BerandaAcehDari Gerobak Mie Caluek, Kak Dek Merajut Kembali Harapan Pascabanjir di Pidie...

Dari Gerobak Mie Caluek, Kak Dek Merajut Kembali Harapan Pascabanjir di Pidie Jaya

Sejak suaminya meninggal dunia sebelas tahun lalu akibat serangan jantung, pundak Kak Dek memikul beban ganda: menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Ketika bencana datang, perempuan sering kali kehilangan lebih dari sekadar rumah atau tempat usaha. Mereka juga memikul tanggung jawab memastikan dapur tetap mengepul, anak-anak tetap bersekolah, dan kehidupan keluarga terus berjalan.

Suati hari jurnalis Waspadaaceh.com, Cut Nauval Dafistri, mengunjungi salah satu usaha mikro di Pidie Jaya, Aceh. Uap hangat mengepul perlahan dari panci besar di gerobak kayu sederhana yang berdiri kokoh di tepi jalan Meureudu.

Di baliknya, sepasang tangan terbiasa bekerja dengan cekatan menuang kuah kental bumbu kacang ke atas semangkuk mie kuning, menaburkan kerupuk renyah, lalu menyerahkannya dengan senyum tulus kepada pelanggan yang datang silih berganti.

Itulah Nazariah, atau akrab disapa Kak Dek, 43 tahun. Mie goreng dan bihun goreng racikannya, dan semua hidangan di gerobaknya dibanderol hanya Rp5.000 per porsi. Angka yang sederhana, namun bagi ibu tunggal ini, setiap lembar uang yang diterimanya adalah nyawa bagi kehidupan keluarganya.

Tak banyak yang tahu: gerobak mungil ini bukan sekadar tempat berjualan. Ia adalah pijakan pertama Kak Dek untuk bangkit kembali, setelah air bah menyapu bersih apa yang dibangunnya selama bertahun-tahun.

Ketika Segala Sesuatu Terbawa Arus

Ingatan tentang hari kelam itu masih membekas jelas. Bukan hanya rumah yang kemasukan air, kios kecil tempat ia menopang hidup empat orang anaknya luluh lantak, dibawa pergi oleh amukan banjir.

“Semua barang dibawa air. Tidak ada lagi yang bisa dipakai,” ucapnya pelan, matanya menatap sejenak ke kejauhan. Kerugian ditaksir mencapai Rp10 juta, jumlah yang sangat besar bagi seseorang yang hidup pas-pasan.

Sejak suaminya meninggal dunia sebelas tahun lalu akibat serangan jantung, pundak Kak Dek memikul beban ganda: menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Kini, anak sulungnya tengah menimba ilmu di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, sementara tiga lainnya masih duduk di bangku sekolah. Masa depan mereka seolah ikut terhanyut bersama air yang meluap.

Namun meratapi nasib terlalu lama bukanlah pilihan. “Kalau saya diam di rumah, siapa yang cari makan? Anak-anak semua masih sekolah. Mau tidak mau saya harus bangkit lagi,” tegasnya. Dengan sisa uang yang ada, ia membeli gerobak sederhana ini, dan mulai lagi dari nol.

Nazariah atau Kak Dek berdiri di depan gerobak tempat ia menjalankan usaha kuliner kecilnya setelah bangkit dari dampak banjir di Pidie Jaya, Aceh. (Foto/Cut Nauval D)

Bertahan di Tengah Keterbatasan

Perjuangan baru ternyata tidak mudah. Harga bahan kebutuhan terus melonjak: tepung yang dulu dibeli Rp9.000–Rp10.000 kini melonjak hingga Rp15.000. Sementara itu, uang jajan masyarakat juga makin terbatas. Keuntungan yang didapat tipis, namun harus cukup untuk segala kebutuhan.

Belum ada pembukuan rapi, belum ada pemisahan uang usaha dan uang dapur. Begitu uang masuk, langsung berputar memenuhi kebutuhan: belanja bahan, biaya sekolah anak, hingga beras dan minyak goreng.

“Yang penting cukup untuk anak-anak,” ucapnya sambil tersenyum tipis.

Bantuan pascabencana yang diberikan pemerintah memang meringankan sedikit beban, namun jauh dari cukup untuk membangun kembali usaha yang dulunya cukup maju. Dulu, Kak Dek biasa menerima pesanan katering dari warga maupun instans, sumber pendapatan yang kini harus ia bangun kembali perlahan-lahan, satu demi satu.

Ia juga belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) yang bisa membuka akses program pendampingan, modal, atau kemudahan lain dari pemerintah. Selama ini ia berjalan sendiri, tanpa pendampingan usaha, tanpa pemasaran yang lebih luas.

Semangkuk Mie, Sejumput Harapan

Meski begitu, tekad Kak Dek tak pernah pudar. Di matanya masih menyala api harapan: agar gerobak ini suatu hari tumbuh kembali menjadi kios yang ramai, agar anak-anaknya bisa menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya, dan agar ia tak lagi harus mengkhawatirkan apa yang akan dimakan besok pagi.

Lebih dari itu, ia berharap: agar perempuan-perempuan lain yang senasib dengannya tidak hanya sekadar diberi bantuan sesaat.

“Kami butuh pendampingan, akses modal, dan kesempatan agar benar-benar bisa bangkit berdiri sendiri,” ucapnya.

Gerobak mie caluek milik Kak Dek kini berdiri tegak bukan hanya sebagai tempat berjualan. Ia adalah simbol ketangguhan, bahwa di tengah reruntuhan akibat bencana, perempuanlah yang sering kali menjadi tiang penyangga pertama yang kembali berdiri tegak.

Setiap kali ia menyodorkan semangkuk mie hangat, di situ bukan hanya makanan yang disajikan. Di sana ada kerja keras, pengorbanan, dan doa seorang ibu yang tak ingin menyerah pada keadaan.

Di Pidie Jaya, di balik surutnya air banjir, perjuangan seperti Kak Dek-lah yang perlahan menyusun kembali kehidupan, satu sendok kuah, satu langkah kecil, dan sejumput harapan demi masa depan yang lebih baik. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER