Beranda Tulisan Feature Manfaatkan Lahan Kosong, Ini Jurus Srikandi Banna Tani Dukung Ekonomi Keluarga

Manfaatkan Lahan Kosong, Ini Jurus Srikandi Banna Tani Dukung Ekonomi Keluarga

BERBAGI

“Buat bedengan ini kami kerjain sendiri para ibu-ibu. Kami hanya pakai bantuan orang untuk nimbun karena tidak sanggup”

—–

Senyum merekah dari bibir seorang wanita di kebun kangkung nan hijau. Dia pun bersenda gurau saat belasan perempuan, teman-temannya, mencabut kangkung yang sudah saatnya dipanen.

“Ini panen yang kedua setelah kami mulai sejak bulan Oktober lalu,” kata Nurjariah, warga Kota Baru, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Sabtu (21/11/2020).

Perempuan paruh baya itu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Banna Tani. Dia memimpin 25 ibu rumah tangga lainnya, menggarap lahan kosong sekitar 20 meter persegi.

Nurjariah berbagi cerita. Sebelum panen tiba, kelompoknya menghadapi sejumlah tantangan. Bila hujan datang kebun mereka tergenang air. Bekicot (keong) dan serangga juga rajin melumat tanaman mereka.

Nurjariah mengatakan, sebelum menjadi kebun, lahan yang mereka garap adalah tanah kosong penuh ilalang. Lantas dia dan rekan-rekannya membersihkan, membangun rumah bibit, menimbun tanah, hingga membuat bedengan.

“Buat bedengan ini kami kerjain sendiri para ibu-ibu. Kami hanya pakai bantuan orang untuk nimbun karena tidak sanggup,” kata perempuan kelahiran Aceh Tamiang tahun 1968 itu.

Jadilah kebun asri. Tumbuh subur tanaman kangkungnya, bayam, terong, cabai, timun, lengkuas, kencur, hingga jahe merah. Semua jenis tanaman yang memberi manfaat.

Keberhasilan memanfaatkan lahan kosong itu memberi motivasi kepada warga lainnya. Kini nyaris tak ada lahan kosong di sekitar rumah warga. Rumah bibit Banna Tani menggratiskan bibit sayuran yang ingin ditanam anggotanya.

“Sangat berguna dan bermanfaat. Ibu-ibu jadi lebih senang karena kita nanam sendiri tidak payah beli. Yang sebelumnya tidak suka menanam jadi suka nanam,” ungkapnya.

Tak ayal, urusan dapur turut lancar. Di Kota Baru ekonomi warga berputar. Kegiatan ibu-ibu ini sangat bermanfaat, apalagi di masa pandemi COVID-19, di mana masyarakat umumnya lebih banyak beraktifitas di sekitar rumahnya masing-masing.

“Kalau biasanya dalam sebulan kami 30 hari membeli sayur, kalau sekarang hanya 10-15 hari saja, sisanya kami ambil di kebun,” ungkapnya.

Di Balik Cerita Gembira

Dinas Pangan, Peternakan, Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Banda Aceh ada di balik gembiranya warga. Instansi itu sejak 2018 mengerahkan para penyuluh ke sejumlah gampong (desa).

Anggota KWT rajin “disirami” dengan ilmu bercocok tanam, mulai dari menyemai hingga panen.

“Para penyuluh inilah yang setiap hari mendampingi. Apabila ada kendala dalam pemupukan, pengolahan tanah, menanam semua ditangani oleh para pendamping yang merupakan penyuluh dari DPPKP Kota Banda Aceh,” jelas Kepala Bidang Pangan DPPKP Kota Banda Aceh, Wahyuni.

Sejak tahun 2018, DPPKP Kota Banda Aceh telah membangun 11 rumah bibit untuk KWT yang tersebar di wilayah Kota Banda Aceh melalui Program Pengembangan Pekarangan Rumah.

Pada tahun 2018 pihaknya membangun di KWT Maju Beusaree Gampong Lampulo, KWT Mawar Gampong Ceurih, KWT Bina Asri Gampong Jawa, KWT Asri Gampong Emperom dan KWT Bungong Seulanga Gampong Alue Deah Tengoh.

Disusul pada tahun 2020 pembangunan rumah bibit kembali dilanjutkan di enam gampong lainnya yaitu KWT Meutuah Tani Gampong Peulanggahan, KWT Banna Tani Gampong Kota baru, KWT Fitrah Gampong Ie Masen Ulee Kareng, KWT Bungong Melati Gampong Jeulingke, KWT Bijeh Ban Keumang Gampong Lambhuk serta KWT Jeumpa Kuneng Gampong Peunyerat.

Dia berharap agar semua KWT tetap semangat dalam pengembangkan pekarangan rumah.

“Selain untuk memenuhi pangan sehat untuk keluarga juga bisa membantu ekonomi keluarga karena juga hasil panennya bisa dijual.”

Bila begitu, layaklah anggota Banna Tani disebut srikandi, setidaknya untuk rumah sendiri. (Ria)

BERBAGI