Beranda Opini Cekal COVID-19 dengan Imunostimulan Berbasis Al-Quran

Cekal COVID-19 dengan Imunostimulan Berbasis Al-Quran

BERBAGI
“Membaca Al Quran juga memberikan efek positif karena gelombang suara dari tilawah Al Quran berada pada resonansi yang sama sehingga mampu meningkatkan dan melejitkan potensi seluruh sistem sel-sel tubuh”

————————

Oleh: Dr. dr. Budi Yanti, Sp.P dan dr. Teuku Zulfikar, Sp.P (K) FISR

Di masa pandemi COVID-19, peran kekebalan tubuh  menjadi sesuatu yang sangat penting dalam keberlangsungan kehidupan anak manusia. Karena dengan daya tahan tubuh yang kuat, kita akan mampu mencegah dan menangkal berbagai infeksi yang dapat menyebabkan penyakit, salah satunya seperti COVID-19.

Imunostimulan merupakan senyawa yang dapat membantu sistem kerja daya tahan tubuh dengan cara merangsang aktivitas berbagai sel-sel imun yang dapat kita temukan di berbagai sumber makanan seperti sayur dan buah. Imunostimulan dapat memperkuat sistem pertahanan tubuh terhadap berbagai infeksi dengan meningkatkan fungsi dasar respons imun. Sejumlah peneliti di dunia telah menemukan dan melakukan efektifitas uji imunostimulan ini, dan hasilnya terbukti sangat membantu meningkatkan kemampuan tubuh dalam menangkal badai racun yang dihasilkan oleh virus.

Misalnya tanaman Echinacea purpurea  telah terbukti secara klinis dapat memodulasi sistem daya tahan tubuh dan mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Buah lemon dan jambu merah juga diyakini berperan aktif dan bekerja sinergis pada sistem daya tahan tubuh. Ekstrak blackelderberry juga dapat mencegah replikasi virus serta menstimulasi peningkatan sistem daya tahan tubuh dengan cara meningkatkan produksi monosit sehingga saat seseorang sudah sakit, proses kesembuhannya menjadi lebih cepat.

Penulis: Dr. dr. Budi Yanti, Sp.P

Lain halnya dengan apa yang dilakukan oleh beberapa negara di dunia untuk menekan angka penyebaran COVID-19, sebagian ada yang menyarankan untuk melakukan gerakan Herd Immunity atau kekebalan kelompok yang dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu vaksinasi dan didapat secara alami pada seseorang yang pernah terinfeksi sehingga menjadi kebal. Kekebalan alami yang didapat oleh seseorang yang sembuh dari infeksi dianggap menjadi hal penting dalam terbentuknya kekebalan yang lain di kelompok itu pada sebuah wilayah.

Berdasarkan pernyataan ahli epidemiologi penyakit menular dari Universitas Florida menerangkan bahwa satu-satunya cara yang aman agar terwujudnya Herd Immunity pada sebuah wilayah terhadap COVID-19 adalah dengan vaksinasi. Namun sayang, sampai saat ini vaksin untuk COVID-19 belum ditemukan. Sehingga keinginan untuk melakukan Herd Immunity ini sulit untuk diwujudkan dan pupus dari harapan.

Di sisi lain, di tengah pandemi saat ini sebagian besar masyarakat dicemaskan dengan banyak hal, mulai dari kasus COVID-19 positif yang semakin bertambah seiring berjalannya waktu, angka kematian yang semakin tinggi, kehidupan ekonomi yang semakin layu, angka kemiskinan meningkat, anak-anak menjerit kelaparan, suami pengangguran atau istri menangis bersedih karena dapurnya lama tak mengepul.

Semua kondisi di atas bertumpuk menjadi satu berwujud gunung kecemasan. Cemas ini kian hari bertambah, dan tak pasti kapan selesainya. Ketahuilah, berdasarkan konsep psikoneuroimunologi, cemas merupakan bentuk lain dari stress yang dapat menurunkan sistem daya tahan tubuh, merusak sistem hypothalamic – pituitary –adrenocortical (HPA), sehingga meningkatkan pengeluaran hormon kortisol yang dapat menekan fungsi sel-sel imun tubuh kita sendiri.

