Beranda Laporan Khusus Ini Boy, Siswa SD Penjual Jambu di Jembatan Pante Pirak, Bercita-cita Jadi...

Ini Boy, Siswa SD Penjual Jambu di Jembatan Pante Pirak, Bercita-cita Jadi Pilot

BERBAGI
Muhammad Boy Haki, baru berusia 10 tahun, siswa kelas 3 SD, tampak sedang belajar sambil berjualan jambu di jembatan Pante Pirak, Kota Banda Aceh. (Foto/Kia Rukiah)
“Boy mengaku melakukan pekerjaannya itu atas kemauan sendiri, karena dia ingin tetap bisa sekolah. Saat tidak musim jambu, maka Boy menghabiskan waktu luangnya mencari barang-barang bekas, sepulang sekolah”

————-

Seorang bocah tampak sedang membaca dan menulis pada lembaran buku. Dia tidak terganggu dengan bisingnya suara kendaraan yang hilir mudik di dekatnya. Padahal aktivitas itu dilakukannya daerah padat kendaraan, yaitu di atas jembatan Pante Pirak, Kota Banda Aceh.

Di atas jembatan ini, bocah lelaki kecil itu biasa terlihat belajar. Dia juga sibuk menjual jambu air. “Aku harus belajar biar jadi orang sukses ketika sudah besar nanti,” tutur Boy polos.

Namanya Muhammad Boy Haki, baru berusia 10 tahun, tinggal di Desa Neuheun, Ujong Batee, Aceh Besar. Boy duduk di kelas 3 SD Negeri. Hari-hari dilaluinya untuk mengukir masa depannya, meski harus belajar di atas jembatan Pante Pirak itu. Sambil berjualan jambu, Boy ingin menggapai cita-cita menjadi seorang pilot pesawat atau menjadi seorang tentara.

Selama beberapa hari, sekitar Februari 2021, Waspadaaceh.com mengamati bocah yang akrab dipanggil Boy ini. Dia begitu semangat untuk tetap belajar, meski sambil menjajakan jambu air kepada orang-orang yang melintas di jembatan.

Nampak di seberang jalan, masih di atas jembatan yang sama, seorang ibu juga sedang menjajakkan jualanya. Dia adalah Idahayati, 34, ibunda Boy.

Boy berjualan jambu sambil belajar. (Foto/Kia Rukiah)

Boy mengaku terkadang dia merasa lelah ketika pulang sekolah. Namun semangatnya telah mengalahkan rasa lelahnya. Bila tidak berjualan jambu, Boy berkeliling di sekitar kampungnya untuk mencari barang-barang bekas.

Begitulah kebiasaan Boy setiap hari. Keadaan ini menuntun Boy untuk terus bekerja karena perekonomian keluarganya yang kurang mampu.

Boy mengaku melakukan pekerjaannya itu atas kemauan sendiri, karena dia ingin tetap bisa sekolah. Saat tidak musim jambu, maka Boy menghabiskan waktu mencari barang-barang bekas, sepulang sekolah.

Boy selalu giat bekerja. Bila ayahnya tidak mengajaknya mencari barang bekas, Boy akan tetap pergi mencari barang bekas bersama temannya.

Pengakuan Boy, uang hasil menjual jambu dan mencari barang bekas, untuk membeli seragam sekolahnya yang baru. Uang itu juga untuk jajan Boy kesehariannya.

Bagi Boy, hari Minggu bukanlah hari libur untuk bermain. Boy akan bersenda gurau bersama temannya saat melakukan aktivitasnya menjadi pemulung. Boy bersama temannya akan berkeliaran hingga beberapa kilometer dari rumahnya.

Waspadaaceh.com, pada hari Sabtu (20/2/2021), melihat Boy sedang berjalan dengan temannya. Boy kemudian berteduh dari teriknya matahari, di bawah pohon yang rindang.

Boy kelihatan membawa beban berat, dua karung berisi barang bekas. Dia berjalan dengan langkah yang tak seimbang. Dua tahun lalu Boy memang pernah mengalami kecelakaan, dia kena tabrak. Itu yang membuat salah satu tulang kakinya patah.

