Beranda Tulisan Feature Seuntai Harapan Pasutri Penghuni Gubuk Sawah

Seuntai Harapan Pasutri Penghuni Gubuk Sawah

BERBAGI
Umi Kasom sedang duduk di bagian dapur rumah mereka, yang lebih terlihat sebagai gubuk itu, Senin (13/4/2020). (Foto/Zammil)

Calang (Waspada Aceh) – Pasangan suami istri, Abubakar Akop, 70 dan Umi Kasom, 62, warga Desa Gle Putoh, Kecamatan Panga, Aceh Jaya, hingga kini hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Mereka menghuni sebuah rangkang (gubuk) di sawah yang terbuat dari kayu berukuran sekitar 2×4 meter persegi yang tidak memiliki alat penerang seperti listrik.

Begitu juga dengan keberadaan gubuk, berjarak sekitar 1 kilometer dari pemukiman warga. Bila menuju ke tempat mereka pun, harus berjalan kaki dari pusat Desa Gle Putoh.

Berada di tengah areal persawahan, saat dijumpai Waspadaaceh.com, Senin (13/4/2020), Umi Kasom menceritakan alasan kenapa mereka memilih tinggal di gubuk tersebut yang jauh dari pemukiman warga.

“Kami di sini ingin berkebun dan berternak. Dengan demikian, ternak kami tidak menganggu tanaman milik warga Desa Gle Putoh,” ungkap Umi Kasom, seraya menggulung tikar usai selesai menjemur padi hasil panen bulan lalu.

“Kalau di sini, memelihara kambing, kan enak, tidak mengganggu warga,” ungkapnya singkat. Dia kemudian berjalan menunju ke pintu dapur rumah, dan mulai melengkah menginjak kakinya di tangga naik ke rumah bagian dapur.

Namun demikian, Umi Kasom bersama suaminya yang setiap pagi hanya di sambut kicauan burung, tidak pernah merasa takut tinggal bertepian hutan di lahan sawah yang membentang luas itu. Kondisi seperti ini dijalaninya sejak 8 tahun silam.

“Jika musim tanam tiba, tentunya di sini ramai dan saat itu selesai, warga kembali kerumah, sedangkan kami di sini. Mereka ada rumah, sedangkan kami tidak tau mau kembali kemana, karena tidak ada rumah,” ungkap Umi Kasom.

Pasca Tsunami, Umi Kasom dan Abubakar Akop pernah mendapatkan bantuan uang tunai dari BRR untuk pembangunan rumah. Namun adanya keperluan mendesak, memaksa mereka harus menggunakan uang tersebut.

“Dulu saya pernah sakit dan harus menjalani operasi, uang tidak ada, yang ada hanya uang bantuan itu. Terpaksa kami menggunakan uang tersebut untuk biaya pengobatan. Kalau rumah semasa almarhum suami lama, sudah ditempati oleh anak,” terangnya

Sesekali terlontar nada-nada canda antara Umi Kasom dan suaminya. Seakan menutup suka dan duka yang sedang mereka lalui bersama di rangkang, yang mungkin bagi mereka tetaplah bagai “istana” dalam menjalani sisa hidup.

“Kalau mau pulang ke desa, kami jalan kaki dari sini. Kembali biasanya di antar oleh anak, terkadang juga jalan kaki,” ujar Umi Kasom di sela jeda mereka bercanda.

Buah perkawinan mereka memiliki dua orang anak laki-laki dan seorang perempuan yang kini semuanya sudah berkeluarga dan sudah memiliki rumah sendiri.

“Yang laki – laki tinggal di desa ini (Gle Putoh) dan yang perempuan di desa tetangga tak jauh dari sini. Kehidupan mareka juga serba kekurangan,” kata Umi Kasom.

“Oleh karena itu, kami lebih memilih tinggal di sini untuk bisa menanam padi dan beternak seperti kambing, ayam dan sapi. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, kami bergantung dari hasil kebun,” jelas Umi Kasom.

Seuntai harapan terpancar dari keduanya, agar kelak suatu saat mereka bisa membangun rumah yang lebih layak untuk dihuni.

“Bantuan PKH dan bantuan lansia si bapak (Abubakar Akop) ada diberikan oleh pemerintah. Kalau rumah, pastinya kami sangat berkeinginan untuk dibantu. Kami akan terus berupaya agar bisa membangun rumah seadanya,” pungkas Umi Kasom. (Zammil)

BERBAGI