Beranda Tulisan Feature Ini Dia Keripik Tajir Ummi, Renyah Lezat Beromset Rp10 Juta

Ini Dia Keripik Tajir Ummi, Renyah Lezat Beromset Rp10 Juta

BERBAGI
Ummi Ainul Mardiah, tampak sedang menggoreng keripik pisang di seputaran Jl.Khairil Anwar, Peunayong Banda Aceh. (Foto/Rukiah)

“Alhamdulillah langganan tidak lari walau pun di masa pandemi. Hal ini yang membuat saya tetap semangat untuk terus berjualan”

— Ummi Ainul Mardiah —

Melihat raut wajahnya, ibu berusia 51 tahun ini memang tipe perempuan yang memiliki semangat tinggi. Begitu cekatan mengetam (memotong) pisang di atas kuali besar berisi minyak panas, dan hanya beberapa menit kemudian irisan pisang ini menjadi keripik yang cukup lezat.

Dia lah ummi Ainul Mardiah, pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), yang selalu tampak enerjik. Ummi membuka bisnis keripik pisang dan gorengan dengan nama Keripik Tajir Ummi di sekitaran Jl. Khairil Anwar, Peunayong, Kota Banda Aceh. Di sisi kiri Hotel Palembang, tidak jauh dari pusat jajanan yang cukup terkenal di kota “Serambi Mekah,” yakni Rex.

Keripik buatan ummi Ainul Mardiah memang “laris manis,” dan menjadi incaran para pecinta cemilan keriuk tersebut. Penampilan ummi ini sederhana. Begitu juga steling atau gerobak jualannya, tak begitu mencolok. Hanya saja, konsumen yang datang seperti tak pernah putus. Satu pergi, yang lain datang, begitu seterusnya.

BACA:
Bisnis Ayam Penyet, Bertahan di Masa Pandemi
Pandemi COVID-19: Cut Dini, Usai Dirumahkan Sukses Bangun Bisnis Bakso

Gigih dan tekun, begitu kesan yang tergambar dari sosok ummi ini. Walau pun masa pandemi COVID-19 sudah berjalan hampir setahun, hal itu tidak mematahkan semangat Ainul Mardiah untuk terus berjualan, mencari nafkah.

Bagi ummi, situasi pandemi COVID-19 sekarang ini, justru dijadikan sebagai cambuk untuk memacu semangatnya. Ummi Ainul Mardiah semakin kuat dalam menghadapi tantangan seperti saat ini.

Meski di tengah pandemi, keripik pisang buatan ummi Ainul Mardiah, tetap diserbu konsumen. (Foto/Rukiah)

Ummi Ainal Mardiah juga mengatakan, di masa pandemi, dia harus lebih semangat lagi dalam mencari rezeki. “Pandemi itu bukan menjadi penghalang buat saya untuk bermalas-malas dalam bekerja,” kata ummi memberi semangat.

“Memang ini mata pencaharian kami, jadi harus tetap berjualan, meski di masa Corona begini,” ujar ibu tiga anak ini, ketika berbincang dengan Waspadaaceh.com, Senin sore (11/1/2021). Ketiga anaknya kini masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

“Alhamdulillah langganan tidak lari walau pun di masa pandemi. Hal ini yang membuat saya tetap semangat untuk terus berjualan,” tutur ummi yang kelahiran tahun 1970 ini. Kini penjualan keripik pisang dan gorengan ummi, bisa mencapai antara Rp700 ribu hingga Rp1,5 juta per harinya.

Ummi mulai membuka usahanya pada pukul 15:00 WIB, dan tutup pada pukul 22:00 WIB. Bisnis ini sudah digeluti ummi sekitar 4 tahun. Seperti juga kebanyakan usaha lainnya, pada awal memulai bisnis, ummi Ainul Mardiah harus bersabar. Tapi pelan-pelan konsumennya semakin bertambah, dan omset penjualan juga hari demi hari merangkak naik.

