Beranda Tulisan Feature Sepenggal Cerita di Oegstgeest, Belanda

Sepenggal Cerita di Oegstgeest, Belanda

BERBAGI
Sardjio Mintardjo, salah seorang tokoh Indonesia di Belanda, yang beristrikan orang Rumania. (Foto/Ist)

Kamu Pon Cut perlu tahu, yang nginap di kamar yang kamu tempati sekarang, orang-orang penting di Indonesia. Sudah banyak yang nginap di kamar kamu

Sepenggal cerita di Oegstgeest, Belanda, sewaktu saya melakukan penelitan di Leiden, negeri kincir angin itu tahun 2010.

Saya menginap di Oegstgeest di rumah Bapak Sardjio Mintardjo, salah seorang tokoh Indonesia di Belanda, yang beristrikan orang Rumania. Letak Oegstgeest tidak jauh dari Leiden Centraal dan kediaman Prof. Teuku Iskandar, Ph.D (Guru Besar Sastra Aceh di Universitas Leiden, yang merupakan salah seorang pendiri Unsyiah).

Hampir setiap hari saya bersepeda melewati rumah Prof. Teuku Iskandar. Sesekali mampir di rumah beliau.

Pemilik rumah yang saya tempati, Bapak Sardjio Mintardjo, meminjami sepeda untuk saya. Sepeda yang saya naiki tergolong jenis sepeda yang berharga mahal, berwarna hijau cerah, tidak berkarat. Terkadang kalau saya bandingkan dengan yang dimiliki teman-teman mahasiswa, relatif masih bagus sepeda yang saya naiki.

Bersepeda sangat populer di Belanda, lebih populer dibanding moda transportasi lain. Kalau parkir, tidak boleh lupa menguncinya. Jika tidak, bisa saja hilang. Kalau hilang, bisa ribet, susah mencarinya. Kita juga harus melapor ke polisi.

Pada suatu pagi, di ruang tamu kediaman “Pak Min,” sapaan untuk Sardjio Mintardjo, sambil menikmati secangkir kopi dan kue kering, beliau
mengatakan. “Kamu Pon Cut perlu tahu, yang nginap di kamar yang kamu tempati sekarang, orang-orang penting di Indonesia. Sudah banyak yang nginap di kamar kamu.”

Mendengar ini saya jadi penasaran. “Oh ya Pak Min? siapa saja mereka, Pak?”

Dijawab oleh beliau,”yang pernah nginap, WS Rendra, Profesor Teuku Ibrahim Alfian, Profesor Bambang Purwanto, Profesor Sri Marghana, ada beberapa lagi nama yang disebutkan Pak Min (tapi saya lupa nama-namanya).”

“Wah menarik saya tahu ini, Pak Min. Beruntung saya bisa kost di tempat Bapak,” ujar saya dan kami pun tertawa.

Lalu lanjut ke cerita tentang sejarah beliau hingga sampai di Belanda, dan terus mengalir dengan bertukar pikiran akan makna nasionalisme dan sejarah kemerdekaan.

Beliau memiliki tiga orang anak, semuanya perempuan, dan semua berparas Rumania. Bertubuh tinggi dan berhidung mancung. Ngak ada sedikit pun mirip orang Indonesia di mana Ayah mereka berasal dari Jogja.

Di tengah cerita, tiba-tiba beliau ngomong,”Saya ingin ada satu anak saya yang menikah dengan orang Indonesia. Jangan semua dengan orang asing,” ungkapnya.

Saya hanya merespon,”Oh gitu ya Pak Min. Mudah-mudahan ya Pak.”

Lalu kami melanjutkan kembali dengan diskusi sejarah kemerdekaan. Tanpa disadari kue satu toples pun habis.

Setelah tiba di Indonesia, saya kembali teringat tentang keinginan Pak Min, memiliki menantu orang Indonesia. Saya berpikir mungkin keinginan beliau ini, satu bentuk dari bukti kecintaan dan nasionalisme beliau pada Tanah Airnya, Indonesia. Beliau tidak ingin keturunannya tercerabut dari akar keindonesiaan.

Kata teman saya, setelah saya, Buni Yani juga sempat tinggal di sana.

Rumah Pak Min menjadi tempat persinggahan dan kumpul orang-orang Indonesia. Diskusi pun rutin dilakukan.

Selamat jalan Pak Min (Bapak Sardjio Mintardjo). Semoga Tuhan memberi
tempat yang terbaik untukmu. Doa kami selalu untukmu. Kebaikan dan kemurahan hatimu kepada kami orang-orang Indonesia yang berkunjung ke Belanda, tidak akan pernah kami lupakan. (Teuku Cut Mahmud Azis)