Boy kelihatan membawa beban berat, dua karung berisi barang bekas. Dia berjalan dengan langkah yang tak seimbang. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

Terlihat tangan Boy yang mungil sedang mengikat barangnya menggunakan tali rapia. Memanfaatkan sebatang kayu, Boy menggantungkan karungnya di kedua ujung kayu tersebut.

Jam sudah menunjukan pukul 12:30 WIB, ketika Waspadaaceh.com bertemu Boy di kawasan Ujong Batee itu, kira-kira 1 Km dari rumahnya. Berbekal air putih, Boy meneguknya karena haus, bergantian dengan temannya. Kemudian dia kembali melanjutkan perjalanannya.

Berjualan atas Kemauan Sendiri
Boy pernah ketabrak, tulang kakinya masih patah. “Boy kecelakaan 2 tahun lalu, di jalan raya, waktu kami jualan jagung bakar,” kata ibunda Boy, Idahayati kepada Waspadaaceh.com.

Kata ibunya, Boy bekerja atas kemauannya sendiri, tanpa ada paksaan. “Mana mungkin kami paksa cari barang bekas, panas hari begini,” ucap Idahayati.

Idahayati menyebutkan, dia menginginkan anaknya Boy tetap sekolah dan tetap mengaji. “Untuk jam belajarnya kami sangat perhatikan,” lanjutnya.

Kehidupan keluarga Boy memang terbilang kurang. Mereka menyewa rumah kecil, satu tahun Rp1 juta. “Untuk bantuan, kalo selama di kampung ini tidak pernah. Kalo bantuan beasiswa dari sekolah pernah didapatkan Boy,” ujar Idahayati.

“Kalo di rumah, kalo ngak dapat bantuan nggak apa-apa, yang penting cukup untuk makan, anak tidak kelaparan. Kami memilih Peunayong sebagai tempat jualan karena lebih rame yang beli,” lanjut Idahayati.

Idahayati mengaku, bila dia yang berjualan jambu, pendapatannya biasanya hanya Rp35 ribu. Tapi bila Boy yang berjualan, penjualannya bisa sampai Rp100 ribu.

Boy di Sekolah
Boy sekolah di SD Perumnas Ujong Batee. Menuju ke SD Perumnas harus melewati tanah yang terlihat gersang. Tapi itu tidak menyurutkan semangat Boy untuk terus belajar.

Saat jurnalis Waspadaaceh.com, mengunjungi sekolah itu pada Senin (8/2/2021), terlihat Boy sedang bermain dengan teman-temannya, menunggu masuk sekolah.

Boy sedang berada di ruang kelas sekolahnya. (Foto/Kia Rukiah)

Kaos kaki yang dipakai Boy terlihat sudah koyak dan berlobang. Tapi bocah ini tidak peduli, dia tampak tetap riang berada bersama teman-teman di sekolahnya.

Penampilan Boy terlihat tetap rapi, walaupun tidak mengenakkan tali pinggang, dan kaos kakinya sudah koyak. Keadaan itu tidak membuat Boy minder bersama teman-temanya. Boy tetap bersemangat, malah sering tersenyum dan bercanda tawa dengan teman-temanya.

Selain punya semangat, Boy juga dikenal sebagai anak yang penurut di sekolahnya. “Boy anak yang rajin dan penurut. Namun untuk juara, Boy belum mendapatkannya,” ungkap Wali Kelas Boy, Jamraana.

Jika diperhatikan, kata Jamraana, Boy memiliki kemampuan yang tinggi untuk menjadi anak yang berprestasi. Namun karena kurangnya kontrol dari orang tua, Boy belum menemukan bakatnya.

Tapi di sekolah, Boy termasuk anak yang mudah bergaul dan disukai oleh teman-temannya.

Boy atau Muhammad Boy Haki, beralamat di Desa Neuheun, Perumnas Ujong Batee, Aceh Besar. Sekolah di SD Perumnas, Ujong Batee. Nomor telepon orang tua Boy: 085270813994. (Kia Rukiah)

BERBAGI