Penulis: dr Teuku Zulfikar, Sp.P (K). FISR

Kecemasan dapat menimbulkan perubahan secara fisik maupun psikologis. Kecemasan dapat mengaktifkan sistem saraf otonom yang berakibat detak jantung menjadi bertambah, tekanan darah naik, frekuensi nafas bertambah dan secara umum mengurangi tingkat energi sehingga dapat merugikan individu. Intinya cemas yang Anda hasilkan menjadi bomerang untuk Anda sendiri.

Imunostimulan

Masih ingatkah kita bahwa banyak sekali kalimat dalam Al-Quran yang secara keseluruhan memiliki satu efek penting bagi tubuh, yaitu sebagai imunostimulan. QS As-Syu’ara ayat 80 (Allah maha penyembuh). QS At Taubah ayat 124 (Al Quran memberi kabar gembira dan senang), QS At Taubah Ayat 14 (Al Quran Penyembuh), QS Yunus, ayat 57 (Al Quran Penyembuh), QS Al Isra Ayat 82 (Al Quran Penyembuh), QS Fusshilat Ayat 44 (Al Quran Penyembuh).

“Apabila Al-Quran dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat,” QS Al-Araf, ayat 204.

Telah banyak penelitian menunjukkan bahwa membaca Al Quran dengan teratur dapat bermanfaat bagi fisik dan jiwa yang membacanya. Enrick William Duve, seorang peneliti dunia mengatakan bahwa gelombang suara dapat mempengaruhi otak secara positif maupun negatif. Gelombang suara yang seimbang dan berirama akan memberikan efek positif pada seluruh sistem tubuh. Itulah sebabnya saat ini getaran gelombang suara sudah mulai digunakan untuk mengobati berbagai penyakit salah satunya adalah kecemasan.

Membaca Al Quran juga memberikan efek positif karena gelombang suara dari tilawah Al Quran berada pada resonansi yang sama sehingga mampu meningkatkan dan melejitkan potensi seluruh sistem sel-sel tubuh.  Rasulullah juga menggunakan Al Quran sebagai obat, ketika beliau sakit maka beliau membaca Al Quran, ini diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah R.A. Metode penyembuhan ini dikenal oleh masyarakat sebagai Ruqyah Syariyyah, hal ini dilakukan dengan membaca ayat-ayat pilihan (ma’tsur) sesering mungkin, rutinkan tadarrus bersama keluarga di rumah, perdengarkan murattal Al Quran di rumah, usahakan membaca Al Quran sebelum tidur. Lakukan semua amalan tersebut untuk menjadikan Al Quran sebagai solusi.

Bagi umat Islam, Al-Qur’an merupakan pedoman hidup sebagai sumber pengobatan dan diyakini bahwa Al-Qur’an adalah sebagai Asy-Syifaa (obat). Konsep ini bermakna bahwa untuk setiap penyakit terdapat Al Quran sebagai obat yang menyertainya. Keyakinan yang kuat ini akan menimbulkan respon emosional/kejiwaan positif atau coping yang sangat penting dalam menjaga stabilitas daya tahan tubuh. Semakin yakin, semakin kuat efeknya dan semakin bermakna efek imunostimulan yang akan dihasilkan.

Imunostimulan berbasis Al Quran dapat berhasil dengan ketentuan harus dilakukan berdasarkan pada keyakinan yang kuat, didampingi dengan rutinitas membaca, mendengarkan, serta memahami makna Al-Qur’an setiap hari dan sesering mungkin.

Tentu saja ini bukan hal yang sulit untuk diterapkan di lingkungan masyarakat Aceh, karena sejak zaman indatu terdahulu, rakyat Aceh sudah terkenal dengan pemahaman agama yang luas. Sejak dahulu di Aceh dikenal dengan ulama-ulama  yang hebat, sinkronisasi ulama dan umara dalam pemerintahan, dan kearifan lokal yang berazaskan Al Quran dan Hadist, pasti akan mendukung pendekatan berbasis Al Quran sebagai imunostimulan ini. Sehingga pada akhirnya, diharapkan melalui rutinitas membaca Al Quran akan terbentuk imunostimulan alami di dalam tubuh  yang dapat menangkal infeksi dan menurunkan angka kejadian COVID-19 di bumi Serambi Mekkah ini. Semoga. (**)

Penulis adalah:

  • Dosen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, FK Unsyiah, RSUZA, Banda
  • Aceh Bersama Gerakan Bantu Tim Medis Aceh (GBTMA).
BERBAGI