Beranda Info Aceh Jaya Pulau Keluang, “Mutiara” Terpendam di Aceh Jaya

Pulau Keluang, “Mutiara” Terpendam di Aceh Jaya

BERBAGI
Pintu goa sarang burung walet terdapat di sisi gunung Pulau Keluang, yang dikunjungi Waspadaaceh.com, Minggu (19/7/2020). (Foto/Zammil)

Calang (Waspada Aceh) – Pulau Keluang di Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, terkenal dengan keindahan terumbu karang dan buliran pasir putih terhampar sepanjang pantai.

Pulau semakin indah bila dipandang mata melalui puncak Gunung Gerutee. Di sini juga terdapat beberapa gua sarang burung walet yang terbilang sudah sangat lama atau purba. Keindahan gua dipenuhi dengan hunian kelilawar bergantungan pada langit-langit gua.

Kehijauan air dipadukan dengan warna biru gelap air laut, terlihat sangat indah, saat kita berada di bibir gua walet tersebut. Seakan membuat mata enggan terpejam.

Minggu iniĀ Waspadaaceh.com berkunjung ke Pulau Keluang, menggunakan boat fiber berkelir putih. Wartawan ditemani Azhari, seorang pemandu lokal yang sudah lihai dan berpengalaman membawa tamu. Cuaca saat itu sangat cerah.

Rombongan menggunakan boat fiber berkelir putih mencoba memancing ikan dalam perjalanan, sebelum tiba di Pulau Keluang, Minggu (19/7/2020). (Foto/Zammil)

Dengan menempuh jarak sekira 60 menit, boat fiber yang sebelumnya memacu dengan kekuatan penuh, tiba-tiba mengurangi tenaganya saat akan bersandar di Pulau Keluang.

Satu persatu penumpang melompat turun dari boat, dan sang pengemudi mengikatkan jangkar. Pada sisi pulau, terlihat dua pondok terbuat dari kayu beratap seng, siap disinggahi. Rombongan menurunkan bekal yang dibawa. Deretan pohon kelapa dengan “lambaian” daunnya terterpa angin, membuat suasana terik berubah menjadi sejuk.

Dari Pulau Keluang, terlihat sisi Gunung Geurutee yang terdapat warung-warung penjual makanan ringan. Walau pun jarak pandang terbilang jauh, tapi deretan warung itu masih jelas terlihat dari pulau ini.

Azhari dengan lihainya satu persatu menurunkan barang bawaan menuju pondok, sekalian mempersiapkan bekal untuk dimasak seadanya. Beberapa orang juga menyiapkan alat pancing untuk memancing ikan.

“Sebelum COVID-19 melanda, kebanyakan tamu yang berkunjung dari luar Aceh Jaya. Mereka menginap, esok harinya baru kembali pulang,” terang Azahari di sela memasak.

Namun, lanjutnya, pengunjung hanya diperbolehkan bagi laki-laki saja dan itu sudah kesepakatan dan ketentuan dari desa.

“Siapa pun yang mau berkunjung, harus menaati ketentuan tersebut,” tegas Azhari.

Tiba-tiba Azhari terdiam, matanya mulai melihat kiri dan kanan. Lalu matanya memandang kearah langit. Guide yang bisa dibilang sebagai pawang laut, dan jagonya menembak ikan, Azhari berinsiatif untuk meninggalkan pulau sebelum kondisi alam semakin bertambah parah.

“Kita harus meninggalkan pulau ini,” ujar Azhari sembari bergegas mempersiapkan bekal untuk dibawa pulang.

Sayang, cuaca yang mulanya cerah, terlihat mulai tidak bersahabat. Angin kencang mulai menderu. Deretan awan hitam mulai terlihat menutupi cerahnya alam.

Tanda hujan akan segera turun. Tadinya hendak memancing ikan, kegiatan itu lekas diurungkan, dan akhirnya memutuskan untuk kembali pulang, meninggalkan pulai indah bagai mutiara tersembunyi. (Zammil)

 

BERBAGI