Sebelum pandemi COVID-19 masuk ke Aceh, Ainul Mardiah mampu menghasilkan penjualan Rp15 juta per minggunya. Namun setelah Corona datang, pendapatan dari usaha keripik pisang dan gorengan ummi ini menurun dari biasanya. Begitu pun, penurunanya tidak drastis, karena ummi Ainul Mardiah, terutama bila masa-masa ramai, masih bisa mendapat hasil penjualan mencapai Rp10 juta perminggu.

Meski hanya membuat dan menjual keripik pisang dan gorengan, ummi Ainul Mardiah mampu mempekerjakan 3 karyawan. Anak-anak ummi juga turut membantu, bila tidak sedang kuliah. Dari usaha ini lah ummi Ainul Mardiah membiayai kuliah anak-anaknya.

“Alhamdulillah, dari hasil penjualan keripik dan gorengan ini saya masih bisa menabung. Biaya kuliah anak-anak juga dari sini,” ujar ummi Ainul Mardiah sambil tersenyum.

Kata ummi, dalam sehari dia bisa menjual keripik pisang antara 35 Kg hingga 40 Kg, ditambah dengan penjualan gorengan seperti pisang goreng, tempe goreng, bakwan, dan beragam jenis gorengan lainnya.

Memang yang menjadi andalan ummi adalah keripik pisang, yang langsung dia goreng di kuali besar yang ada di dekat gerobaknya. Sehingga konsumen bisa mendapatkan keripik pisang yang masih hangat ketika membeli.

Keripik pisang ummi sangat berbeda. Tekstur keripiknya renyah dan terasa gurih. Bahkan penulis belum pernah merasakan keripik pisang selezat keripik buatan ummi Ainul Mardiah ini. Ummi menjual keripik pisang dengan harga sekitar Rp70.000/Kg. Tersedia juga untuk konsumen yang ingin membeli per-ons nya.

Renyah dan lezat, ini lah keripik pisang buatan ummi Ainul Mardiah, di Jl.Khairil Anwar, Peunayong, Kota Banda Aceh. (Foto/Rukiah)

Tampak saat mengiris pisangnya, kadang ummi merasa kepanasan akibat uap minyak goreng yang mendidih di bawahnya. Maklum, ummi masih menggunakan alat pemotong manual sejenis ketam, untuk mengiris pisangnya menjadi keripik.

Dalam sehari, ummi bisa menghabiskan hingga 6 tandan pisang. Sedangkan di waktu lebaran, karena banyak pesanan, ummi bisa menghabiskan 20 tandan pisang perharinya. “Pisangnya harus tua agar rasanya enak,” kata ummi.

Untuk itu ummi Ainul Mardiah mengaku ingin sekali memiliki mesin pemotong keripik pisang yang lebih baik, lebih modern. Mungkin ini yang perlu menjadi perhatian Pemko Banda Aceh, atau Pemerintah Aceh, membantu peralatan yang lebih modern, untuk mendukung usaha ummi Ainul Mardiah, wanita yang cukup inspiratif ini.

Bahan pokok keripik pisang ummi adalah pisang dari kebun sendiri. Ummi punya kebun yang berlokasi di Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, tempat di mana dia dilahirkan.

Melihat bisnis keripiknya cukup bagus dan sangat diminati konsumen, ummi Ainul Mardiah berencana akan membuka satu cabang lagi, yang juga berlokasi di Banda Aceh, dalam waktu dekat ini.

Ummi Ainul Mardiah berharap semoga jualanya lancar, bisa menambah karyawan, dan bisa membuka cabang baru. Semoga saja harapan mulia ummi ini bisa segera terealisasi, sehinga Keripik Tajir Ummi menjadi semakin tajir, Amin. (Rukiah)

BACA:
Gubernur Aceh: Waspada Buktikan Mampu Lintasi Zaman
Prof Mohammad Andalas Wafat, Aceh Kehilangan Dokter Terbaik

BERBAGI