Beranda Opini Pembelajaran Daring Antara Keniscayaan dan Kesiapan

Pembelajaran Daring Antara Keniscayaan dan Kesiapan

BERBAGI
Penulis, Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A adalah Dosen Prodi Hubungan Internasional, FISIP Universitas Almuslim Bireuen, Aceh.
“Di sisi lain kampus dihadapkan pula dengan kenyataan, banyak mahasiswa yang tidak mampu lagi melanjutkan kuliah karena mengalami kesulitan ekonomi”

—————

Oleh: Teuku Cut Mahmud Aziz

Penyebaran pandemi Coronavirus atau COVID-19 ke seantero dunia membuat ekonomi dunia mengalami pontang-panting. Banyak negara masuk ke jurang resesi. Pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan bahkan minus, termasuk Indonesia.

Pandemi COVID-19 juga memberikan pukulan keras terhadap dunia usaha di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Jumlah penggangguran bertambah sebagai dampak dari pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh sejumlah perusahaan yang bangkrut. Bahkan di Provinsi Aceh, ada 8.462 warga yang kehilangan pekerjaan selama pandemi COVID-19 (Atjehwatch.com, 12/05/2020). Data itu diketahui dari rapat antara Dinas Ketenagakerjaan dan Mobilitas Penduduk Aceh dengan jajaran Komisi V DPR Aceh.

Dampak pandemi juga sangat berimbas ke dunia pendidikan di dunia, termasuk pendidikan tinggi. 13 Universitas di Inggris mengalami krisis keuangan dan dinyatakan bangkrut (Kompas.com, 06/07/2020). Situasi yang sama juga terjadi di banyak kampus di Amerika. Banyak kampus kecil yang ‘bertumbangan’ terutama yang mengandalkan manajemen kampus dari biaya kuliah, biaya sewa asrama kampus dan konsumsi mahasiswa.

Melihat situasi yang terjadi, menjadi pertanyaan, bagaimana dengan perguruan tinggi di Indonesia? Pasti hal ini juga berimbas pada kampus-kampus kecil yang tidak mampu beradaptasi dengan transformasi digital  dan mengandalkan rekrutmen dengan cara-cara tidak efesien dan efektif. Mereka akan kesulitan  dalam mendapatkan calon mahasiswa.

Di sisi lain kampus dihadapkan pula dengan kenyataan, banyak mahasiswa yang tidak mampu lagi melanjutkan kuliah karena mengalami kesulitan ekonomi. Hal itu bisa disebabkan orangtuanya terkena PHK atau yang usaha orangtuanya yang mengalami kebangkrutan (Ekonomi.bisnis.com, 16/06/2020).

Indonesia adalah negara yang memiliki paling banyak Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hanya sebanyak 85 perguruan tinggi dari 4000-an PTS. Karena terlalu banyak dan tidak berimbang dari segi kualitas, jauh-jauh hari, pada 2017 Kemenristek Dikti sudah mewanti-wanti untuk menindak tegas perguruan tinggi yang masuk kategori manajemen tidak profesional atau masih abal-abal pada 2020.

Bahkan sejak 2011 Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid telah mengingatkan bahwa Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (PTSI) tidak boleh hanya mencari keuntungan semata. PTS harus melakukan berbagai upaya dan terobosan agar dapat berkompetisi di tingkat global. Jika tidak, ia akan terkena seleksi alam (Malang.kompas.com, 16/08/2011). Sekarang sudah memasuki tahun 2020, maka pernyataan Kemenristek Dikti (kini kemendikbud) dan Rektor UII justru semakin cepat terbukti dan terlaksana dengan adanya pandemi Covid-19.

Pandemi COVID-19 menebarkan ketakutan dan kerugian di banyak sektor. Namun di balik itu semua, pandemi ini justru menyadarkan manusia di seluruh penjuru dunia, bahwa masyarakat digital adalah sebuah keniscayaan yang harus segera dipercepat dan tidak boleh ditunda lagi. Cara-cara hidup baru yang harus dilalui manusia di mana pun ia berada tanpa pandang bulu, tanpa melihat asal negara atau kewarganegaraan, tanpa harus melihat apakah seseorang atau komunitas sedang berada di daerah perkotaan atau pedesaaan.

