Beranda Tulisan Feature Siswa SMP 5, Zahra, Kini Punya Rumah Baru dan Tak Lagi Jadi...

Siswa SMP 5, Zahra, Kini Punya Rumah Baru dan Tak Lagi Jadi Kuli Bangunan

BERBAGI
Wakil Kepsek SMPN 5 Lhokseumawe, Rahmawati, bersama Zahra dan keluarganya di depan rumah baru yang sedang dibangun di Dusun Lancang, Meunasah Mee Kec. Muara Dua Kota Lhokseumawe, Senin (15/2/2021). (Foto/Zainuddin Abdullah)

“Agar tidak berdesak-desakan di dalam gubuk, Zahra sering bergantian tempat tidur dengan kakaknya, Ilham. Mereka bergantian tidur di luar gubuk yang beratapkan langit dan dinding tepas yang terasa dingin karena hembusan angin malam”

——————-

Seorang pelajar kelas 3 SMPN 5 Kota Lhokseumawe, Zahra, sebelumnya sempat viral di jejaring sosial media (sosmed) ketika dia setiap hari harus membanting tulang untuk membantu keluarga, menjadi kuli bangunan di Gampong Utenkot.

Sehabis bekerja Zahra pulang ke gubuk tak layak huni, yang menjadi tempat tinggal atau rumahnya. Kubuk itu bekas kios kecil yang sudah reot. Dalam gubuk sekecil itu Zahra hidup bersama ibu, kakaknya dan dua adiknya.

Agar tidak berdesak-desakan di dalam gubuk, Zahra sering bergantian tempat tidur dengan kakaknya, Ilham. Mereka bergantian tidur di luar gubuk yang beratapkan langit dan dinding tepas yang terasa dingin karena hembusan angin malam.

Karena harus mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan keluarga, maka Zahra sering tidak masuk sekolah. Pihak sekolah pun mendatangi kediaman Zahra. Rombongan dari sekolah terperanjat begitu mengetahui Zahra sedang bekerja menjadi kuli bangunan. Ibu Zahra dan kakaknya pernah juga beberapa kali ikut membantu Zahra menggali tanah untuk pembangunan pondasi.

Wakil Kepsek SMPN 5 Lhokseumawe, Rahmawati, Senin (15/2/2021), ketika ditemui di rumah baru Zahra di Dusun Lancang Gampong Meunasah Mee Kandang Kec. Muara Satu, mengatakan, sejak kunjungan itu, nasib sedih Zahra pun menyebar ke jejaring sosial hingga menjadi viral dan selalu didatangi para wartawan.

Apa yang dialami Zahra menjadi pusat perhatian masyarakat dan banyak yang tersentuh hatinya untuk ikut mengulurkan bantuan. Rahmawati menyebutkan, pihak sekolah dibantu Kepala Dusun Lancang, Muhammad Nazar, mengambil tindakan bijak dengan membawa keluarga Zahra pindah ke kawasan relokasi warga miskin di Dusun Lancang.

Di atas tanah desa setempat, pihak SMPN 5 membangun rumah baru yang layak huni untuk keluarga Zahra. Biaya pembangunannya, kata Rahmawati, menggunakan anggaran hasil penggalangan dana dari sekolah dan komunitas luar sekolah.

Menurut Kepala Dusun Lancang, Muhammad Nazar, Zahra harus tinggal di kawasan warga miskin Dusun Lancang. Kata dia, hal itu sesuai program Meunasah Mee Kandang, bahwa semua warga yang tidak memiliki tempat tinggal, tanah atau harta, akan direlokasi ke kawasan miskin khusus di tepi muara Meuraksa.

Beginilah kondisi gubuk lama hunian Zahra dan keluarga di Desa Uteunkot Kec. Muara Dua, Lhokseumawe. (Foto/Zainuddin Abdullah)

Rahmawati menegaskan, orang yang pertama kali datang menyalurkan bantuan adalah Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto, dengan istilah program bantuan “kue syurga”. Selanjutnya, karena sudah viral, kini berbagai bentuk bantuan datang dari para dermawan.

Tercatat antara lain, bantuan satu unit sepeda motor dari Dirlantas Polda Aceh, bantuan pemasangan listrik baru dari PLN, dan sumbangan para dermawan via rekening. Ada pula dermawan yang datang sendiri membangun dapur serta membelikan peralatan kamar lengkap dengan ranjangnya.

Rahmawati mengaku dia yang mengelola semua bantuan yang datang dan membantu Zahra membuka rekening bank agar bantuan dapat diterima langsung.

“Sampai hari ini bantuan masih terus mengalir ke keluarga Zahra. Semua bantuan yang datang digunakan dan dimanfaatkan dengan baik. Kami sangat bersyukur masih banyak dermawan yang ingin membantu,” ujarnya.

Rahmawati sendiri hampir setiap hari mendatangi keluarga Zahra dan memantau perkembangan pembangunan rumah Zahra hingga tuntas. Meski begitu besar bantuan yang telah dicurahkan kepada Zahra, namun pihak SMPN 5 hanya meminta satu hal saja pada Zahra, yaitu Zahra dilarang kembali bekerja menjadi kuli bangunan.

Zahra mengatakan dia tidak akan bekerja lagi sebagai kuli bangunan. Dia akan menuruti seperti yang diminta pihak sekolah. Mulai hari ini Zahra berjanji akan kembali bersekolah dan belajar dengan giat.

Zahra mengaku tidak pernah menyangka akan mendapatkan berkah dan kebanjiran bantuan. Zahra selama ini mengira akan terus hidup susah sampai waktunya. Zahra merasa sangat bersyukur telah mendapatkan limpahan rahmat dan kasih sayang dari para dermawan.

Kini Zahra masih memiliki satu keinginan lagi yang belum dicapainya, yaitu bercita-cita menjadi seorang Polwan. Semoga saja Zahra mampu menggapai cita-citanya itu agar menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. (Zainuddin Abdullah)

BERBAGI