Beranda Tulisan Feature Sambut HPN: Ketika Tukik Dilepasliarkan dari Kawasan Konservasi Aron Meubanja

Sambut HPN: Ketika Tukik Dilepasliarkan dari Kawasan Konservasi Aron Meubanja

BERBAGI
Sebanyak 82 tukik (anak penyu) jenis lekang dilepasliarkan di kawasan Konservasi Aron Meubanja, Desa Keude Panga, Kecamatan Panga dalam rangka menyambut HPN ke 75 di Aceh Jaya, Sabtu (6/2/2021). (Foto/Zammil)

“Kerasnya kehidupan anak penyu mengingatkan saya pada kehidupan wartawan”

— Dandim Letkol CZI Arief Hidayat —

Matahari mulai tegak di atas kepala. Angin dari arah laut terus menghantam dedaunan cemara, ditambah deru ombak menemani diskusi wartawan dengan Murniadi semakin fokus.

Murniadi adalah Ketua Konservasi Penyu Aroen Meubanja di Kabupaten Aceh Jaya. Berlahan, kata tertuang menjadi kalimat ringkas dipandu dengan sesekali tarikan nafas panjang. Murniadi mengupas sebuah cerita silamnya tentang mengokohkan komitmen sebagai penyelamat penyu.

“Hidup itu pilihan, dan ini jalan hidup yang saya pilih,” sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh Murniadi, pria yang akrab disapa Dedi Penyu, 49, saat membuka diskusi bersama wartawan Waspadaaceh.com, Sabtu sore (6/2/2021).

Dedi selama ini telah membaktikan hidupnya menjaga satwa laut yang tergolong langka keberadaannya itu, yakni penyu.

Profesinya saat ini beranjak dari terjepit masalah ekonomi, faktor keseringan mejelajahi laut di kawasan Panga dan mencari ikan dari satu muara ke muara lainnya.

“Hasil tangkapan itu saya jual demi mendapatkan recehan rupiah untuk membeli kebutuhan sehari–hari,” ujar Dedi.

Dari rutinitas itu, Dedi Penyu kian hari kian bertemu serta melihat mahkluk–mahkluk laut. Keanekaragaman dan keunikan binatang laut membuat dirinya kagum atas sikap manja dari penyu. ”Pada kala itu saya temukan sedang bertelur di pantai Panga,” ujarnya.

Setelah melihat kejadian itu, rasa penasarannya tinggi seakan menjadi desakan. Sedikit memiliki pengalaman bekerja semasa di NGO Caritas hampir setahun lamanya, terbesit di pikirannya untuk memiliki sebuah lembaga penyelamat penyu di kawasan Kecamatan Panga, Aceh Jaya.

Singkat cerita, tahun 2012 silam Dedi Penyu pun menahkodai Aroen Meubanja, satu lembaga bergerak di bidang konservasi. Bersama beberapa para pemuda lainnya, sejak saat itu hingga kini, dia selalu berinteraksi dengan si bayi mugil penyu, yang akrab mereka sebut tukik.

Bermodal ketekunan dan kesabaran, terkadang bukan hanya penyu yang menjadi tanggungjawabnya untuk dijaga, tapi juga satwa lain tidak luput dari pantaunnya.

“Filosofi hidup saya sederhana. Monyet tidak akan melepaskan satu dahan ketika dahan yang lain belum diraih. Tentunya, monyet menyadari, jika dahan awal sudah pasti kuat dan dahan selanjutnya belum ada kepastian kuat. Dan apa yang sedang saya lakukan sekarang adalah dahan yang harus saya perkuat agar kokoh untuk seterusnya,” ujar Dedi, seraya mempersilahkan wartawan meminum kopi yang telah disediakannya.

“Fokus utama memang penyu, namun kami juga memantau perkembangan binatang laut lain,” tambah Dedi. Pria ini seakan mengisyaratkan jika satwa yang sudah langka keberadaannya menjadi perhatian serius dari semua pihak.

