Beranda Opini Komplikasi Krisis Dalam Negeri di Negara Kampiun Demokrasi

Komplikasi Krisis Dalam Negeri di Negara Kampiun Demokrasi

BERBAGI
Penulis, Jumratul Sakdiah. (Foto/Ist)
“Persoalan yang terus datang bermunculan. Dan kini dengan kehadiran virus Corona, telah berhasil melumpuhkan Amerika dan menampakkan kelemahan tata kelola negara adidaya ini”
Oleh: Jumratul Sakdiah, S.Pd

Sang adidaya, kini tengah ditimpa kegoncangan dalam negeri yang semakin bertambah. Mulai dari persoalan rasisme hingga angka kematian yang meningkat disebabkan virus Corona.

Angka kematian akibat virus Corona di Amerika Serikat (AS) telah melampaui angka 120.000 orang. Menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins (JHU), AS mencatat 425 kematian baru dalam waktu 24 jam terakhir. (detik.com, 23/6/2020)

Belum sembuh luka akibat Corona, kini Amerika juga dihebohkan dengan persoalan lainnya, persoalan yang telah lama ada dan sampai saat ini Amerika gagal menuntaskannya. Yaitu rasisme yang pada akhirnya memicu konflik dalam negeri.

Pentagon memindahkan sekitar 1.600 tentara ke Washington DC. Pemindahan ini sekaligus menegaskan status “siaga tinggi” pasca-serangkaian aksi unjuk rasa atas kematian George Floyd, warga kulit hitam yang tewas karena disiksa anggota kepolisian. Kematian Floyd ini berujung kericuhan di ibu kota Amerika Serikat (AS) itu. (merahputih.com, 3/6/2020)

Anehnya, di tengah kondisi yang sangat mencekam itu, Donald Trump sebagai presiden AS saat ini, menyempatkan untuk membahas masalah Pilkada dan bahkan telah mempersiapkan kampanye untuk mendulang suara menuju periode kedua masa kepemimpinannya.

Mirisnya, staf yang bertugas dan dinyatakan positif terinfeksi Corona usai kampanye Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Tusla, Oklahoma, jumlahnya terus bertambah. Kali ini dilaporkan dua orang staf positif COVID-19, sehingga total saat ini sebanyak delapan staf. (cnnindonesia.com, 23/6/2020)

Kerakusan kekuasaan masih saja diutamakan walau di tengah kebencian rakyatnya di atas kepemimpinan orang berkulit putih ini. Ditambah saat masalah kegabutan Amerika menangani virus Corona, dinilai lamban dan tidak siap. Bahkan banyak rakyatnya tak percaya lagi dengan kebijakan Trump dalam menangani pandemi ini. (suara.com, 20/4/2020)

Tak heran, Amerika Serikat sebagai negara adidaya di dunia mengalami masalah demi masalah yang tak kunjung usai. Betapa tidak, sebagai negara kampiun demokrasi, Amerika telah menunjukkan watak asli sistem pemerintahan buah akal manusia.

Persoalan yang terus datang bermunculan. Dan kini dengan kehadiran virus Corona, telah berhasil melumpuhkan Amerika dan menampakkan kelemahan tata kelola negara adidaya ini. Karena terbukti kasus terbesar COVID-19 ada di negara Paman Sam itu. Jumlah korban meninggal masih meningkat setiap harinya, bahkan diperkirakan bisa melonjak lebih tinggi jika sistem kesehatan masih belum maksimal dijalankan.

Masih di masa pandemi, Amerika juga dihadapkan dengan masalah rasial, atau dikenal rasisme. Sebuah paham yang mendiskriminasikan warna kulit tertentu. Bahkan kasus terbaru terkait pembunuhan orang berkulit hitam di tangan orang polisi berkulit putih, telah menimbulkan gejolak hampir di seluruh negeri.

Namun di sisi lain, mereka seolah buta, banyak kaum Muslim juga menerima perlakukan diskriminasi. Bukankah ini pelanggaran HAM yang seharusnya dibela? Persoalan rasisme adalah tanda kedangkalan dan merosotnya tingkat berpikir manusia.

Beginilah sistem buatan manusia, lemah dan cacat dari asas dan penerapannya. Wajar saja AS kini semakin terlihat bobroknya dalam mengurus negara. Ternyata ada yang salah dengan tata kelola negaranya atau sistem pemerintahan yang tengah dijalankan.

Walhasil, demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang tak manusiawi hanya akan menambah masalah bukan menyelesaikannya. Kebijakan yang dikeluarkan tak mampu mengatasi masalah, malah menjadikan masalah terus bertambah. (**)

  • Penulis adalah aktivis intelektual Muslimah Aceh
BERBAGI