Beranda Profil Inmemoriam H.Keuchik Leumiek, Sang Abdi PWI Aceh ( Bag II)

Inmemoriam H.Keuchik Leumiek, Sang Abdi PWI Aceh ( Bag II)

BERBAGI
Harun Keuchik Leumik (HKL) wartawan Waspada yang mewawancarainya (T.Mansursyah dan Aldin NL) terkait kehadiran penceramah kondang Ustad Abdul Somad (UAS) di Masjid Haji Harun yang dibangun HKL untuk orang tuanya. (Foto/Adnan NS)

“Bagi Harun, dunia kewartawanan tetap tak bisa lekang dari dirinya. Jabatan terakhi Harun sebagai Kepala Perwakilan Harian Analisa di Aceh”

Bagi kalangan pers sendiri panggilan akrap untuk pemilik nama Harun Keuchik Leumiek ini disingkat dengan “HKL”. Dalam foto teks dan kode berita di salah satu surat kabar tempat dia bekerja sebagai wartawan, juga disingkat dengan HKL.

Ada juga yang menulis dengan HAKAEL. Bagi HKL ini angka 7 sebagai angka “keramat” atau angka lucky. Saya tak sempat bertanya pada mendiang kenapa setiap mobilnya menggunakan angka 7. Atau angka 77 sebagaimana ujung nomor kartu halo hand phonenya berangka 77.

Sebaliknya jika ditilik dari perjalanan hidup (lahir) dan meninggalnyanya, justru angka luckynya jatuh pada bulan September. Bukan 7. (19 September 1942-16 September 2020).

Bakat berniaga logam mulia HKL diturunkan dari ayahnya. Ayahnya seperti sengaja mengarahkan Harun kecil pada sekolah kejuruan SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Negeri Jalan Jakarta, Peunayong, Banda Aceh. Kini jalan itu telah berganti nama menjadi Jalan Maimun Saleh (pilot pertama asal Aceh Besar).

Setamat di situ, Harun remaja melanjutkan ke jenjang SMK, Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negeri Darussalam, Banda Aceh. Masih searah dengan kedisiplinan ilmunya, Harun meneruskan ke jenjang perkuliahan di Fakultas Ekonomi (Fekon) Universitas Syiah Kuala, di Kota pelajar/mahasiswa (Kopelma) Darussalam.

Di sini Harun hanya mampu bertahan pada tingkat persiapan (tahun pertama saja). Ketika itu belum mengenal Sistem Kuliah Semester (SKS). Walau terbilang jauh berbeda umur, Harun dan saya sama-sama alumni jenjang  sekolah menengah hingga tingkat fakultas yang sama. Bedanya, saya bisa menggapai tingkat sarjana muda di jaman perpoloncoan itu.

Sebagaimana sikap orang tuanya, Harun juga mengarahkan putra tunggalnya M.Kamaruzzaman, untuk melanjutkan kuliah pada fakultas yang sama hingga berhasil meraih gelar SE (Sarjana Ekonomi).

Harun dalam meniti karir jurnalistiknya berawal pada hasil karya fotonya saja. Karyanya selalu dimuat pada koran Mimbar Swadaya milik Noerchalidyn pemilik Sabana Press. Tahun 1970-an, HKL bergabung dengan Noechalidyn teman seangkatannya. Mimbar Swadaya inilah cikal bakal SIUPP lahirnya Serambi Indonesia. Media ini ketika itu dicetak pada Percetakan Negara Banda Aceh.

HKL satu-satunya wartawan ketika itu jika tugas meliput atau menghadiri undangan, menggunakan mobil sedan Holden warna abu-abu.

Harun adalah anak kedua dari enam bersaudara sekaligus putra tunggal pasangan H.Keuchik Leumiek – Hajjah Safiah. Ayahnya juga seorang utoh (pandai emas) merangkap saudagar emas terkemuka di Kutaraja (sekarang Banda Aceh-Red). Masa remajanya di awal 1960-an Harun sudah memiliki hobby berkodak.

Dengan scooter Piaggio made in Italy, Harun muda ketika sedang berkeliling kota bekas kerajaan ini sambil menyandang tustel (kamera) merk Seagull. Moncong kodaknya bisa ditarik menonjol ke luar. Masa itu tustel atau kodak  tergolong barang langka dan mewah bagi warga setempat. Bagi wartawan usang atau wartawan veteran sangat paham akan bentuk kamera manual jenis SLR ini.

Dalam karir perdananya, sangat menonjol dalam tampilan buah karya berupa: Foto teks/Harun Keuchik Leumiek. Era berikutnya dia pun mulai gemar menulis. Dari Surat Kabar Mimbar Swadaya Banda Aceh yang masih menggunakan teknologi letter press, Harun hijrah menjadi wartawan Harian Mimbar Umum terbitan PT Madju Medan. Ketika itu Mimbar Umum sudah mulai terbit dengan sistim offset (plat cetak).

