Di RS Berjuang Tangani Corona, Tiba di Kos Ada Perawat yang Diusir Warga

    BERBAGI
    Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, ketika meresmikan mess khusus untuk Tim Medis COVID-19, Kamis (2/4/2020), tampak didampingi Sekda Aceh, Taqwallah, Direktur RSUDZA, Azharuddin, Dyah Erti Idawati, Kepala BPSDM Aceh, Syaridin, Kepala Biro Humas dan Protokol Muhammad Iswanto, Kepala Biro Tata Pemerintahan, Syakir, dan sejumlah pejabat struktural di BPSDM. (Foto/Ist)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Sungguh miris. Seorang petugas medis di RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, diketahui pernah diusir warga dari rumah kosnya di kawasan Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

    Ketika itu wabah virus Corona atau COVID-19 mulai ditemukan di Aceh pada akhir bulan lalu. Petugas medis itu diketahui seorang perawat laki-laki, orang yang telah berjuang untuk menangani pasien terkait Corona.

    Seperti diketahui, saat pemerintah menginstruksikan warga agar tetap di rumah atau stay at home, para tenaga medis masih berjuang di rumah sakit. Mereka terus berjuang untuk menangani pasien COVID-19. Tenaga medis baik dokter dan perawat menjadi garda terdepan dalam penanganan COVID-19.

    Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh Dr.dr.Syafrizal Rahman, MKes SpOT dan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Aceh, Abdurrahman, SKP, MPd kepada Waspadaaceh.com, Selasa (7/4/2020), angkat bicara.

    “Kita menyesalkan kalau tenaga medis tersebut ditolak pulang ke rumah atau tempat kosan mereka. Bagaimana pun mereka sudah berjuang untuk menyelamatkan pasien COVID-19, mestinya masyarakat berterima kasih memberi support moral kepada mereka,” kata dr.Syafrizal.

    “Kalau kita lihat banyak negara bahkan masyarakat melambaikan tangan dan memberi applaus dan penghormatan kepada pada tenaga medis ini. Harusnya kita juga melakukan yang sama,” lanjut Syafrizal.

    Syafrizal mengakui bahwa petugas medis ini merupakan garda terdepan saat wabah terjadi. Dia memberikan contoh, bagaimana wabah terjadi di suatu daerah jika tidak ada petugas medis, bisa berakibat fatal.

    “Syukurnya saat ini Pemerintah Aceh telah menyediakan penginapan sementara untuk tenaga medis, hingga sangat membantu mereka. Bagaimana pun tenaga medis perlu diberikan dukungan moral untuk tetap memiliki stamina menghadapi pandemi COVID- 19,” ujarnya.

    Dokter spesialis ortopedi ini mengatakan bahwa setiap petugas medis yang pulang, sudah membersihkan diri lebih dulu di tempatnya bekerja. Kemudian dalam penanganan pasien, tenaga medis juga dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD).

    Ketua PPNI Aceh, Abdurrahman, juga menyayangkan tindakan yang pernah terjadi terhadap seorang perawat oleh warga. Abdurrahman bahkan meminta masyarakat tidak memberikan stigma kepada perawat yang merawat pasien COVID-19.

    “Kami atas nama profesi mengimbau kepada masyarakat tidak memberi stigma kepada perawat yang merawat pasien COVID-19, seolah-olah bisa menyebarkan virus. Para perawat bekerja profesional sesuai SOP dan perawat yang diperbolehkan pulang ke rumah tentu mereka tidak positif COVID-19 atau penderita. Jadi intinya masyarakat tidak perlu khawatir dengan mereka,” ujarnya.

    Dia menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu bersikap seperti itu. Menurutnya, berbagai tindakan pencegahan bisa dilakukan masyarakat terkait penularan virus Corona.

    “Menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Sering mencuci tangan pakai sabun, jaga jarak dengan orang lain, jangan bersentuhan atau bersalaman. Lalu, mengkonsumsi multivitamin dan menjaga pola makan, perbanyak mengkonsumsi buah dan sayur serta istirahat yang cukup. Jangan keluar rumah untuk hal yang tidak perlu. Berbagai langkah ini cukup memutus dan menghentikan penyebaran virus,” jelasnya.

    Dia juga meminta masyarakat harus mendapatkan edukasi yang benar mengenai COVID-19. Untuk itu, sekali lagi dia meminta agar masyarakat tidak memberi stigma kepada tenaga medis.

    Sebelumnya, Pemerintah Aceh telah menyulap tiga gedung di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh, untuk tempat tinggal petugas medis. Gedung itu, disiapkan bagi petugas medis yang mengalami masalah seperti ini.

    Tempat itu disediakan sebagai tempat untuk beristirahat dan menginap selama bertugas dalam penanganan COVID-19. Tujuannya agar bisa membuat tenaga medis merasa aman, nyaman sehingga bisa beristrahat dengan cukup. Tiga gedung itu mampu menampung sebanyak 160 orang tenaga medis, lengkap dengan fasilitas yang diberikan. (sulaiman achmad)

    BERBAGI