Sabtu, Januari 10, 2026
spot_img
BerandaAceh445 Hektare Kebun Kopi di Bener Meriah Rusak Akibat Banjir Bandang

445 Hektare Kebun Kopi di Bener Meriah Rusak Akibat Banjir Bandang

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Bener Meriah, Aceh, akhir November 2025 lalu menimbulkan dampak besar terhadap sektor pertanian dan infrastruktur.

Data Pos Komando Penanganan Bencana Aceh mencatat, kebun kopi menjadi sektor paling terdampak dengan luas kerusakan mencapai 445,583 hektare.

Juru Bicara Pos Komando Penanganan Bencana Aceh, Murthalamuddin, mengatakan kerusakan kebun kopi mendominasi dampak bencana hidrometeorologi karena Bener Meriah merupakan salah satu sentra produksi kopi Gayo di Aceh.

“Kerusakan kebun kopi cukup mendominasi dampak bencana hidrometeorologi di Bener Meriah. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap mata pencaharian masyarakat,” ujar Murthalamuddin, Sabtu (10/1/2026).

Kerusakan kebun kopi tersebar di delapan kecamatan. Kecamatan Bukit menjadi wilayah dengan kerusakan terluas, yakni 198,179 hektare, disusul Kecamatan Mesidah 122,147 hektare, Wih Pesam 76,700 hektare, Permata 36,650 hektare, Gajah Putih 8,469 hektare, Bener Kelipah 1,750 hektare, Bandar 1,563 hektare, serta Timang Gajah 0,125 hektare.

Sementara itu, di Kecamatan Pintu Rime Gayo dan Syiah Utama dilaporkan tidak terdapat kebun kopi yang terdampak.

Selain kopi, bencana juga merusak lahan pertanian lainnya. Tercatat sawah rusak seluas 68,732 hektare, perkebunan 214,270 hektare di Kecamatan Syiah Utama, serta kolam masyarakat seluas 2,505 hektare. Total kerusakan lahan pertanian secara keseluruhan mencapai 731,089 hektare.

Tak hanya sektor pertanian, banjir bandang yang terjadi pada Rabu (26/11/2025) juga merusak fasilitas umum dan infrastruktur.

Sebanyak 166 jembatan dilaporkan rusak, 81 ruas jalan terdampak, serta terdapat 61 titik longsor dan 27 lokasi banjir di berbagai wilayah. Selain itu, sebanyak 1.797 rumah warga mengalami kerusakan dengan kategori rusak berat, sedang, dan ringan.

Dari sisi korban, tercatat 31 orang meninggal dunia, 14 orang hilang, dan lima orang mengalami luka-luka. Jumlah warga terdampak mencapai 183.043 jiwa yang tersebar di 10 kecamatan dan 232 desa.

Sebagian warga terpaksa mengungsi, dengan 2.116 jiwa berada di pengungsian terpusat dan 2.452 jiwa mengungsi secara mandiri.

Murthalamuddin menambahkan, pemerintah daerah bersama unsur terkait masih terus melakukan penanganan dan pemulihan pascabencana.

Kabupaten Bener Meriah saat ini telah melewati masa tanggap darurat dan memasuki tahap transisi hingga 6 April 2026.

“Fokus kami saat ini adalah penanganan korban, pemulihan akses, serta menyiapkan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi, khususnya untuk sektor pertanian dan kebun kopi yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat,” katanya. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER