Di Tengah Pandemi COVID-19, Pengrajin Boat di Aceh Tamiang Kebanjiran Order

    BERBAGI
    Ketua Komisi II DPRK Aceh Tamiang, H.Saiful Sofyan, bersama anggota dewan lainnya ketika meninjau pengrajin sampan dan boat di Kampung Paya Udang, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang. (Waspada/Ist).

    Kualasimpang (Waspada Aceh) – Pandemi COVID-19 yang melanda negeri ini, termasuk Provinsi Aceh, telah menimbulkan banyak korban jiwa, pergeseran tananan sosial dan kerusakan ekonomi. Banyak orang kehilangan pekerjaan, dan banyak pula yang kehilangan mata pencaharian dari sektor usaha.

    Namun tidak demikian dengan dua pengrajin sampan dan boat (perahu ukuran besar), Zulkifli dan Hamidi, yang membuka usahanya di Kampung Paya Udang, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang. Usaha mereka tetap bisa eksis di tengah masa pandemi COVID-19.

    Zulkifli dan Hamidi yang dibantu sejumlah pekerjanya, tetap memproduksi sampan dan boat setelah kebanjiran order. Kebetulan, keberadaan pengrajin sampan atau boat saat ini memang sudah langka di Kabupaten Aceh Tamiang. Untuk melakoni bidang ini seseorang harus memiliki keahlian khusus.

    “Ada yang order untuk menempah sampan dan boat dari Aceh Tamiang dan ada juga dari luar Aceh Tamiang. Bahkan ada yang pesan dari Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara,” ungkap Zulkifli kepada Ketua Komisi II DPRK Aceh Tamiang, H.Saiful Sopyan.

    Saiful Sopyan didampingi para anggota Komisi II DPRK lainnya, mengunjungi lokasi pembuatan sampan dan boat milik Zulkifli dan Hamidi, di Desa Paya Udang, Jumat (20/11/2020).

    Menurut pengakuan kedua pengrajin itu kepada rombongan Komisi II DPRK Aceh Tamiang, produksi sampan dan boat tetap berjalan lancar. Banyak sampan batang dan boat ukuran 23 kaki dan 24 kaki yang mereka buat.

    Pengrajin ini menjelaskan harga satu unit sampan batang mencapai Rp6 juta per unit, sedangkan boat ukuran 23 dan 24 kaki harganya bisa mencapai paling mahal Rp50 juta untuk satu unit. Pengrajin juga menjelaskan, untuk menyelesaikan satu unit sampan atau boat memerlukan waktu antara 12 hari sampai 20 hari, melibatkan sedikitnya lima tenaga kerja.

    “Kendalanya kadang-kadang terkait dengan bahan baku kayu. Kayu yang digunakan sebagai bahan baku untuk membuat sampan atau boat, harus berkualitas,” ungkap Zulkifli didampingi Hamidi kepada anggota DPRK Aceh Tamiang.

    Sementara itu Ketua Komisi II DPRK Aceh Tamiang, Saiful Sopyan, menyebutkan kepada Waspadaaceh.com, kendalan lainnya yang dihadapi para pengrajin adalah keterbatasan peralatan untuk membuat sampan atau boat. Para pengrajin membutuhkan peralatan yang lebih modern.

    “Selama ini untuk membuat sampan atau boat dilakukan secara tradisional dengan peralatannya tradisional,” ungkap Saiful mengutip keterangan pengrajin tersebut.

    Menurut Saiful, pengrajin sampan atau boat memang perlu mendapat perhatikan dari Pemerintah Daerah Aceh Tamiang. Seharusnya mereka memperoleh bantuan peralatan dan bantuan lainnya sebagai stimulus bagi para pengrajin yang sudah langka itu.
    (Muhammad Hanafiah)

    BERBAGI