Beranda Olahraga Selamat Jalan Maestro Bridge Indonesia Henky Lasut

Selamat Jalan Maestro Bridge Indonesia Henky Lasut

Oleh Bert Toar Polii

BERBAGI
Henky Lasut saat menerima medali di even bridge internasional. Foto Dok

Prestasi puncak mereka raih tahun 2014 di Sanya, China ketika mengikuti The 14th Redbull World Bridge Series. Selain meraih peringkat 5 di nomor senior tim, mereka juga meraih juara dunia pasangan senior

Kabar duka menimpa komunitas bridge Indonesia ketika kemarin dikabarkan, Atlet bridge nasional, Henky Lasut, menghembuskan napas terakhir di RSUP Kandouw, Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat (12/6/2020).

Henky Lasut, atlet kelahiran Sulawesi Utara, 6 Agustus 1947, memang sulit dipisahkan dari olahraga bridge Indonesia yang sudah ditekuninya puluhan tahun.

Ia yang dijuluki maestro bridge Indonesia awalnya mulai karier bridge di dunia internasional tahun 1972 di Far East Bridge Federation Championship di Singapura.

Berpasangan dengan Max Aguw mereka langsung juara. Semenjak itu namanya tidak terpisahkan dari tim nasional bridge Indonesia.

Selanjutnya tahun 1973 mengikuti 19th World Open Team Championship di Guaruja Brazil dan meraih peringkat 5.

Di awal tahun 1980-an, Henky Lasut bertukar pasangan bermain dengan iparnya Freddy Eddy Manoppo dan terus berpasangan. Freddy Eddy Manoppo adalah kakak dari istrinya Corry Manoppo.

Kedua pemain ini telah mengukir berbagai prestasi yang rasanya sulit untuk dilewati. Bisa dibayangkan berpasangan selama kurang lebih 40 tahunan dan hampir tidak pernah berhenti mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan internasional.

Prestasi puncak mereka raih tahun 2014 di Sanya, China ketika mengikuti The 14th Redbull World Bridge Series. Selain meraih peringkat 5 di nomor senior tim, mereka juga meraih juara dunia pasangan senior.

Dengan hasil ini, kedua pemain ini berhak atas gelar tertinggi di dunia bridge, Grand Master Senior. Gelar ini merupakan satu-satunya di kawasan Asia Pasifik dan saat ini tercatat di peringkat 26 peraih master poin tertinggi di dunia.

Selain itu di kelompok umum, mereka juga meraih gelar World Life Master gelar tertinggi kedua setelah World Grand Master.

Selain itu, ia juga menjadi peraih medali emas di PON walaupun kalah sedikit dari pasangannya Freddy Eddy Manoppo. Henky Lasut telah mewakili Sulut 12 kali PON dan hamper selalu meraih medali emas sedangkan Freddy Eddy Manoppo sebanyak 13 kali.

Selain menekuni bridge sebagai atlet, ia juga ikut sebagai pengurus baik di Pengprov Gabsi Sulut maupun di Pengurus Besar Gabsi. Di samping itu ia juga terakhir tercatat sebagai Pengurus KONI Sulut.

Henky Lasut juga sempat menjadi Anggota DPRD Kota Manado periode 2009-2014 dari Partai Hanura. Lasut juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Hanura Kota Manado sebelum kemudian mundur dan fokus kembali membina para bibit muda olahraga Bridge.

Sebagai seorang sahabat yang cukup dekat terutama sejak kami satu tim di tim nasional senior mulai tahun 2013, saya cukup terkejut ketika menerima kabar Henky telah meninggal.

Walaupun sudah tidak heran lagi karena saya mengikuti terus perkembangan Henky sejak sekitar sebulan di rawat di RSUP Kandouw, Manado.

Kaget karena sehari sebelumnya, melalui putrinya Elvita Lasut yang juga atlet bridge, menyebutkan “Papa sudah membaik dan akan dipindahkan dari ICU ke kamar biasa.”

Namun rupanya itu adalah hiburan terakhir buat keluarga karena dengan demikian Henky masih bisa mendengar tentang wisuda cucunya Hiero Lasut yang juga pemain bridge di Universitas Sam Ratulangi Manado.

Henky punya dua cucu, satu lagi Kimberly yang sekarang duduk di SMP dan belum terjun ke bridge.

Henky memang boleh dikatakan seorang maniak bridge yang hamper mencurahkan seluruh hidupnya untuk bridge. Ia punya dua anak dan keduanya pemain bridge, Sayang Fabian putra tertuanya yang diberi nama pemain legendars bridge asal Italia, Belladona yang juga atlet bridge telah lebih dulu meninggal dunia.

Putri keduanya Elvita juga menekuni bridge dan terakhir meraih medali perunggu di nomor mixed team pada Asian Games 2018 di Jakarta.

Tahun 2013, Ia berpasangan dengan Henky yang akrab di panggil “pi” mengikuti Yeh Bros Mixed Team Championship di Kaoshiung bersama saya dan istri.

Salah satu kelebihan Henky, sehingga ia sulit dilupakan oleh para pebridge dunia ialah senyumannya. Berbadan atletis dan senang tampil trendy terus selalu tampil dengan senyuman membuat dia banyak disenangi.

