Beranda Tulisan Feature Menjajal Bus Listrik di Kota “Serambi Mekah,” Nyaman Tanpa Aroma BBM

Menjajal Bus Listrik di Kota “Serambi Mekah,” Nyaman Tanpa Aroma BBM

BERBAGI
Kondisi di dalam bus cukup nyaman, selain sejuk tersedia juga fasilitas cas HP dan kursinya bisa diatur. Di dalam bus listrik ini juga tanpa tercium aroma BBM. (Foto/Kia)

“Selain ber-AC, di dalam bus ini tidak tercium aroma BBM dan dilengkapi fasilitas cas baterai HP. Kursi di dalam bus juga bisa diatur posisinya, sehingga cukup nyaman bagi penumpang”

——–

Nyaman dan tanpa tercium aroma BBM (bahan bakar minyak). Begitu kesan yang dirasakan saat jurnalis Waspadaaceh.com pada Rabu pagi (13/1/2021), menjajal layanan bus listrik yang baru sehari beroperasi di Kota Banda Aceh ini.

Bus listrik ramah lingkungan tersebut bakal difungsikan sebagai feeder (pengumpan) bus Koetaradja. Bus berkapasitas 18 penumpang (plus sopir) ini mulai beroperasi pada 13 Januari 2021 hingga 6 Februari 2021.

Bus listrik ini cukup nyaman. Selain ramah lingkungan, di dalam bus terasa sejuk, juga tersedia fasilitas, seperti tempat mengecas hand phone (HP), televisi, kursi yang empuk dan bisa diatur posisinya serta fasilitas lainnya. Kendaraan ini juga ramah lingkungan, karena tidak ada emisi sehingga udara tetap bersih serta penumpang tetap nyaman.

Pengamatan Waspadaaceh.com, ketika mencoba layanan bus ini di kawasan Darussalam, tepat di hari pertama beroperasi, penumpang bus yang terkesan mewah ini masih minim. Bahkan penumpangnya hanya ada dua orang. Yakni jurnalis Waspadaaceh.com dan satu penumpang lainnya.

Agaknya banyak warga di Kota Banda Aceh sekitarnya, yang masih belum mengetahui keberadaan bus listrik ini. Bus yang bodinya didominasi warna biru ini memang masih baru diperasikan, dan difungsikan sebagai bus pengumpan (feeder).

Artinya, bus listrik ini hanya menjemput penumpang dari beberapa titik (koridor), kemudian mengantarkannya ke halte bus Trans Koetaradja. Para penumpang ini kemudian akan menaiki bus Trans Koetaradja, bus yang ukuran bodinya lebih besar dan kapasitasnya lebih banyak. Bus Trans Koetaradja ini beroperasi dengan jarak tempuh lebih panjang, seperti yang sudah ditentukan rutenya selama ini.

Bus Listrik siap berangkat dari Masjid Jamik Unsyiah menuju ke Fakultas Ekonomi untuk menjemput penumpang. (Foto/Kia)

Bus listrik yang difungsikan sebagai bus feeder itu, beroperasi menjemput penumpang di 5 koridor, yang terdiri dari 10 titik pemberhentian pada masing-masing koridor.

Koridor tersebut di antaranya, Koridor 1; Darussalam dengan masa uji coba 13-16 Januari, Koridor 2; tanggal 18-21 Januari, Lampineung – Pango. Selanjutnya Koridor 3; 23-26 Januari, SP. Jambo Tape -TPI Lampulo, Koridor 4; tanggal 28-31 Januari, SP.Rima – Ulee Lheue, dan Koridor 5; SP.PU – SP.Rima pada tanggal 2-5 Februari.

Di koridor satu Darussalam terdapat 10 titik pemberhentian, masing-masing Masjid Jamik, Fakultas Ekonomi, SMA Labschool, FKIP, Asrama, Masjid Teuku Cik, Fakultas MIFA, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan.

“Bus listrik ini akan berhenti pada titik-titik yang telah ditentukan. Untuk sementara waktu belum ada halte yang dibangun, tetapi sudah ada pamplet sebagai penanda tempat pemberhentiannya,” kata Muhammad Nurkhozim, 38, selaku Technical Support Electric Vehicle kepada Waspadaaceh.com.

Dia menjelaskan, bus listrik itu mulai beroprasi pada jam 7:00 WIB, dan membawa penumpang yang ada di titik koridor. Dalam satu hari, bus ditargetkan 15 kali putaran. Pada setiap titik pemberhentian, bus akan menunggu penumpang selama 1-2 menit.

Kelebihan dari bus listrik ini, katanya, adalah fure electric (murni listrik), tidak ada asap yang keluar atau tanpa asap pembakaran. Kemudian baterai yang sudah habis dayanya bisa dicas kembali. Sedangkan baterai yang sudah habis masa pakainya, masih bisa dimanfaatkan kembali.

“Jika baterai sudah habis masa pakainya dapat digunakan atau dipecah menjadi baterai- baterai kecil untuk hp dan sejenisnya,” tutur Muhammad, yang diwawancarai Waspadaaceh.com di dalam bus listrik tersebut.

Sedangkan bus yang mulai kehabisan daya listriknya, bisa kembali mengisi daya di lokasi pengisian daya yang disediakan oleh PT PLN (Pesero) Aceh.

“Kita harap masyarakat Aceh tertarik dengan bus listrik ini. Bus listrik ini disediakan untuk kemudahaan masyarakat dan sebagai upaya mengurangi kemacetan. Bus ini tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sehingga ramah lingkungan,” lanjut Muhammad Nurkhozim.

Selain itu, pengoperasian bus listrik sebagai upaya untuk menjaga kestabilan lingkungan. Sebelum diujicoba di Aceh, terhadap bus tersebut juga sudah dilakukan uji coba di Jakarta dan Bali.

Masda, salah seorang penumpang bus listrik ini, yang turut menjajal layanan bus bersama jurnalis Waspadaaceh.com, mengatakan, bus listrik tersebut cukup nyaman. Kata dia, berada di dalam bus tidak membuat kepalanya pusing, berbeda saat menumpang bus biasa.

“Failitas di dalamnya juga cukup memadai, seperti adanya AC, dan sopir bus tetap mengingatkan agar penumpang mematuhi protokol kesehatan,” katanya.

PLN Sediakan SPKLU untuk Pengisian Daya

Bila tenaga baterai bus mulai menipis, di mana bus harus mengisi daya? Ternyata PT.PLN UIW Aceh sudah menyediakan charger station di beberapa titik di Banda Aceh.

“Kami dari PLN Aceh siap mendukung kehadiran bus listrik di Aceh. Kami menyediakan charger station, atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di beberapa titik di Aceh,” kata General Manager PLN Aceh, Jefri Rosiadi, ketika hadir dalam uji coba bus listrik tersebut.

Jefri memberikan apresiasi kepada Gubernur Aceh. Pemerintah Aceh, kata dia, telah mengambil keputusan yang tepat dengan membeli bus listrik sebagai armada angkutan massal masyarakat.

“Terima kasih pak gubernur telah mengampanyekan pemakaian green energi,” kata Jefri. (KIA)

BERBAGI