Beranda Tulisan Feature Ini Kisah Hafnidar, Perempuan Aceh Penyintas Tsunami

Ini Kisah Hafnidar, Perempuan Aceh Penyintas Tsunami

BERBAGI
Hafnidar A. Rani, penyintas tsunami Aceh. (Foto/Abd)
“Saya melihat gelombang tsunami begitu tinggi, airnya hitam. Bahkan tingginya jauh di atas kami. Tapi karena kekuasaan Allah, kami sekeluarga tetap selamat”

— Hafnidar A Rani —

Terjadi begitu saja. Setiap memasuki bulan Desember, Hafnidar A Rani,50, merasa cemas. Dadanya berdebar. Apalagi ketika dia melihat orang berkerumun atau mendengar suara ombak.

“Setiap menjelang hari Minggu, seolah-olah saya menunggu, akan terjadi lagi tsunami. Suasana itu yang saya rasakan cukup lama,” kata Hafnidar, dalam satu wawancara khusus di Banda Aceh, Kamis (24/12/2020).

Gempa dan Tsunami Aceh memang sudah 16 tahun berlalu. Sisa-sisa kerusakan infrastruktur, justeru nyaris tak berbekas. Gedung-gedung dan rumah sudah berdiri kembali. Malah tampilannya lebih baik dari sebelumnya. Kecuali untuk beberapa bangunan yang kemudian dijadikan sebagai museum.

Begitu juga, korban yang mengalami luka fisik, umumnya sudah sembuh. Tapi tidak demikian dengan kerusakan non fisik (psikis) yang terus menyertai dan memberi tekanan mental terhadap para penyintas bencana maha dahsyat itu. Meski sudah begitu lama berlalu, tragedi kemanusiaan itu sepertinya masih terus mengikuti perjalanan hidup mereka.

Hafnidar, satu dari banyak penyintas yang harus selalu berjuang keras. Di masa seperti sekarang ini, yakni di bulan Desember, adalah hari-hari yang penuh perjuangan. Doktor dalam bidang teknik sipil ini harus melawan kecemasannya. Bulan di mana bencana gempa dan tsunami itu menerjang Aceh. Bencana yang menimbulkan begitu banyak korban jiwa (lebih kurang 250 ribu jiwa), dan menyebabkan kerusakan begitu besar.

Suatu hari, Hafnidar bahkan pernah tiba-tiba tidak sadarkan diri saat menyetir mobilnya. Ketika kecemasan itu datang, dia segera menghentikan mobilnya, membuka kaca mobil, dan menelepon suaminya. Kadang, begitu telepon tersambung, Hafnidar pun sudah tidak sadarkan diri.

“Saat kecemasan itu tiba-tiba datang, saya harus cepat menepi. Mematikan mesin mobil, membuka sedikit kaca jendela. Saya hanya punya waktu beberapa detik untuk menelpon suami, sebelum saya tak sadarkan diri,” ujar Hafnidar, terbata-bata. Ingatannya kembali ke masa-masa sulit itu.

Menyedekahkan Pakaian

Mengenang kembali di masa itu, Hafnidar, yang kini menjabat Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) ini mulai berkisah. Sesekali dia berhenti bercerita, mengembalikan ingatannya ke masa sehari sebelum tsunami menerjang.

“Saat itu hari Sabtu, tanggal 25 Desember 2004. Entah mengapa, saya sangat ingin memberikan baju-baju saya yang masih bagus, untuk tetangga di kampung kelahiran saya, Lamjabat. Baju itu saya bungkus, dalam tiga paket. Saya tanya tetangga, apakah mau baju saya yang masih bagus? Mereka mau, dan baju itu saya berikan kepada beberapa tetangga,” kenang Hafnidar.

Hafnidar tidak menyangka, itu lah terakhir kali dia melihat saudara dan tetangganya di kampung halamannya. Karena kemudian, mereka hampir seluruhnya tewas dalam bencana gempa dan tsunami itu.

“Ternyata hari itu, menjadi hari terakhir saya bertemu dengan saudara-saudara saya. Semuanya habis terkena tsunami. Ada satu yang selamat, karena saat tsunami dia lagi pergi haji,” ujar Hafnidar lirih. Lagi-lagi dia menyeka air matanya dengan tisu putih.

Hal lain yang menjadi pertanyaan Hafnidar, mengapa saat itu dia tergerak untuk membagikan bajunya kepada saudara dan tetangga di kampung kelahirannya.

“Dan siapa sangka, empat hari kemudian, justeru saya lah yang menerima baju pemberian dari orang lain. [Hafnidar terhenti berbicara, air matanya tak terbendung]. Ketika tsunami, baju yang tersisa hanyalah yang melekat di badan saya. Di pengungsian, orang-orang datang memberikan sedekah pakaian dan makanan,” urai wanita ini. Air matanya kembali mengalir, sambil sesenggukan.

Hafnidar percaya, apa yang dia lakukan sebelum tsunami itu, menyedekahkan pakaian yang masih bagus kepada orang lain, langsung dibalas Allah SWT.

“Hanya berselang dua hari, Allah langsung membalasnya di dunia. Kalau saya tidak menyedekahkan pakaian dua hari sebelumnya, apa jadinya, saya tidak tau. Apakah saya dan keluarga bisa mendapatkan pakaian,” lanjut Hafnidar.

“Tiga hari setelah tsunami itu, teman-teman saya datang ke kamp pengungsian. Mereka datang membawakan baju untuk saya. Di situ saya menjerit…, ya Allah, baru empat hari lalu saya memberi baju kepada orang lain. Seandainya waktu itu saya tidak memberikan baju kepada orang lain, sampai hari ini mungkin saya belum punya baju,” lanjut Hafnidar dengan terbata-bata.

Rumah Disapu Tsunami

Minggu pagi, 26 Desember 2004. Saat itu Hafnidar berada di rumah ibunya, yang letaknya di sebelah rumahnya. Gempa tiba-tiba mengguncang. Hafnidar bersama suami, empat anaknya dan ibunya, cepat-cepat keluar rumah.

Mereka lari ke halaman untuk menyelamatkan diri. Hafnidar kemudian meminta Luthfi, anak keduanya, yang berusia 11 tahun untuk azan. Terjadi dua kali guncangan gempa hanya dalam beberapa menit. Tapi Luthfi tak berhenti, tetap mengumandangkan azan terus-menerus. Beberapa menit kemudian, suami Hafnidar, tiba di rumah. Beberapa menit sehabis gempa, suami Hafnidar sempat ke luar untuk bertemu teman-temannya di warung.

Hanya beberapa menit kemudian, keluarga ini mendengar teriakan, “air…air…air naik…” Suami dan anak tertuanya, Meutia atau Tia, segera berinisiatif masuk kembali ke rumah ibu Hafnidar. Saat itu air di halaman sudah setinggi pinggang. Mereka naik ke lantai dua. Air semakin meninggi, seolah-olah mengejar mereka hingga ke lantai dua.

Terjangan tsunami bahkan membuat rumah itu bergoyang, seperti hampir roboh. Dipandu suami dan Tia, anak perempuannya, Hafnidar mengikuti saja kata-kata suami. Saat itu dia menggendong anak bungsunya, Shafly, yang masih berusia 15 bulan. Sedangkan Tia memegang adiknya Hafidz, anak ketiga Hafnidar. Air di lantai dua sudah mencapai dada. Mereka bergelantungan di jendela kaca agar posisinya tetap terapung.

Air terus meninggi. Suami Hafnidar bertindak cepat, menjebol kaca nako. Saat menendang jendela dengan kaki telanjang, sebuah besi menancap hingga menembus telapak kaki suaminya. Ketika besi itu dicabut dari kaki, darah mengalir deras.

Tia, anak sulungnya yang masih berusia 16 tahun itu, dengan sigap merobek lengan bajunya. Tia kemudian membalut luka tusukan besi di kaki ayahnya untuk menghentikan pendarahan. (Tia kelak menjadi relawan, membantu para dokter asal Jerman di Aceh. Tia kemudian kuliah di Jerman dan hingga kini bekerja di negera tersebut).

Saat itu mereka harus keluar lewat jendela, karena kondisi pintu di lantai dua tidak bisa dibuka lagi. Di luar pintu sudah banyak mayat dan puing-puing rumah. Setelah kaca jendela bisa dipecah, satu-persatu mereka keluar dari rumah itu. Hafnidar dan keluarganya naik ke atap rumah. Naik lagi untuk mencapai atap yang paling tinggi pada bangunan rumah itu.

“Saya melihat gelombang tsunami begitu tinggi, airnya hitam. Bahkan tingginya jauh di atas kami. Tapi karena kekuasaan Allah, kami sekeluarga tetap selamat. Kami hanya terkena percikan air tsunami yang terasa panas,” ujar Hafnidar, mengingat peristiwa saat itu.

Hafnidar yang saat itu tetap menggendong Shafly, melihat begitu banyak mayat yang terapung. Tampak juga beberapa orang yang masih hidup, berteriak minta tolong. Mereka hanyut terbawa arus tsunami yang cukup deras.

“Suami saya coba membantu sebisanya. Seingat saya, ada delapan orang yang bisa diselamatkan suami. Mereka ditarik naik ke atap, berada di sekitar kami,” lanjut Hafnidar.

Tapi Hafnidar masih ingat ketika suaminya begitu sedih setelah gagal menyelamatkan salah seorang yang hanyut, kemudian tenggelam, karena terhimpit puing-puing bangunan. “Situasi saat itu benar-benar menakutkan, dan mencekam,” ujar Hafnidar lirih.

Hafnidar, ibu dan anak-anaknya, berada di atas atap hingga pukul 12.00 lewat. Ketika berada di atap, ada pohon kelapa yang tumbang dan bisa dijangkau. Suami Hafnidar kemudian menggambil dua buah kelapa, melubanginya dengan gigi. Hafnidar, ibu dan anak-anaknya kemudian meminum air kelapa itu.

“Sejak pagi, kami tidak makan apa-apa. Baru pada siang itu lah kami minum air kelapa,” kata Hafnidar. Air mata tampak masih membasahi pipinya.

Beberapa jam berada di atap rumah, Hafnidar mengira bahwa mereka tak akan selamat lagi. Dia melihat kapal apung milik PLN terombang-ambing ke arah mereka, tapi kemudian menjauh, dan mendekat lagi. Atap rumah tempat mereka bertahan pun sesekali bergoyang seperti akan roboh diterjang tsunami.

“Melihat kapal apung PLN mendekat, saya sudah pasrah, inilah akhir hidup kami. Sambil tetap mendekap erat Shafly, saya berpesan kepada anak-anak, semoga kita nanti bertemu di surga,” ucap Hafnidar. Dia tak mampu menahan rasa harunya, sehingga sesi wawancara dihentikan beberapa menit,

Sekitar pukul 13.00 WIB, ketika air sudah surut, Hafnidar dan keluarganya baru berani turun dari atap. Saat itu masih ada air dan lumpur setinggi pinggang di halaman. Mereka semua turun ke lantai dasar. Hafnidar dan keluarganya berjalan melintasi air berlumpur di antara puing-puing, dan mayat berserakan, menuju tempat yang lebih aman. Ke arah gunung. Kaki mereka semua terluka terkena benda-benda tajam.

Tak ada lagi emosi sepanjang perjalanan itu. Kami melihat mayat-mayat. Orang-orang berjalan seperti kami, menuju ke suatu tempat. “Di antara mereka ada yang saya kenal. Tapi kami tidak bertegur sapa, hanya saling padang tanpa emosi. Tanpa reaksi apa pun. Pikiran dan emosi kami saat itu seperti sudah mati,” ujar Hafnidar, yang memperoleh gelar doktornya di sebuah universitas di Malaysia.

