Beranda Opini Jurnalis dan Petugas Medis diantara Bahaya COVID-19

Jurnalis dan Petugas Medis diantara Bahaya COVID-19

BERBAGI
Penulis.

“Jurnalis atau wartawan, dalam situasi seperti ini menjadi salah satu profesi yang rentan di tengah mewabahnya virus Corona atau COVID-19”

Oleh: Sulaiman Achmad

Baru-baru ini, berita duka datang dari seorang jurnalis otomotif senior, Willy Dreeskandar. Dia menderita sakit dan tak terurus selama lima jam di sebuah rumah sakit di Tangerang, pria yang dikenal dengan inisial F-16 ini akhirnya meninggal dunia kemarin subuh, Kamis (26/3/2020).

Nyawa Willy tak bisa diselamatkan. Sebelumnya, Willy menyampaikan keluh kesahnya melalui Twitter pribadinya kepada Presiden RI, Joko Widodo. Di akun Twitter @WillyF16, dia mencurahkan isi hatinya dan meminta tolong kepada Presiden Joko Widodo serta Menteri Kesehatan, untuk diberikan jalan agar bisa dirawat di rumah sakit rujukan.

Sementara itu di Bogor, sedikitnya 22 jurnalis harus menjalani isolasi selama 14 hari, setelah sebelumnya mereka menghadiri acara konferensi pers bersama Wali Kota Bogor, Bima Arya. Pasalnya, Bima Arya, beberapa hari kemudian dinyatakan positif terinfeksi virus Corona, sedangkan para jurnalis ketika menghadiri konferensi pers tapak muka langsung tersebut tidak mengenakan alat pelindung, seperti masker.

Memang, jurnalis atau wartawan, dalam situasi seperti ini menjadi salah satu profesi yang rentan di tengah mewabahnya virus Corona atau COVID-19, selain para dokter atau petugas medis yang kini berjuang di garda terdepan.

Petugas medis itu selalu bersentuhan langsung dengan pasien. Potensi penularan itu sangat besar terhadap mereka. Apalagi, secara kontak fisik mereka yang langsung bersentuhan dengan pasien.

Banyak kasus petugas medis yang dinyatakan positif COVID-19. Di Jakarta saja, petugas medis yang dilaporkan positif terpapar virus Corona mencapai 61 orang, bahkan ada yang meninggal dunia. Begitu juga di Medan, Sumatera Utara.

Rumah sakit menjadi salah satu sarana yang tidak boleh tutup, meski suatu kota sedang mewabah virus. Karena di sana, semua orang menggantungkan hidupnya untuk ditangani secara medis agar bisa sembuh. Bayangkan, bagaimana bila sebuah kota diserang virus, kemudian banyak rumah sakit tutup, dokter berhenti bertugas, maka dapat dipastikan banyak korban akan berjatuhan.

Meski sejak awal, para petugas medis sudah disumpah untuk melayani kepentingan pasien dari kepentingan apapun. Namun, petugas medis tetaplah seorang manusia yang memiliki keluarga dan kebutuhan manusiawi.

Mereka juga butuh waktu bersama anak dan keluarga, mereka butuh istirahat, mereka butuh vitamin dan mereka juga butuh perhatian dari masyarakat dan pemerintah.

Bagaimana dengan Jurnalis?

Lalu, bagaimana dengan jurnalis. Seorang jurnalis juga memiliki mobilitas tinggi, karena harus selalu ke lokasi, untuk mendapatkan data dan berita terbaru. Meski saat ini jaman sudah canggih, narasumber dapat dihubungi untuk wawancara, namun jurnalis harus tetap ke lapangan untuk memperoleh data, fakta dan foto.

Jurnalis harus berkejar dengan jurnalis lain untuk mendapat informasi terkini dan mendahulukan tampil di media mereka masing-masing. Semakin eksklusif, maka semakin banyak pembaca di media mereka. Untuk menjamin keakuratan beritanya, para jurnalis harus turun ke lapangan, rumah sakit, lokasi kecelakaan, atau lokasi penyebaran penyakit.

Melihat mobilitas jurnalis yang begitu tinggi, maka potensi tertular, juga sangat besar kepada para pemburu berita ini. Jurnalis selalu berbaur dengan rekan sejawat, dokter bahkan orang lain yang menjadi sumber berita. Termasuk, dengan seorang pasien positif terjangkit virus Corona sekarang ini.

Ketika seorang pasien positif Corona meninggal dunia dan dimakamkan, jurnalis juga harus pula turun ke lokasi pemakaman untuk melakukan peliputan.

Padahal, disaat proses pemakaman, pasien positif tersebut dikuburkan oleh petugas yang mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, tanpa pelayat dan keluarga yang mendampingi. Tapi jurnalis malah ke lokasi untuk meliput, dan banyak pula diantara mereka yang tidak mengenakan alat pelindung.

Bisa jadi karena si jurnalis kurang paham tentang protokol kesehatan? Atau karena sengaja mengabaikannya. Tapi dari pengalaman di lapangan, untuk tugas liputan di daerah berbahaya, termasuk lokasi pandemi virus, banyak jurnalis yang tidak memiliki protokol dari redaksi medianya. Artinya jurnalis dibiarkan turun ke lapangan untuk meliput, tanpa ada SOP (standar operasional prosedur) tentang menjaga keselamatan jurnalis itu sendiri.

Hanya sebagian media yang menyiapkan protokol keselamatan bagi para jurnalisnya di lapangan, seperti dalam liputan penyebaran bawah virus Corona. Karena dalam liputan berbahaya seperti ini, jurnalis selayaknya menjaga jarak aman, mengenakan perlengkapan pelindung, dan menyiapkan obat-obatan sebagai antisipasi tertular virus. Tapi apa jadinya bila sang jurnalis tidak paham dan redaksinya sama sekali tidak menyiapkan protokol liputan?

Bahkan di lapangan, banyak jurnalis media nasional sekalipun tidak dilengkapi APD. Lalu, bagaimana jaminan keselamatan jurnalis? Berbagai organisasi profesi jurnalis sudah mengeluarkan panduan keselamatan peliputan, yang seharusnya juga diikuti oleh redaksi media masing-masing.

Ketia sebuah negara mengeluarkan kebijakan lockdown, apakah jurnalis akan berhenti bertugas? Tentu jawabannya tidak. Sama seperti para dokter atau tenaga medis, jurnalis akan tetap bertugas. Jurnalis juga harus terus melaporkan perkembangan terbaru di lapangan untuk masyarakat.

Bayangkan, bagaimana jika jurnalis ikut stay at home, maka bisa jadi di surat kabar, internet, televisi maupun radio, tidak ada sama sekali berita yang muncul. Tidak ada informasi apa pun, dan akibatnya masyarakat tidak tahu apa pun yang terjadi di sekitarnya.

Sementara jurnalis sendiri memiliki filosofi, “jika kiamat sekalipun terjadi, jurnalis akan tetap bekerja meliput.” Dan satu hal, jurnalis atau wartawan dalam bekerja, berlandaskan UU No.40 tahun 1999, tentang pers. Artinya, para jurnalis bekerja atas dasar undang-undang tersendiri.

Kerja berat jurnalis, terkadang tidak diimbangi dengan jaminan sosialnya. Meski dokter juga mungkin juga mengalami hal yang sama. Yang jelas, dalam konteks saat ini, kedua profesi itu sangat rentan menjadi korban pertama tertular virus Corona. Tapi tentu apa yang diharapkan dari pemerintah adalah adanya jaminan sosial atau stimulus untuk kedua profesi ini. (**)

BERBAGI