Beranda Opini Menyikapi Corona Tidak Perlu Ekstrim dan Eksesif

Menyikapi Corona Tidak Perlu Ekstrim dan Eksesif

BERBAGI
Penulis, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, (Foto/Ist)
“Apabila kalian mendengar wabah (lepra) di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut”

(HR. Al-Bukhari)

Oleh: Iskandar Ali, SPd

Dunia diguncang Corona Virus Diseases (COVID-19) pada akhir Desember 2019, hingga saat ini. Virus ini terdeteksi berasal dari Wuhan, China.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) telah menetapkan bahwa COVID-19 sebagai bencana kesehatan, yaitu wabah yang menyebar luas secara global di seluruh dunia.

Sementara meluasnya virus Corona ini sebagai bencana dirasakan masyarakat hampir di seluruh belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia, bahkan di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Terkait dengan virus Corona ini, muncul golongan yang cenderung ekstrim dalam menyikapi wabah ini, dan golongan lainnya bersikap eksesif dalam mengantisipasi sehingga berujung kegaduhan dan panik yang berlebihan.

Padahal sikap ektrim dan eksesif sama-sama merugikan diri sendiri, orang lain dan bangsa. Idealnya, sikap yang dimunculkan adalah kewaspadaan dalam menjaga diri, keluarga hingga lingkungan, bukan sikap ekstrim dan eksesif.

Mengenai itu, golongan ekstrim keliru dalam memahami wabah COVID-19 dengan memperlihatkan keberanian ke publik, bahwa mereka tidak takut terhadap virus Corona dengan dalih, hanya Allah SWT yang mereka takuti. Mereka berpendapat, di mana pun mereka berada, dan kapan pun, jika Allah berkehendak ingin mencabut nyawa maka tidak mesti dengan dijangkiti virus Corona. Landasan berfikir demikian cenderung tidak menganggap ikhtiar sebagai jalan usaha akan tetapi qadarullah yang menjadi pegangannya.

Kajian secara aqidah benar, bahwa setiap yang bernyawa akan mati bahkan dalam ayat lain Allah berfirman tentang penciptaan tujuh petala langit dan bumi beserta isinya. Ditambah dengan potongan-potongan ayat yang menegaskan bahwa Allah yang menciptakan manusia beserta perbuatannya.

Sebagai seorang Muslim, kita tau dan percaya akan hal itu, tiada kekuasaan yang mampu melakukan demikian kecuali Allah SWT. Namun dalam ayat lainnya Allah menegaskan bawha Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dengan penjelasan bahwa Sang Khaliq melihat usaha dan upaya seseorang hamba dalam hidup, baik dalam beribadah atau beraktifitas.

Namun penulis teringat satu kisah dari seorang sahabat Rasulullah SAW yang tidak mengikat untanya saat hendak shalat Zhuhur berjamaah karena dalih (tawakkal). Dia meyakini bahwa Allah akan menjaga untanya dari srigala atau pun pencuri. Namun saat itu pula Rasulullah SAW menegur atau menyuruh sahabatnya untuk mengikat untanya di pohon terlebih dahulu sebelum dia masuk ke dalam masjid untuk menunaikan ibadah. Rasulullah berkata, ”Berikhtiarlah dahulu baru kamu bertawakkal kepadaNya”.

Dalam persoalan sepele ini jelas bahwa Al-Ikhtiyaaru Wajibun (ikhtiyar adalah wajib). Nabi Muhammad SAW sosok yang menginspirasi manusia dalam berusaha serta juga mengajak dan mengajarkan ummatNya untuk berikhtiar dan berdoa sebelum bertawakkal kepada Allah SWT.

Dari sudut pandang aqidah, kisah di atas adalah benar jika yang menghilangkan unta atau mendatangkan serigala untuk memangsanya adalah kehendak Allah SWT. Seperti menentukan seseorang hamba jatuh sakit hanyalah takdir dariNya. Pengalaman di atas jangan sampai kita meyakini sesuatu yang terjadi pada manusia adalah di luar kehendak Allah SWT dan sebaliknya.

Terlepas dari itu, aqidah bukan hanya satu pemahaman yang harus terpatri dalam diri seorang Muslim, tapi ada satu lainnya, penulis pikir tidak kalah pentingnya yaitu ranah Fiqih. Di mana di dalamnya termuat Muamalah Bainallah dan Muamalah Bainnas, termasuk persoalan iktiyar. Dalam kaedahnya dinilai setiap usaha yang berdampak positif tentunya perlu dilakukan dengan baik bersifat sustainnble begitu pun sebaliknya usaha yang negatif mestinya ditinggalkan. Kaedah universal ini menjadi pedoman setiap Muslim di belahan dunia, terutama dalam kondisi merabaknya Corona Virus Deases (COVID-19).

“Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari).

Dengan tegas bahwa Rasulullah SAW menyeru ummatnya untuk berikhtiar dengan melakukan isolasi saat satu negeri terdampak lepra atau penyakit Tha’un. Artinya dengan mengurangi aktifitas, menjaga diri, keluarga dan lingkungan dengan tujuan pemutusan rantai penyabaran penyakit.

Ketetapan di atas tidak hanya Takhsish untuk saat itu tapi berlaku hingga akhir zaman, untuk seluruh ummat Muhammad di penjuru dunia. Khususnya di Aceh Besar, yang sedang melawan COVID-19 dengan berbagai cara, kegiatan dan aktifitas yang dilakukan masyarakat, pemerintah untuk pencegahan dan penanganannya.

Morfologi hadist di atas adalah iktiar yang diajarkan Baginda Nabi kepada Muslim, bukan pasrah atau berdiri dengan keangkuhan bahwa tidak takut kepada Tha’un. Tindakan yang mengabaikan itu tidak benar, karena sosok Muhammad adalah pekerja keras dengan ikhtiar dan doa setiap kali sujudnya kepada Allah.

Maka kami kembali mengingatkan kepada handai taulan dan seluruh masyarakat Aceh Besar bahwa sikap ektrim dalam menyikapi wabah ini. akan merugi begitu pula bersikap eksesif (berlebihan) juga akan merugikan diri sendiri, keluarga bahkan nyawa.

Situasi saat ini menuntut kita untuk terus berjuang melawan wabah Corona, jangan sesekali kita mundur atau berpasrah diri tanpa usaha dan do’a kepada Allah. Muslim yang bijak tidak berpasrah diri kepada Allah tanpa usaha dan doa. Muslim yang baik tidak hanya berpasrah dan berdo’a saja akan tetapi Muslim terbaik adalah yang senantiasa berusaha, berikhtiar dengan baik dan berdoa kepada Allah SWT.

I’tiqad yang kuat bahwa Allah tidak akan luput memperhatikan hambanya yang berikhtiar dan bertawakkal kepadanya. (**)

Penulis adalah Ketua DPRK Aceh Besar
BERBAGI