Beranda Laporan Khusus M.Jamil: Dulu Saya Bekerja Sendiri, Kini Punya 20 Karyawan

M.Jamil: Dulu Saya Bekerja Sendiri, Kini Punya 20 Karyawan

BERBAGI
M.Jamil ZA, memberi penjelasan kepada DR. Hafnidar A Rani, Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), ketika mengunjungi usaha pengolahan sabut kelapa tersebut, Minggu (3/1/2021). (Foto/Ist)
“Awalnya hati saya tergerak setelah melihat banyak sabut kelapa yang terbuang menjadi sampah di daerah ini. Saya berpikir, bagaimana caranya agar ‘sampah’ ini bisa bermanfaat”

— M.Jamil ZA —

“Awalnya saya bekerja sendiri. Keset kaki ini saya bawa naik labi labi (angkot) ke Pasar Aceh. Di pasar, barang ini saya panggul sendiri, dan saya jajakan ke pembeli, dan ke toko-toko. Kadang tak ada yang laku. Harus saya bawa pulang lagi,” cerita Muhammad Jamil, 68, mengenang masa-masa sulit ketika dia baru merintis usahanya, sekitar 40 tahun lalu.

M.Jamil ZA adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yang memiliki usaha pengolahan sabut kelapa menjadi produk keset kaki, tali dan cocopeat. Pengusaha yang selalu tampak energik ini mengaku, kerja kerasnya di masa lalu kini telah membuahkan hasil. Dengan merek dagang atau nama Bina Usaha, bisnis M.Jamil terus berkembang.

Pada Minggu sore (3/1/2021), jurnalis Waspadaaceh.com, mengunjungi usaha M.Jamil yang berada di Desa Lamnga, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Dari Kota Banda Aceh, lokasi usaha pria ini bisa ditempuh lebih kurang dalam waktu 40 menit. Di rumah produksinya ini lah M.Jamil mengolah sabut kelapa, yang selama ini seperti sampah, menjadi bahan yang bernilai ekonomis dan bermanfaat.

“Awalnya hati saya tergerak setelah melihat banyak sabut kelapa yang terbuang menjadi sampah di daerah ini. Saya berpikir, bagaimana caranya agar ‘sampah’ ini bisa bermanfaat. Sejak itulah saya mulai coba mengolahnya dengan alat sederhana dan seadanya,” lanjut M.Jamil berkisah.

M.Jamil awalnya memanfaatkan sepeda dayung yang dia modifikasi untuk mengangkut sabut kelapa dari seputran kampungnya. Lama ke lamaan, ketika kebutuhan bahan baku sabut kelapa semakin besar, M.Jamil mulai menggunakan mobil pick up. Kini dia mendapat suplai bahan baku dari pelanggannya.

“Ini pak, hasil dari usaha kita selama ini,” kata M.Jamil sambil menunjuk sebuah mobil pribadi warna putih, Toyota Avanza Velos, yang parkir di depan kantornya. Selain mobil pribadi, pengusaha yang mudah senyum ini juga memiliki mobil niaga, jenis pick up, untuk mendukung usahanya.

M.Jamil mengajak Direktur Eksekutif Pusat Informasi dan Pengembangan Bisnis (PINBIS) Indonesia, Maskur Abdullah, yang datang bersama Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), DR.Hafnidar A Rani, menuju ke ruangan yang menjadi kantornya, di sebelah gudang. Di bagian dinding kantor, tampak menempel puluhan piagam penghargaan dari berbagai instansi pemerintah mau pun swasta.

Setelah mempersilahkan tamunya duduk, M.Jamil kembali bercerta. Dia memulai berkisah ketika menjalani tahun-tahun pertama merintis usahanya, yang memang terasa berat dan sulit. Namun pengusaha yang juga tercatat sebagai Ketua Forum Daerah Usaha Kecil dan Menengah (Forda UKM) Kabupaten Aceh Besan ini mengaku tetap bersabar.

“Kalau waktu itu saya berhenti, maka sampai sekarang mungkin saya belum jadi pengusaha,” ujar pria kelahiran 15 Juni 1954 ini, tersenyum.

Dibantu Pimpinan Bank Syariah

M.Jamil mengaku pernah mengalami masa sulit, ketika usaha yang sudah dirintisnya selama 26 tahun, dihantam gempa dan tsunami. Semuanya habis. Bahan baku, mesin produksi dan kendaraan. Bahkan beberapa karyawannya hilang menjadi korban tsunami.

“Tidak ada apa-apa lagi, semuanya habis,” kata M.Jamil, sedih, mengingat masa saat usaha dan karyawannya disapu tsunami. Ketika itu hanya tersisa uang Rp300 ribu di kantong celananya. “Alhamdulillah saya dan keluarga selamat,” ujarnya. M.Jamil telah memiliki 5 putra dan 4 putri.

Pria yang kini kerab menjadi instruktur untuk pelatihan keterampilan dan kewirausahaan ini mengaku, paska tsunami, dia sempat kehilangan semangat. Tapi kondisi itu tidak lama, dan M.Jamil berusaha bangkit. Meski saat itu dia tidak mempunyai cukup modal untuk memulai kembali usahanya.

Tapi pria yang selalu berpenampilan rapi ini tak menunggu lama. Beberapa bulan setelah tsunami, dia bertemu dengan salah satu pimpinan bank di Aceh yang pernah dia kenal. Begitu melihat M.Jamil, pimpinan bank itu berucap,” Ya Allah, pak Jamil, bapak selamat. Syukur Alhamdulillah. Saya kira sudah tidak bisa bertemu pak Jamil lagi,” ucapnya sambil memeluk erat M.Jamil. Keduanya pun menangis terharu.

“Bapak itu pesan, kalau perlu apa-apa agar saya menjumpai beliau di kantornya,” kata pria berkaca mata ini.

Beberapa minggu kemudian, M.Jamil menjumpai pimpinan bank tersebut di kantornya. M.Jamil menceritakan bahwa dia masih ingin melanjutkan bisnis pengolahan sabut kelapanya. “Bapak itu memberi saya uang 3 juta rupiah, dan dia mengatakan, uang itu bantuan untuk modal, bukan utang. Jadi tidak perlu dikembalikan,” ucap M.Jamil.

Atas kebaikan pimpinan bank itu, kini M.Jamil setia menjadi nasabah bank tersebut. “Itu Bank Syariah Mandiri, dan sejak dulu sampai sekarang saya nasabah bank itu,” tegas M.Jamil.

Bermodal uang itu M.Jamil kemudian membangun kembali usahanya. Pelan-pelan bisnisnya merangkak naik. Dalam perjalanan, M.Jamil kemudian juga mendapat dukungan modal dari Swisscontact, sebuah LSM dari Swiss, yang konsen untuk membantu pelaku UMKM.

“Usaha saya terus berkembang, dan sekarang saya sudah punya sekitar 20 karyawan,” kata M.Jamil bangga. Karyawannya sebagian dari warga sekitar, dan ada juga dari luar desa.

Usaha M.Jamil memang sempat “terinfeksi” virus Corona, meski tidak begitu berpengaruh signifikan terhadap operasional Bina Usaha. Hanya saja, pesanan dari Kota Medan, tersendat sejak pandemi COVID-19.

Tapi untuk di seluruh daerah Provinsi Aceh, penjualannya tetap lancar. “Permintaan masih cukup banyak, kadang kami kewalahan memenuhi permintaan dari agen atau toko-toko yang menjual produk keset kaki dan tali,” lanjut M.Jamil.

Kata M.Jamil, Bina Usaha dalam sehari mampu memproduksi 2.400 meter tali sabut kelapa atau 400 gulungan kecil. Masing-masing gulungan berukuran panjang 6,5 meter. Tali ini yang kemudian menjadi bahan pembuatan keset kaki, atau untuk kebutuhan lain. “Misalnya untuk pengikat pot bunga, atau untuk interior di cafe-cafe,” katanya.

M.Jamil juga beberapa kali mendapat kesempatan dari instansi pemerintah di Aceh, untuk memamerkan produknya di seluruh kota di Indonesia. Bahkan M.Jamil pernah ikut pameran di Bangkok, Thailand. Meski terkadang dia sibuk ketika mendapat job sebagai pengajar atau instruktur bagi calon intrepreneur, yang diselenggarakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnaker Mobduk) Aceh, namun operasional Bina Usaha tetap berjalan lancar.

“Anak-anak saya sudah saya kader. Begitu juga karyawan sudah memiliki keterampilan dan bisa dipercaya. Jadi bila saya pergi, usaha tetap berjalan lancar,” kata lelaki yang juga duduk sebagai pengurus Asosiasi Saudagar Industri Aceh (ASIA) ini.

Dua orang putra M.Jamil, kini sudah mampu menggantikan posisinya menjalan bisnis pengolahan sabut kelapa itu. “Kalau saya berhalangan, kedua putra saya itu sudah bisa meneruskan usaha ini,” ujar M.Jamil. (Abd)

BERBAGI