Anak Kedua Terlepas dari Keluarga

Saat akan melintasi jembatan Punge, ternyata jembatan itu sudah putus. Air tampak mengalir deras di bawah puing-puing jembatan. “Sebelum kami menyeberangi jembatan, ada pula teriakan warga, air naik lagi.., air naik lagi.. Hal itu membuat kami kucar-kacir,” ingat Hafnidar. Tapi kemudian mereka memutuskan tetap menyeberangi jembatan Punge.

Hafnidar, ibu, suami dan anak-anaknya, satu per satu menyeberangi jembatan itu dengan sangat hati-hati. Tia, putri bungsunya, yang memandunya. Mereka berhasil dengan selamat menyeberangi jembatan. Tapi ketika mereka sudah berada di seberang, Hafnidar baru menyadari salah satu anaknya, yakni Luthfi, tidak terlihat dalam kelompok.

“Saat itu saya bertanya, Luthfi mana? Semua menjawab tidak tahu. Ya Allah, saya berteriak. Saya bilang pada suami, balik…kita, cari anak saya, cari sampai dapat,” ujar Hafnidar dengan nada sedih, mengingat kembali masa-masa sulit itu.

Mereka kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 14.00 lewat, mereka tiba di Pesantren Tarbiyatul Ula Salafiyah, Punie, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. Sore itu Hafnidar dan keluarga baru mendapatkan nasi dan mie instan, pemberian dari warga sekitar.

Tapi Hafnidar masih tidak bisa tenang. Pikirannya masih mengingat anaknya Luthfi, yang entah berada di mana. Mereka malam itu tidur di atas tikar, beratap langit. Saat itu mereka baru mendapatkan tenda untuk tempat berteduh, keesokan harinya. Sepanjang malam itu Hafnidar tidak bisa sedikit pun memejamkan matanya atau tertidur, karena menunggu kabar Luthfi.

Meski saat itu hatinya bergejolak, tapi Hafnidar tidak bisa lagi menangis. Tidak ada lagi air mata. Begitu juga anak-anaknya. Hafnidar hanya fokus menunggu nasib Luthfi, anak keduanya itu. Keesokan harinya, suami Hafnidar berhasil menemukan Luthfi di lokasi pengungsian PGSD Lam Peunerut. Luthfi ketika terpisah dengan keluarganya, ternyata kemudian ditemukan seorang tetangganya.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Luthfi dipertemukan ayahnya kepada ibunya. Hafnidar yang memang sudah menunggu-nunggu kedatangan Luthfi, langsung berlari, dan memeluknya erat. Tangis Hafnidar meledak.

“Ya Allah.., Luthfi, jangan ke mana-mana lagi ya. Bersama mama aja ya..jangan lepas mama ya.. [Hafnidar kembali menangis, dan tak mampu menahan emosnya],” kenang Hafnidar. Ketika itu, kata Hafnidar, Luthfi diam saja, bahkan tidak menangis. Pengalaman dalam dua hari itu, kemungkinan telah memengaruhi emosi Luthfi. Tapi bagi Hafnidar, dia bersyukur, karena bisa berkumpul kembali dengan seluruh anak-anaknya.

“Selama beberapa bulan, kami masih bertahan tidur di tenda, karena saya belum berani tinggal di dalam ruangan (rumah). Saya takut sewaktu-waktu terjadi lagi gempa,” kata Hafnidar. Kelak, delapan bulan kemudian, Hafnidar bekerja sebagai relawan kemanusiaan di NGO asal Inggris, Oxfam.

Setelah Oxfam mengakhiri program kemanusiaannya di Aceh, Hafnidar kemudian kembali aktif di kampus, menjadi dosen. Kini Dr. Ir. Hafnidar A. Rani, ST, MM, IPU, ASEAN Eng, menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik di Unmuha Banda Aceh. (abd)

BERBAGI