Seorang pemain putri Jepang, Akiko Yanagisawa menulis di laman FBnya dimana saya ikut di tag sebagai berikut: “Mr Henky Lasut, the great bridge player and very charming gentleman, has passed away. He’s always given me a smile in the international competitions where he played as a member of the very competitive Indonesian senior team. I met him last in Wuhan in Sep 2019 and he gave me a big hug for celebrating our good performance. I shall miss him a lot! Thank you Henky for everything and RIP.”

Selain keramahannya ada hal yang sulit saya lupakan ketika kami ikut APBF Championship di Seoul 2017 di mana saya ditempatkan sekamar dengannya.

Kami sekamar memang permintaan almarhum sejak menjadi satu tim di timnas senior tahun 2013. Ia ternyata agak cengeng dan manja. Pada waktu itu memang ia mulai kurang fit kondisinya, sehingga ia tidak mau keluar hotel walaupun untuk makan saja.

Otomatis saya harus menyiapkan, beruntung Vita panggilan akrab putrinya juga ikut sehingga kami bergantian. Namun dalam hal bertanding ia tidak mau istirahat kecuali terpaksa.

Ini memang keuletan yang perlu di contoh oleh para pemain muda kita, Baik Henky maupun Eddy sama saja, kalu perlu mati di lapangan komentar keduanya dalam logat Manado yang khas.

Kembali soal manja dan cengengnya, ketika ia mengukur tekanan darahnya (ia selalu membawa alat terecut dan ternyata tinggi maka saya dilarang tidur sebelum dia tidur.

Jadilah saya harus menunggu, walaupun sudah mengantuk sampai dia tidur baru saya tidur.

Ada salah satu cita-citanya dan semoga bisa diwujudkan oleh Ketua Pengprov Gabsi Sulut, Joune Ganda.

Dalam salah satu kesempatan, ia menceriterakan tentang koleksinya yang sudah lebih dari sekamar. Usut punya usut ternyata sejak ia ikut kejuaraan bridge, ia telah mengoleksi pernak-pernik dari seluruh kejuaraan yang diikuti. Selain tas bridge, ada kartu, buletin, pin, buku dan lain-lain.

Dalam kesempatan itu, ia ingin agar semua koleksi itu dipindahkan ke Bridge Centre Henky/Eddy di Stadion Klabat Manado yang dibangun saat Wiranto jadi Ketum PB Gabsi dan Mangindaan jadi Gubernur Sulut. ***

Prestasi yang pernah diraih:
Asia Pacific
1972 Juara Open Team PABFC di Singapura
1973 Juara Open Team PABFC di Hongkong
1974 Juara Open Team PABFC di Manila – Philippina
1979 Juara Open Team PABFC di Tokyo – Jepang
1982 Juara Open Team PABFC di Bangkok – Thailand
1983 Juara Open Team PABFC di Hongkong
1984 Juara Open Team PABFC di Macau
1993 Juara Open Team PABFC di Singapura
1999 Juara Open Team PABFC di Hang Zhou – China
2003 Juara Open Team PABFC di Manila – Philippina
2007 Juara Senior Team PABFC di Bandung – Indonesia
2009 Juara I Tim Senior dan PABF 2009 di Macau–China Macau
2011 Juara I Tim Senior APBF 2011 di Kuala Lumpur–Malaysia
2013 Juara II Tim Senior, APBF Hongkong
2015 Juara I Tim Senior dAPBF di Bangkok–Thailand
2017 Juara 2 Tim Senior APBF Korsel
2018 Medali Perunggu Pasangan Putra Asian Games 2019
2019 Juara Senior APBF Singapura

Kejuaraan Dunia
1996 Finalis Bridge Olympiad di Rhodes Island – Yunani
2002 IOC Grand Prix di Lausanne – Swiss
2002 Finalis Rosenblum Cup di Montreal Canada
2003 Rk. 4 Senior Bowl di Montecarlo – Monaco
2005 Finalis Senior Bowl di Estoril Portugal
2007 Finalis Senior Bowl di Shanghai – China
2008 Juara III Senior World Mind Sports Games di Beijing – China
2009 Juara III Senior Bowl pada World Bridge Championships 2009 di Sao Paolo–Brazil
2010 Juara III Senior Team pada World Bridge Series di Philadelphia–Amerika Serikat
2014 Juara I Pasangan Senior (Henky Lasut–Eddy Manoppo),

Internasional
1980 Juara I World Invitation Amsterdam
1980 Juara I World Invitation di Calcuta
1987 Runner Up Hong Kong Intercity
1994 Juara II American Cup Albuquerque
1995 Juara I Australian Open Canberra
1995 Juara III Cup Volmac di Den Haag
1995 Juara III Invitasi Merdeka Cup
1996 Juara I Four Star, Brighton – Inggris
1997 Juara I NEC Cup Jepang
1998 Runner Up Tolani Invitational Grand Prix di Mumbai
1999 Tolani Invitational Grand Prix di Mumbai
1999 World Invitational Pairs di Mumbai
2005 Juara II Gubernur BI Invitational Cup
2017 Juara Thailand Bridge Festival Bangkok

Kejuaraan Asia Cup
2010 Juara I Tim Open padda 1st Asian Cup 2010 di Nan Jing, China
2014 Juara I Tim Senior pada 2nd Asian Cup 2014 di Wu Yi,

Penghargaan yang diperoleh: Satya Lencana Dharma Olahraga.

BERBAGI