BerandaAceh3 Bulan Vakum, UMKM Emping Melinjo Pidie Jaya Berjuang Pascabencana

3 Bulan Vakum, UMKM Emping Melinjo Pidie Jaya Berjuang Pascabencana

“Banyak alat produksi yang rusak, stok sudah siap jual juga ikut terendam. Setelah banjir, bahan baku sulit didapat karena banyak pohon melinjo warga yang mati”

Air bah yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada November 2025 silam, tak sekadar menyisakan dinding retak dan tumpukan lumpur di rumah-rumah warga. Lebih dari itu, gelombang besar tersebut turut menghantam sendi-sendi kehidupan ekonomi, terutama usaha-usaha kecil yang menjadi nafas keluarga dan masyarakat.

Di Desa Mesjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, dampak pahit itu dirasakan langsung oleh Khairul Mizan (27). Ia adalah pemilik usaha Emping Melinjo Kak Bit, sebuah bisnis rumahan yang tumbuh menjadi harapan bagi banyak orang.

Saat banjir datang, rumah yang sekaligus menjadi tempat produksinya tenggelam. Air yang bercampur lumpur keruh merambah ke setiap sudut: merusak tumpukan stok emping yang sudah siap dikirim ke pembeli, merusak peralatan kerja. Bahkan menghanyutkan sejumlah mesin yang menjadi nyawa dari usaha keluarga ini.

Padahal, sebelum bencana menimpa, usaha binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pidie Jaya ini mampu memproduksi hingga 150 kilogram emping melinjo setiap bulannya. Keberadaannya bukan hanya menguntungkan Khairul dan keluarganya, melainkan telah membuka lapangan pekerjaan bagi lima warga sekitar, sebagian besar ibu rumah tangga yang menggantungkan penghasilan dari kehalusan tangan mereka mengolah melinjo menjadi camilan renyah khas Aceh.

Namun, dalam sekejap semuanya berhenti. Selama hampir tiga bulan, keheningan menyelimuti ruang produksi itu. Tidak ada suara alat pemipil, tidak ada aroma melinjo yang disangrai. Khairul harus menelan pahit realita: ia harus memulai kembali, dari nol, dengan segala keterbatasan yang ada.

“Banyak alat produksi yang rusak, stok yang sudah siap jual juga ikut terendam. Setelah banjir, bahan baku juga sulit didapat karena banyak pohon melinjo warga yang mati,” kenang Khairul dengan nada tertahan, saat berbincang pada Sabtu (18/7/2026).

Khairul Mizan mempromosikan emping melinjo Kak Bit melalui konten digital untuk memperluas pemasaran produk. (Foto/Ist)

Pohon melinjo yang tumbuh di pekarangan dan ladang warga, sumber kehidupan mereka, tumbang maupun mati akibat terendam air terlalu lama. Akibatnya, pasokan melinjo menipis dan harga melonjak naik. Tantangan itu memaksa usaha ini berjalan tertatih-tatih.

Dari lima orang pekerja yang dulu setia menemaninya, kini hanya tersisa dua orang yang masih bertahan: Muliani (46) dan Maulizar (36). Keduanya memilih tetap melanjutkan meski rumah mereka sendiri pun masih menyisakan jejak lumpur pascabanjir, bukti betapa berharganya pekerjaan ini bagi mereka.

Dengan tangan yang tersisa dan peralatan yang berhasil diselamatkan serta diperbaiki, kapasitas produksi kini turun drastis menjadi hanya sekitar 50 kilogram per bulan, hanya sepertiga dari kemampuan masa lalu.

Di tengah kepungan kesulitan itu, secercah harapan hadir. Khairul bersama puluhan pelaku UMKM penyintas banjir dari Pidie Jaya, Aceh Timur, Aceh Tamiang, hingga Bener Meriah, mengikuti pelatihan pemasaran digital selama dua pekan. Di sana, ia belajar hal-hal baru: bagaimana membuat konten yang menarik, menyusun kemasan yang lebih rapi, memanfaatkan media sosial, hingga cara berjualan lewat siaran langsung.

Pengetahuan itu mengubah cara pandangnya. Kini, teras rumah yang dulu penuh tawa keluarga kini berubah wajah: menjadi tempat produksi, tempat mengemas produk, sekaligus tempat ia berdiri di depan kamera mempromosikan hasil keringatnya ke dunia luar.

“Harapannya usaha ini bisa kembali seperti dulu. Yang penting bisa terus berjalan dan membuka kesempatan kerja lagi bagi warga sekitar,” ucap Khairul dengan sorot mata yang kembali berapi-api.

Bagi pemuda ini, emping melinjo bukan sekadar makanan yang dijual untuk mendapat uang. Ia adalah masa depan keluarganya, dan juga harapan bagi tetangganya yang bekerja bersamanya.

Setelah diterjang badai dan lumpur, Khairul kini menyusun kembali asa—merajut masa depan dengan perpaduan kearifan lokal dan jejaring dunia maya, agar Emping Melinjo Kak Bit tetap berdiri tegak dan dikenal luas. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER