Beranda Tulisan Feature Balada Ibu 4 Anak, Jadi Petugas Kebersihan di Malam Hari

Balada Ibu 4 Anak, Jadi Petugas Kebersihan di Malam Hari

BERBAGI
Yusni, ibu empat anak asal Gampong Samakurok Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, yang menjadi "tulang punggung" keluarga sedang membersihkan pasar ikan di Keude Panton Labu.(Foto /Riri).

Yusni, 50, dari raut wajahnya wanita ini tampak begitu lelah, meski dia coba menyembunyikan keadaannya kepada orang lain. Tangannya tidaklah semulus wanita kebanyakan, seolah menunjukkan bahwa ibu ini seorang pekerja keras dan pekerja berat.

Ibu empat anak ini tinggal di Gampong Samakurok Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Setiap hari dia harus banting tulang bekerja pada malam dan siang hari, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Yusni harus rela bekerja pada malam hari, menjadi petugas kebersihan di Pasar Ikan Keude Panton Labu. Dan pada siang hari, dia bekerja sebagai buruh cuci dan menggosok pakaian di rumah tetangganya.

Yusni tinggal di rumah gubuk kecil berukuran 4×5 meter dengan dinding papan yang sudah lapuk. Rumahnya ini masih beratap rumbia dan sebagian seng. Rumah itu mereka bangun setelah satu tahun menikah, di lahan milik warga setempat dengan status tanah pinjam pakai.

Saat ini dia hidup bersama suaminya, Muhammad, 55, yang terbaring sakit di rumah mereka sejak tiga tahun terakhir. Sang suami menderita penyakit saraf (kejiwaan) sehingga harus “berkurung” di rumah. Mereka kini tinggal bersama tiga anaknya, yaitu Maulidan, 22, Aklima, 18, dan Yusnaliza, 8. Sedangkan anak sulungnya, Siti Nuryana, 26, sudah satu bulan meninggalkan kampung halaman mereka untuk bekerja di salah satu pabrik di Batam.

Meski bekerja tidak mengenal waktu, Yusni tetap sabar menjalaninya. Tidak sedikitpun dia mengeluh. Sebab dia memang harus mencari nafkah untuk keluarganya, sejak suaminya mengalami sakit saraf.

Yusni, bersama anak bungsunya di depan rumah di Gampong Samakurok Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, saat dikunjungi wartawan. (Foto/Riri)

Saat Waspadaaceh.com mendatangi rumah ibu empat anak tersebut, pada sore hari menjelang buka puasa, dia sedang duduk bersama putri bungsunya, di depan rumahnya. Dia menunggu buka puasa, dan setelah itu Yusni akan bekerja lagi membersihkan pasar ikan sebelum mamasuki shalat Tarawih.

“Semenjak bapak (suaminya) sakit, sebelumnya saya bekerja sebagai buruh nyuci dan menyetrika pakaian ke rumah-rumah tetangga. Saya juga ke sawah, setelah itu bekerja sebagai petugas kebersihan pasar ikan. Itu semua untuk menambah biaya hidup dengan upah yang saya terima setiap bulan Rp2,1 juta. Sedangkan dari cuci baju mendapatkan 100 ribu hingga 150 ribu  rupiah perbulan,” kata Yusni.

Walaupun harus bekerja keras, namun dia mengaku tidak pernah jenuh dan selalu tegar menjalani cobaan ini. Yusni tetap semangat termasuk dalam menjalankan ibadah puasa, dan tetap menghidupi keluarganya.

“Kondisi suami saya sudah terjadi setelah anak pertama lahir dan berusia tiga bulan. Menurut dokter, dia mengalami kerusakan saraf, mengkibatkan kehilangan kendali saat bertindak. Tidak hanya suka marah, juga sering pergi tanpa pengatahuan keluarga,”cerita ibu empat anak ini.

Selain itu, Ibu empat anak ini juga mengisahkan, suaminya sempat dirantai atau dipasung di belakang rumah selama tiga bulan. Kemudian dibawa beberapa kali ke RSU Cut Meutia Buket Rata Lhokseumawe. Beberapa kali diobati dinyatakan sembuh, tapi jika tidak minum obat dia kembali kambuh.

“Anak laki-laki saya (Maulidan) sejak ayahnya sakit, dia putus sekolah. Hanya tamatan SMP. Sedangkan kakaknya Nuryana, mampu meraih gelar Diploma III, di kampus Politeknik Negeri Lhokseumawe, melalui program bidikmisi di jurusan Administasi Perkantoran. Untuk mencari rezeki, dia terpaksa merantau ke Batam dan sudah mulai bekerja sebulan di sebuah perusahaan ponsel. Sedangkan adiknya Aklima masih duduk di bangku SMA, dan adik bungsunya di bangku SD,” ungkapnya.

Yusni mengaku tidak pernah jenuh merawat suami yang sedang sakit, dan sebulan sekali harus mengambil obat ke RSU Cut Mutia. Begitu juga dalam menghadapi kondisi seperti ini, dia harus bersabar. Dia mengaku salah satu penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari desanya.

“Sebenarnya saya sangat berkeinginan untuk memperbaiki rumah ini, yang hanya memiliki dua kamar ukuran 2×1 meter. Tapi saya tidak memiliki lahan. Dia bercita-cita ingin membuat rumah di lahan sendiri dan rumah sendiri. Hanya bisa berdoa, agar dimudahkan rezeki,” harap Yusni yang pasrah dengan kehidupannya saat ini.

Semoga di bulan penuh berkah ini (Ramadhan) pintu hati kita terketuk untuk berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan dukungan dari tangan kita. (Riri).

BERBAGI