Beranda Tulisan Feature Tergerus Bus Gratis dan Ojol, Begini Nasib Abang Becak di Banda Aceh

Tergerus Bus Gratis dan Ojol, Begini Nasib Abang Becak di Banda Aceh

BERBAGI
Becak parkir di depan hotel kawasan Peunayong, Banda Aceh, di antara bus gratis Trans Koetaradja dan ojek online. (Foto/kia rukiah)

“Jangan sapa kami ketika menjelang pemilu saja pak. Tapi setelah terpilih, demo pun kami tidak diopen lagi. Kami harap pemerintah di Aceh mendengarkan keluhan dari kami ini”

—————

Beberapa abang becak yang mangkal di depan Hotel Parapat, Peunayong, Kota Banda Aceh, tiba-tiba saja berdiri dari tempat duduknya. Teriakan makian pun keluar dari mulut mereka, ketika sebuah bus Trans Koetaradja melintas di depan mereka.

“Bus ini betul-betul melumpuhkan perekonomian kami para tukang becak,” kata salah seorang abang becak, Senin (18/1/2021). Abang becak ini terdengar kesal. sambil menunjuk ke arah bus Koetaradja berwarna biru, yang berjalan semakin jauh dari pandangan.

Memang, sejak beberapa tahun lalu pemerintah telah menyediakan bus Koetaradja, sebagai moda transportasi bagi warga di Kota Banda Aceh. Masyarakat bahkan tidak dipungut ongkos alias gratis menaiki bus yang terkesan mewah ini.

“Penumpang becak beralih ke bus itu. Sedangkan pemerintah tak peduli terhadap mata pencaharian kami tukang becak,” kata abang becak lainnya.

“Jangan sapa kami ketika menjelang pemilu saja pak. Tapi setelah terpilih, demo pun kami tidak diopen lagi. Kami harap pemerintah di Aceh mendengarkan keluhan dari kami ini,” harapnya.

Selain itu nasib abang becak juga tergerus oleh adanya pandemi COVID-19.

“Biasanya kami mengantar pengunjung yang menginap di hotel untuk berlibur. Mereka kadang naik becak. Tapi di masa pandemi, tidak ada harapan lagi untuk mengantar penumpang dari luar Aceh yang berlibur di sini,” ujar Edi, 57.

Sejak pandemi COVID-19 melanda Aceh, hampir satu tahun ini, orang dari luar Provinsi Aceh tidak lagi berlibur ke negeri “Serambi Mekah”. Hal itu menambah sulitnya ekonomi para abang becak.

Keluhan yang sama juga dilontarkan para abang becak yang sering mangkal di depan Klinik Cempaka Lima Banda Aceh. “Sejak pukul 4 sore tadi, baru ini saya dapat penumpang pak,” kata pak Din, selepas Mahgrib, saat akan mengantar penumpangnya ke daerah Peunayong.

Pak Din adalah satu dari banyak abang becak di Banda Aceh yang kondisinya hampir sama. Kesulitan mendapatkan penumpang. Padahal menarik becak menjadi satu-satunya mata pencaharian mereka.

“Paling sekarang bisa dapat 40 ribu. Bisa dibawa pulang cuma 20 ribu,” ujar abang becak lainnya yang mangkal di seputaran Pasar Aceh.

Bagaimana dengan ojek online (Ojol)? Para abang becak mengaku pendapatannya menurun drastis dari Rp80 ribu menjadi Rp20 ribu sehari, bahkan tidak ada. Pendapatan yang sedikit membuat jam kerja para tukang becak tak menentu, karena berharap ada penumpang.

Loen hana teupe peugah padum pendapatan. Sekarang kan sudah ada ojek online, saya bingung, sepi. Satu atau dua penumpang sih dapat cuma kan enggak banyak. Enggak kayak dulu, sebelum adanyan ojek online, Rp80.000 bisa kami dapatkan,” ucap pak Zak, 63, kepada Waspadaaceh.com, Sabtu (16/1/2021), di Penayong.

Penarik becak di Banda Aceh juga mengaku kesulitan mencari penumpang karena keberadaan ojek online yang semakin menjamur. Persatuan ojol ini juga semakin besar di bandingkan dengan kumpulan tukang becak.

‚ÄúSekarang ada ojek online itu sudah jauh berbeda. Daerah Peunayong itu kan biasanya ramai, karena banyak pengunjung yang menginap di hotel untuk berlibur, dan mereka lanjut naik becak. semuanya dimakan ojek online,” ucapnya pak Zak dengan wajah kesal.

Perwakilan tukang becak di pangkalan sekitar Peunayong menuturkan, pendapatan tukang becak kian anjlok sejak adanya bus gratis Trans Koetaradja dan maraknya online.

“Kami berharap pemerintah membagi kawasan mangkal tukang becak, yang menjadi kawasan tukang becak tidak boleh dimasukin ojek online. Begitu juga sebaliknya. Hal ini agar tak saling berebut penumpang sehingga pendapan tukang becak tetap stabil,” harapnya. (Kia Rikiah)

BERBAGI