Beranda Profil Dulu Pemburu, Sekarang Penyelamat Gajah. Begini Kisahnya

Dulu Pemburu, Sekarang Penyelamat Gajah. Begini Kisahnya

BERBAGI
Muslim, Relawan Tim Pengaman Flora dan Fauna (TPFF). (Foto/Faisal)
“Saya sangat menyesal jadi pemburu dulu. Dan saat anak saya besar nanti, saya akan tunjukan inilah gajah, harimau dan kayu meranti yang terkenal di Indonesia. Mudah-mudahan dengan cara kami melindungi hutan dan satwa ini, generasi kami dapat menikmatinya di masa depan nanti”

 

Namanya Muslim, usianya 33 tahun. Siapa sangka kalau sekarang lelaki ini menjadi relawan penyelamat binatang yang dilindungi, antara lain gajah, harimau dan jenis binatang dilindungi lainnya. Padahal dulunya Muslim dikenal sebagai seorang pemburu harimau.

Tapi kini Muslim lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menangani konflik manusia dengan binatang liar, khususnya gajah. Muslim sehari-hari hilir mudik di sekitar Desa Karang Ampar dan Bergang, Kecamatan Ketol, Kabupeten Aceh Tengah.

Konflik gajah dengan masyarakat di Desa Karang Ampar dan Bergang, selama ini memang tergolong tinggi. Terjadi berkepanjangan sejak tahun 2013, mengakibatkan puluhan hektare lahan perkebunan warga mengalami kerusakan, diobrak-abrik hewan besar berbelalai panjang itu.

Muslim, selain relawan, kesehariannya juga sebagai petani dan peternak. Pria ini mengaku, dahulunya dia pernah menjadi seorang pemburu haraimau. Dia menjadi pemburu mengikuti jejak kakeknya yang dulunya juga seorang pemburu badak dan gajah.

“Dulunya saya seorang pemburu haraimau mengikuti kakek. Kehidupan kakek kami dulu selain bertani ya mareka berburu satwa seperti gajah, harimau dan badak. Sistem berburu dulu saat dapat hasil buruannya mereka menukar dengan beras bukan dengan uang,” kata Muslim kepada Waspadaaceh.com, Sabtu (7/11/2020).

Laki-laki kelahiran 1986 itu mengakui, dia bahkan pernah berurusan dengan masalah hukum dan sempat ditahan, ketika hendak menjual kulit dan tulang hariamu hasil beruan pamannya kepada pengumpul.

“Ceritanya dulu saat masih sekolah, almarhum ayah menyuruh mengantarkan kulit harimau kepada pengumpul. Saat itu saya ditangkap pihak kepolisian dan menjadi tahanan selama 20 hari,” jelasnya.

Sikap Muslim berubah ketika anaknya bertanya kepada dia. “Apa bisa melihat gajah dan harimau secara nyata, seperti yang ada di gambar buku sekolah ini”?

“Saya sangat menyesal jadi pemburu dulu. Dan saat anak saya besar nanti, saya akan tunjukan inilah gajah, harimau dan kayu meranti yang terkenal di Indonesia. Mudah-mudahan dengan cara kami melindungi hutan dan satwa ini, generasi kami dapat menikmatinya di masa depan nanti,” ujarnya.

Karena itu, pasca terjadi konflik gajah dengan warga di Karang Ampar dan Bergang, Muslim mengajak pemuda di dua gampong tersebut, membentuk sebuah kelompok untuk meminimalisir konflik gajah dengan warga di dearah itu. Dia juga mengajak warga di sana untuk menjaga seluruh binatang yang dilindungi, termasuk juga harimau.

“Kami bentuk kelompok yaitu TPFF yang anggotanya tergabung dari dua desa. Anggota dalam TPFF yang saya rekrut, dulunya juga pemburu satwa. Tujuan kami membentuk kelompok itu untuk menjaga gajah dan binatang dilindungi lain di hutan kami,” terangnya.

Dia juga berharap, Pemerintah Aceh dan Aceh Tengah dapat merealisasikan usulan Tim Relawan Pengaman Flora dan Fauna (TPFF) untuk Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) agar habitat gajah terlindungi dan tidak terjadi konflik dengan manusia kembali.

“Kami telah usulkan kepada Pemerintah Aceh dibuat KEE untuk gajah itu. Saat ini gajah di Karang Ampar tidak ada tempat. Dari Aceh Tengah ke Bener Meriah dan diusir ke Pidie Jaya dan ke Bireuen sehingga membuat gajah itu memberontak. Kami harap KEE itu terwujud dan kami relawan siap menjaganya,” harapnya. (Faisal)

BERBAGI