Apa yang ditanam itu yang dituai. Mungkin, sepenggal peribahasa ini menjadi uraian dari kisah dan perjalanan Dedi Penyu mengukir prestasi. Kini, lelaki berbadan kurus tersebut telah menjadi pemateri di forum-forum lokal maupun nasional tentang pengembangan penyu.

Pesisir pantai Nissero Panga juga menjadi tempat di mana dia terus bergerilya dan bersosialisasi. Dia juga mengedukasi bersama masyarakat, dalam menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestarian satwa-satwa yang hampir punah.

Berbekal pengalaman yang hanya lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), setiap tahunnya bersama rekan-rekan, dia juga membimbing mahasiswa magang dari berbagai universitas ternama di Aceh.

Hebat, mungkin itu kata yang tepat untuk pria yang kini berstatus sebagai Ketua Umum DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Aceh Jaya.

Kegiatan Inti Dimulai

Suasana di pos kawasan konservasi Aron Meubanja, Desa Keude Panga, Kecamatan Panga, Aceh Jaya, seketika berubah. Semula sepi menjadi riuh, ketika mobil Aqya berwana putih tiba.

Mobil itu dikemudikan oleh Sa’adul Bahri. Dia adalah Ketua Balai Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Jaya. Kehadirannya bersama tiga jurnalis dari Meulaboh, Aceh Barat, bukan tanpa sebab. PWI Aceh Jaya menggelar acara melepas penyu dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional (HPN) ke 75 pada 9 Februari ini.

Dewan Pers menetapkan Hari Pers Nasional (HPN) dilaksanakan setiap tahun secara bergantian di ibu kota provinsi se-Indonesia. Namun adanya pandemi COVID-19, pelaksanaan HPN tahun 2021 digelar secara virtual dengan mengangkat tema; “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan”.

Mobil lain terus bermunculan, anggota PWI Aceh Jaya pun hadir dengan membawa sejumlah konsumsi dan spanduk bertuliskan “Pelepasan Penyu dalam Rangka Menyambut Hari Pers Nasional ke 75 Aceh Jaya 2021,” dibentang sebagai tanda dimulainya kegiatan.

Sejumlah rangkaian kegiatan pun berlangsung. Sambutan demi sambutan pembukaan pun berakhir. Murniadi, Ketua Kelompok Konservasi Penyue Aron Meubanja dengan sigap mengeluarkan perintah.

“Kita telah tiba saatnya melepas tukik (anak penyu). Bagi yang berhadir diharapkan bergegas sembari menunggu disiapkan lokasi pelepasan. Untuk selanjutnya, tunggu instruksi,” ujar Dedi Penyu kepada khalayak.

Kegiatan ini dihadiri Forkopimda Aceh Jaya, mulai dari Wakil Bupati Tgk Yusri S, Komandan Kodim 0114/Aceh Jaya Letkol Czi Arief Hidayat, Kajari Aceh Jaya, Candra Saptaji, Sekretaris Dinas Pendidikan, Teuku Khairullah, Kabid Dispora, Dahrial Saputra dan Ketua KONI Aceh Jaya, Muslim HS serta seorang anggota DPRK, Muhammadiyah Isa.

Mereka hadir memakai masker untuk penerapan protokol kesehatan, upaya memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19.

Bersama Melepas Tukik

Jari-jari pewarta tergabung dalam PWI Aceh Jaya yang biasanya mengetik kata-kata menjadi berita, seketika berubah. Kini jari mengelus manja si mungil tukik atau anak penyu jenis lekang (Lepidochelys olivacea) saat melepasliarkan di pantai menuju laut lepas.

Tak jarang para pewarta yang terdiri dari media cetak dan online saling melemparkan senyum. Menggambarkan suasana ceria. Sesekali mereka memberikan semangat untuk tukik agar berjalan cepat menuju ombak, bak atlet lari sedang bersaing menuju garis finis.