Di isis lain, masih di bawah binaan ayahnya, bisnis emas kian berkembang pesat. Orang tuanya tiba-tiba jatuh sakit dan menghadap sang khalik pada akhir 1981. Dia terpaksa harus menyetir sendiri bisnis ayahnya ini. Kamaruzzaman, satu-satunya putra mahkotanya dari lima bersaudara pasangan H.Harun – Hj.Salbiah bin Husen, kala itu belum bisa membantunya. Memet ketika itu masih duduk di penghujung bangku sekolah dasar.

Bagi Harun, dunia kewartawanan tetap tak bisa lekang dari dirinya. Beberapa tahun berselang, untuk karir jurnalistiknya, Harun pindah mengabdi ke Harian Analisa Medan, hingga malaikat menjemputnya bada Zuhur 16 September 2020. Jabatan terakhi Harun sebagai Kepala Perwakilan Harian Analisa di Aceh.

Harun sendiri lahir pada 19 September 1942. Rencananya pada Happy Birth Day (HDB) ke 78 ini, dia akan me-launching buku Harun Keuchik Leumiek. Sang Penyelamat Benda Budaya. Bersamaan ini rencananya juga dilakukan peresmian taman Masdjid H.Keuchik Leumiek yang megah itu.

Praktisnya ada triple agenda pada hari itu. Pertama HDB usianya ke 78, kedua, launching buku dan ketiga rencana peresmian taman. “Droe hadir eunteuk beuh” (saya diminta hadir) pada rencana acara  seremoni itu. Apa hendak dikata? Ternyata Allah Swt berkata lain.

“Innalillahiwainnailaihirajiun. Selamat jalan abang, jasa mu tetap dikenang orang,” bisik hati ku. Allah Swt lebih dulu memanggilnya tiga hari menjelang milad ke78 nya.

Saya tak menyangka kalau kalimat  yang meluncur dari mulutnya pada Hari itu, Kamis (20/8/2020) pukul 10.55 WIB, adalah kalimat terakhir dari Bang Harun. Kebetulan saya tergolong dekat dengan keluarganya.

Hubungan ini sudah berlangsung sejak dari orang tua saya yang anemar kayu di Aceh Barat dengan orang tuanya H.Keuchik Leumiek, pengusaha logam mulia. Saya memanggil orang tuanya dengan sebutan Yah Wa (Pak Wo). Ayah saya menyebut abang untuk H.Keuchik Leumiek.

Saya masih ingat sepanjang tahun 1970-an itu setiap bulan pasti harus menghadapnya. Dulu untuk mencairkan kiriman wesel pos harus ada back up kartu pengenal C-7 milik HKL. Alamat wesel saya dari orang tua di Duri, Riau, selalu ditujukan lepada Toko Emas Keuchik Leumiek Jalan Perdagangan 115 Banda Aceh. Kini jalan itu berganti nama menjadi Jalan Tgk Chik Pantee Kulu.

Setiap ada kegiatan besar dan kecil, saya selalu mendapat kehormatan untuk hadir. Tak ketinggalan undangan seremoni perkawinan perak dan perkawinan emasnya dengan Salbiah Binti Husen. Kami pun saling berkunjung setiap lebaran Idul Fitri dan Idul Adha.

Di samping tetap menekuni dunia jurnalistik praktis, diam-diam HKL menerbitkan karya tulis dalam wujud delapan buku. Yang terakhir gagal dilau chingnya. Dia keburu dipanggil IlahiRabbi.

Ada delapan naskah buku yang diterbitnya. Di antaranya yang saya ingat buku sejarah, adat dan budaya serta perjalanan ibadah umrah serta buku yang belum sempat diluncurkan. Kini buku karyanya itu menjadi referensi kaum milenial.

Berkat sederetan buku karya tulis ini, telah mengantarkan HKL sebagai penyandang Press Card Number One (PCNO). PCNO adalah predikat karir tertinggi di Indonesia dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sekitar 18 tahun silam di masa saya memimpin PWI Aceh, HKL pernah juga menerima kartu PWI Seumur Hidup.

Sejak awal karirnya di dunia kewartawanan, HKL sudah mulail aktif dalam kepengurusan PWI Aceh awal 1980-an mulai level paling bawah. Jabatannya naik menjadi Wakil Bendahara, Bendara, Wakil  Ketua Bidang Kesejahteraan, Ketua DKD PWI Aceh hingga akhir hayatnya masih berstatus sebagai penasehat PWI Aceh.

Masa-masa sulit dalam bidang financial di tubuh PWI Aceh, HKL sering tampil di depan untuk menalangi berbagai persoalan keuangan yang muncul. Sikap HKL yang setia ini ketika itu, sesulit apa pun dialami PWI, orang lain tak boleh tahu. Pada hari tradisi yang sakral bagi wartawan Aceh, kebutuhannya harus terpenuhi.

Begitu juga saat PWI Aceh sedang giat membangun tower pers sebagai markas barunya di Jalan Kuta Alam No 3 Simpang Limong Banda Aceh. HKL aktif memantau dan menanggulangi anggaran bersifat sementara. (Adnan NS).

Tulisan sebelumnya
BERBAGI