Beranda Aceh COVID-19 di Aceh Meningkat, Ketua FPMPA: Virus Corona Bukan Hoaks

COVID-19 di Aceh Meningkat, Ketua FPMPA: Virus Corona Bukan Hoaks

BERBAGI
Ketua Umum Forum Paguyuban Mahasiswa dan Pemuda Aceh (FPMPA), Rachmad Muchliyan. (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Perkembangan kasus COVID-19 di Aceh semakin hari semakin memprihatinkan. Hingga Jumat (14/8/2020) tercatat sebanyak 839 pasien terkonfirmasi positif, 241 dinyatakan sembuh, 26 diantaranya meninggal dunia.

Sebelumnya, Provinsi Aceh menjadi pusat perhatian di tingkat nasional karena dianggap berhasil mengendalikan laju penyebaran virus Corona. Namun sejak beberapa pekan yang lalu, kasus positif di Aceh terus mengalami peningkatan secara eksponensial.

Menurut Ketua Umum Forum Paguyuban Mahasiswa dan Pemuda Aceh (FPMPA), Rachmad Muchliyan, ada banyak faktor yang membuat situasi di Aceh berbalik 180 derajat, diantaranya adalah sikap abai masyarakat.

Pemuda yang akrab dengan sapaan Iyen ini menyimpulkan bahwa bagaimana pun upaya pemerintah dalam menghadapi pandemi ini berpotensi menghadapi kegagalan jika masyarakat tidak memiliki kesadaran dalam menjalankan protokol kesehatan.

FPMPA juga berharap kepada para pemuda dan mahasiswa seluruh Aceh untuk dapat berperan aktif dalam memerangi pandemi COVID-19. Salah satu caranya adalah dengan mematuhi protokol kesehatan dan turut berpartisipasi menyosialisasikan informasi tentang virus Corona kepada masyarakat, kata dia.

Meskipun demikian, dia juga tidak menampik bahwa salah satu faktor abainya masyarakat adalah tidak konsistennya berbagai kebijakan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Iyen beranggapan bahwa di masa sulit seperti sekarang, hampir tidak ada pemerintah yang siap dalam menghadapi serangan pandemi COVID-19.

“Kami berharap masyarakat dapat meningkatkan kepedulian demi keselamatan kita bersama. COVID-19 sudah menjangkit berbagai kalangan. Wabah ini tidak mengenal batasan usia, pandangan politik, kepercayaan, ras dan sebagainya. Sehingga untuk mengantisipasi penyebarannya dibutuhkan kesadaran secara kolektif sedini mungkin,” demikian Rachmad Muchliyan. (Ria/i)

BERBAGI