Semua diposisikan sejajar dan harus melakukan dengan cara-cara yang sama dan baru. Pertanyaannya bukan lagi pada suka atau tidak suka kita menggunakan cara-cara baru berbasis teknologi informasi tapi pertanyaannya lebih pada siap atau tidakkah kita beradaptasi dengannya. Jika tidak suka, justru kita sendiri yang mengalami kerugian dan semakin tertinggal, tergilas oleh waktu dan peradaban baru.

Universitas Almuslim, kampus yang berada di Kabupaten Bireuen, sekitar 15 menit perjalanan darat dari Kota Bireuen ke lokasi kampus yang berada di Gampong (Desa) Matang Glumpang Dua di Kecamatan Peusangan, pada 31 Agustus – 1 September 2020 melaksanakan Moska (Masa Orientasi Kampus) secara daring dengan live streaming Zoom, youtube, facebook, dan Radio Suara Almuslim FM.  Moska adalah orientasi kepada para mahasiswa baru dan juga diikuti oleh dua mahasiswa asing, yaitu Megan (20) yang berasal dari Amerika Serikat dan Ando Kazuma dari Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang.

Materi Moska terdiri dari sejarah Yayasan Almuslim Peusangan, memperkenalkan sistem akademik dan sistem kuliah di perguruan tinggi, 4 pilar kebangsaan, dan organisasi mahasiswa, serta aktivitas kemahasiswaan lainnya. Kegiatan yang dilakukan ini mengikuti arahan dari Dirjen Dikti Kemendikbud, tentang Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Tidak hanya Moska, kegiatan operasional kampus juga dilakukan secara online termasuk aktivitas perkuliahan pada semester ini.

Apa yang dilakukan oleh Universitas Almuslim, walau pun berada di kota kecamatan memperlihatkan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh perguruan tinggi – perguruan tinggi yang berada di bawah arahan dan koordinasi Kemendikbud. Tanpa melihat letak geografis. Apakah kampus tersebut berada di Pulau Jawa atau di provinsi yang jauh dari Ibukota Negara atau di ujung Indonesia, semua berada di bawah protokol dan kebijakan merdeka belajar – kampus merdeka Kemendikbud.

Tinggal apakah kita siap memanfaatkan kemudahan teknologi atau tidak? Sistem pembelajaran daring juga dilakukan oleh banyak perguruan tinggi di dunia tanpa melihat apakah perguruan tinggi tersebut menduduki ranking universitas kelas dunia atau Nasional atau masih jauh dari standar internasional. Sebagai sebuah keniscayaan, semua dipacu dan dituntut untuk melakukan hal yang sama, jika tidak ingin terkena seleksi alam.

Tidak hanya di tingkat perguruan tinggi, di tingkat sekolah dasar dan menengah juga menerapkan hal yang sama, melaksanakan sistem pembelajaran berbasis daring. Di tingkat sekolah dasar dan menengah inilah, perhatian ekstra dari pemerintah, guru, dan orangtua sangat diperlukan. Pada masa inilah perkembangan tingkat kecerdasan anak.

Pembelajaran berbasis daring sangat diperlukan karena memberikan banyak kemudahan. Namun berhubung pandemi COVID-19 menyebar begitu cepat maka sistem ini, mau tidak mau harus sekarang juga dilaksanakan, tanpa pandang bulu, apakah mahasiswa atau siswa. Maka untuk itu kesiapan sangat diperlukan. Jika tidak maka sistem ini malah akan berdampak negatif bagi masa depan anak bangsa, Indonesia bukan tidak mungkin akan mengalami lost generation. Ini sungguh mengkhawatirkan.

Semua anak adalah pintar dan tidak ada anak yang tidak pintar. Kecerdasan setiap anak berbeda-beda dan ia akan berkembang dengan baik jika didukung dengan lingkungan belajar yang baik pula. Sistem pembelajaran daring lebih menekankan pada aspek kognitif, pada proses berpikir atau nalar anak. Bagaimana dengan kesiapan pada aspek afektif (perkembangan emosi) dan psikomotoriknya (kemampuan dan ketrampilan fisik)? Mari bersama-sama kita memikirkan ini demi keselamatan anak bangsa. (**)

  • Teuku Cut Mahmud, S.Fil.,M.A, adalah Dosen Prodi Ilmu Hubungan Internasional, FISIP Universitas Almuslim
BERBAGI