Usai melepasliarkan tukik, Sa’adul Bahri, Ketua PWI Aceh Jaya mengatakan, kegiatan pelepasan anak penyu yang dilaksanakan oleh para jurnalis merupakan serangkaian kegiatan memperingati Hari Pers Nasional.

“HPN kali ini, kita juga melakukan sejumlah kegiatan lainnya, seperti doa bersama, santunan anak yatim dan mengunjungi keluarga wartawan yang telah meninggal. Puncak kegiatannya adalah doa bersama untuk semua wartawan yang telah tiada saat melaksanakan tugas,” paparnya.

Filosofi Kehidupan Tukik di Mata Dandim 

Menghadiri undangan para wartawan yang bergabung dalam Balai Persatuan Indonesia (PWI) Aceh Jaya melepasliarkan tukik (anak penyu) melahirkan kisah tersendiri bagi Komandan Kodim 0114/Aceh Jaya, Letkol CZI Arief Hidayat.

Dandim memberikan apresiasi atas terselenggaranya pelepasan tukik bersama aktivis pelestarian penyu.

“Bagi saya, kegiatan ini (pelepasan tukik) luar biasa,” ujar Dandim usai melepaskan tukik dan ditemani sejumlah wartawan di pos konservasi.

“Kerasnya kehidupan anak penyu mengingatkan saya pada kehidupan wartawan,” ujar Dandim melanjutkan pembicaraan.

Menurutnya, wartawan adalah bagian pengontrol sosial dan corong bagi masyarakat yang selama ini sudah berjalan luar biasa tanpa mengenal lelah.

“Ibarat tukik yang baru dilepasliarkan dan mengarungi derasnya gelombang laut menuju ke habitatnya untuk melangsungkan kehidupan,” ujar Dandim.

“Filosofinya luar biasa,” tambahnya.

Sebelumnya, Dandim telah mendapat penjelasan dari Ketua Kelompok Konservasi Penyu Aron Meubanja, Murniadi, bahwa peluang hidup tukik yang dilepasliarkan hanya satu persen saja.

Ancaman kepunahan tukik pun juga datang dari oknum masyarakat yang kerap mengambil telur tukik untuk dikonsumsi.

Kelompok Konservasi Penyu Aron Meubanja berdiri sejak tahun 2012 silam. Mereka terus bersosialisasi dan memberikan edukasi kepada publik tentang satwa dilindungi tersebut yang keberadaannya hampir punah.

Lokasi ini sudah banyak didatangi oleh sejumlah kalangan, baik mahasiswa, peniliti maupun wisatawan yang berasal dari dalam maupun luar Provinsi Aceh

“Tetap semangat. Tetap menjadi bagian kontrol sosial dan corong bagi masyarakat yang selama ini sudah berjalan luar biasa dan semoga ke depan menjadi lebih baik,” kata Dandim di hadapan para wartawan.

Mengakhiri pembicaraan, Dandim memberikan pesan khusus kepada insan pers agar terus meningkatkan kualitas pemberitaan dan tetap bertahan pada jati diri wartawan yang seharusnya.

Wakil Bupati Aceh Jaya, Tgk Yusri S mengungkapkan, atas nama pemerintah daerah menyambut baik kegiatan pelepasan anak penyu (tukik) yang diselenggarakan para jurnalis di Aceh Jaya.

Dengan adanya rutinitas pelepasan tukik tersebut, dia berharap bisa mengerakkan ekonomi warga dan bisa menjadi pusat wisata bagi warga yang mengunjungi Aceh Jaya.

“Adanya serangkaian kegiatan di hari ini, juga telah membantu kegiatan Pemerintah Aceh Jaya. Apalagi peran media selama ini sudah banyak membantu mempublikasikan tentang Aceh Jaya, baik tentang perekonomian maupun bidang pembangunan,” ujar wakil bupati.

“Insya Allah, dengan adanya kerja keras awak media mempublikasi di berbagai sektor, diharapkan Aceh Jaya semakin maju dan di kenal oleh warga luar,” pungkas Tgk Yusri. (Zammil)

BERBAGI