Beranda Tulisan Feature Hendra, Jurnalis Penyintas COVID-19: Saya Pasrah Bang, antara Hidup dan Mati

Hendra, Jurnalis Penyintas COVID-19: Saya Pasrah Bang, antara Hidup dan Mati

BERBAGI
Hendra Handyan, jurnalis yang juga Ketua PWI Kota Sabang, saat menjalani perawatan ketika positif COVID-19. (Foto/Ist)

Tengah malam 29 Oktober 2020, puncak rasa sakit yang dialami Hendra. Tubuhnya terasa lemah, tarikan nafas makin berat dan dadanya sesak berat.

Suaranya parau, terputus-putus. Tapi dia tetap menguatkan diri untuk mengabarkan sesuatu yang tidak biasa dialaminya.

“Saya sudah pasrah bang, antara hidup dan mati,” katanya lirih di ujung handphone.

Saya sendiri, tidak mengenali suara siapa yang menelepon. Sampai lima menit berbicara dengannya, penulis baru bisa yakin memang benar dia orangnya. Karena dia begitu mengenal betul penulis.

“Ini bang, aku,” sambil suaranya putus-putus. Dia melanjutkan,” aku Hendra bang, kena Covid-19,” lanjut Hendra.

Sontak, penulis terkejut sambil prihatin atas apa yang dialami Ketua PWI Kota Sabang, Hendra Handyan ini. “Kapan, di mana, dengan siapa kontak,” spontan pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut penulis.

BACA:
RSU Cut Meutia Masih Rawat 6 Pasien Terpapar COVID-19
Di Tengah Pandemi COVID-19, Pengrajin Boat di Aceh Tamiang Kebanjiran Order
Ulama Aceh Sepakat Masjid Jadi Pusat Edukasi Bahaya COVID-19

“Ada anggota DPRK Sabang baru pulang dari luar kota bang,” jelas Hendra, sedikit ragu.

Wartawan Rakyat Acah ini tidak ingat pernah bertemu dengan sama siapa saja, dalam sepekan sebelum dia terkonfirmasi positif virus asal Wuhan, China ini.

“Rasanya tidak ada. Hanya pertemuan dengan Ustad Maulana saja kita waktu itu bang,” Hendra coba mengingat-ingat dengan siapa lagi dia melakukan kontak fisik.

Tengah malam 29 Oktober 2020, puncak rasa sakit yang dialami Hendra. Tubuhnya terasa lemah, tarikan nafas makin berat dan dadanya sesak berat.

“Dua hari sebelumnya sudah ada gejala. Tapi tidak seperti malam 29 itu bang,” cerita Hendra, mengungkap rasa sakitnya.

Lantaran sudah tidak tahan lagi, Hendra menelepon pimpinan Rakyat Aceh, Imran Joni. Hendra minta difasilitasi penjemputan dengan ambulance untuk membawanya ke rumah sakit.

Setelah Joni menghubungi Direktur Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA), prihal tersebut, tengah malam itu juga datang petugas kesehatan dari RSZA bersama ambulance ke rumah Hendra.

Para petugas datang, lengkap dengan APD (alat pelindung diri). Mereka malam itu juga mengevakuasi Hendra ke ruang isolasi di rumah sakit tersebut. Tepatnya di ruang Pinere, (ruang khusus penanganan COVID-19) RSUZA.

Di ruang Pinere, banyak pasien seperti Hendra juga. Dalam satu ruang berbagi dengan dua pasien lainnya.

Hendra menceritakan, salah satu cairan obat yang disuntikkan ke dalam cairan infus, membuatnya merasakan pedih.

Hendra juga mengaku banyak diberi vitamin untuk meningkatkan imun tubuhnya. Karena sesak nafasnya agak berat, dia harus menjalani pengobatan pernafasan. Selang masuk ke dalam lubang hidung, dengan kandungan obat isap ventolin nebolizeir untuk meringatkan nafasnya.

Sejak saat itu, hari demi hari Hendra menjalani kehidupan baru sebagai pasien penyandang Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Hendra selama ini bisa disebut sebagai orang yang kurang disiplin menjalankan prokes (protokol kesehatan). Meski para ahli kesehatan telah menganjurkan agar masyarakat memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M).

Begitu dia mengalami sendiri, betapa menderitanya ketika terpapar virus Corona, baru lah sadar bahwa imbauan itu sangat berarti untuk menjaga keselamatan. Masyarakat mestinya menaati anjuran pemerintah, menerapkan 3M itu.

“Sudah benar kali abang ke mana-mana selalu pakai masker,” ujar Hendra. Efek abai terhadap gerakan 3M, kelurga dekat Hendra pun ikut jadi korban, terpapar COVID-19.

Nur Siska Hasanah, istri Hendra dan tiga anaknya, ikut terpapar COVID-19. Itu diketahui setelah Hendra dinyatakan terkonfirmasi positif. Lalu esok harinya, ketiga anak dan istri Hendra melakukan uji Swab, hasil semuanya positif.

Meski positif, anak dan istrinya tidak menjalani perawatan di ruang Pinere seperti dirinya. Karena ruang Pinere penuh, anak anak dan istrinya menjalani isolasi mandiri di rumahnya kawasan Ulekareng, Banda Aceh.

“Alhamdulillah. Kondisi anak anak dan istri saya lebih sehat dan imunitasnya kuat. Saat dilakukan tes ulang, sepekan kemudian sudah negatif,” sebut Ketua PWI Kota Sabang dua priode itu.

Berbeda dengan Hendra sendiri, yang harus menjalani perawatan selama 10 hari di Pinere. Hari-hari yang dia lalui terasa berat. Apalagi sakit sesaknya cukup berat. “Saya sudah pasrah hidup atau mati,” ujar Hendra mengenang hari-hari berat yang menyiksa fisik dan jiwanya.

Pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri, ketika Hendra melihat pasien-pasien yang terinfeksi virus Corona di ruang Pinere, dalam keadaan diinfus. Hendra juga melihat ada pasien yang sudah meninggal dunia.

Setelah sepuluh hari dirawat di ruang Pinere, kesehatan Hendra berangsur membaik. Dua kali dilakukan tes swab, hasilnya negatif. Karena sudah mendapat isyarat dokter bahwa dia boleh pulang, Hendra tanggal 7 November 2020 pulang ke rumahnya.

Tapi Hendra tidak diperkenankan kontak fisik dengan pihak lain selama masa penyembuhan. Sepekan di rumah, Hendra coba melakukan komunikasi dengan sahabat dan sejawatnya.

Tapi, masih ada yang berbeda dengan seorang Hendra. Suara yang tegas, tidak lagi terdengar. Saat berbincang dengan jurnalis Waspadaaceh.com, untuk minta embargo hasil wawancaranya, juga dengan suara masih terputus-putus.

“Bang tunda dulu ya bang, mohon tidak dimuat dulu. Baru saja aku sesak dan harus menggunakan alat nebolizer,” tutur Hendra.

Dia khawatir begitu diberitaan, dia bakal tidak bisa istirahat karena pasti banyak yang meneleponnya untuk menanyakan kabarnya.

Kini, hampir sebulan Hendra terpapar virus Corona. Meski sudah sembuh, tapi Hendra mengaku, dadanya masih sering sesak dan batuk-batuk kecil.

“Tobat kita bang,” ucap Hendra, dengan mohon ampunan. Hendra juga mengingatkan para jurnalis agar patuh prokes, tidak abai terhadap terhadap anjuran pemerintah untuk menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak). (Aldin Nainggolan)

BACA:
Ini Kisah Bobby, Sang Jurnalis Penyintas COVID-19 di Medan
Meski Masa Pandemi COVID-19, Pelajar Aceh Boyong 5 Medali di Ajang Internasional
Peduli COVID-19, Mahasiswa KKN Unimal Kampanyekan 3M ke Masyarakat

BERBAGI