang untuk menjaga pesisir, menyediakan habitat bagi satwa, menyimpan karbon dan mempertahankan ekosistem pantai di tengah perkembangan kawasan perkotaan Banda Aceh. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER