Beranda Opini Semangat Hadapi Hidup Darurat atas Kebijakan Pemerintah

Semangat Hadapi Hidup Darurat atas Kebijakan Pemerintah

BERBAGI
Apapun keputusan Pemerintah Aceh tanpa mengambil keputusan yang mendasar (fundamental) maka sama dengan berpura-pura dan tidak punya keberanian dalam memimpin rakyat

Oleh: Tarmidinsyah Abubakar

Apapun keputusan Pemerintah Aceh tanpa mengambil keputusan yang mendasar (fundamental) maka sama dengan berpura-pura dan tidak punya keberanian dalam memimpin rakyat.

Pernyataan saya ini boleh dianggap berlebihan karena kalian memang tidak pernah mempelajari tentang bagaimana keputusan politik yang dianggap ekstrim oleh sebahagian penyelenggara negara dan rakyat dimana menghadapkan pilihan antara “Negara dan Rakyat”.

Sebenarnya siapa yang kalian pimpin? Katakan kalian “pejabat negara,” tapi ingat untuk apa jabatan yang kalian sandang yang disediakan negara dengan kewenangan sebesar itu? Juga untuk melayani rakyat.

Konstitusi Negara, UUD 45, UU lainnya ketika dikaji tetap saja akan mengedepankan rakyat di atas elemen apapun tentang syarat negara lainnya. Tidak logis sebuah negara itu dibangun atas kepentingan negara, sehingga semua urusan boleh dikorbankan termasuk rakyat. Ini gejala rezim fasis, rezim otoriter, pembunuh rakyat untuk menegakkan negara.

Bila anda seorang pemilik bus maka ketika anda mengutamakan bus anda ketika berhadapan dengan pilihan menyelamatkan keselamatan penumpang maka sungguh anda telah meninggalkan hakikat hidup yang sesungguhnya. Apalagi kita yang berpegang teguh pada ajaran agama dan budaya kita bahwa hidup itu berguna ketika kita bisa memberi manfaat bagi hidup orang banyak.

Oleh karena itu tidak boleh satupun nyawa rakyat dikorbankan meski dengan dalih untuk kepentingan negara, karena keberadaan negara adalah membangun cara hidup. Maka dia adalah bentuk “kesepakatan” manusia dan menusia untuk bersatu, manusia yang menjadi funding fathersnya negara dan diteruskan oleh pemimpin negara yang berkewajiban memiliki ideologi hidup bangsanya dengan menempatkan dan memprioritaskan kehidupan rakyat di atas segalanya.

Situasi pandemi adalah ancaman yang tidak bisa dihadapi secara fisik oleh rakyat, maka mereka tidak bisa melihat ancaman itu secara nyata. Sebahagian besar karena kita beriman dalam Islam maka menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah adalah pilihan bagi rakyat kita di Aceh. Saya yakin hanya inilah yang memberi kenyamanan sehingga masyarakat belum merasa terusik dengan ancaman COVID-19.

Namun kita juga harus paham bahwa dalam era sejarah penyakit, virus dan segala macam senjata telah mampu diciptakan oleh menusia di bumi lain yang terus mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga dia bisa mencipta senjata yang bisa saja mengancam manusia di belahan bumi lain untuk kekuasaan bangsanya, dan ancaman itu tanpa dapat dilihat oleh mata kita. Bayangkan kalau mereka tidak percaya Tuhan maka manusia lain pun tidak akan dianggap jika hanya mengganggu tujuan kekuasaanya.

Terhadap kebijakan Pemerintah Aceh dalam kondisi sosial saat ini, di mana masyarakat dalam ancaman hidup dan mati bisa dalam tahapan menghadapi penyakit yang menimpanya dan dalam mempertahankan hidup yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya akibat kebijakan pemerintah dalam penanganan COVID-19 tersebut.

Tentu Anda sebagai pemimpin tersedia pilihan keputusan, yaitu mengutamakan Anggaran Negara untuk keselamatan masyarakat Aceh yang paling utama dan negara harus mengorbankan pembangunan lainnya demi rakyatnya.

Atau pilihan lain, Anda tetap mempertahankan anggaran rencana pembangunan infrastruktur, rencana pembangunan ekonomi, dan rencana lain yang tidak ingin anda otak atik karena target pembangunan anda sebagai prestasi standar sebagaimana pembangunan rakyat yang sesungguhnya tidak berguna yang pernah saya tahu selalu dibangun di daerah kita.

Kalau saya di posisi pemimpin di masa ini, maka saya hanya memilih rakyat di atas kepentingan negara yang lain. Maka anggaran negara akan saya alihkan untuk memelihara kesehatan, menjamin kebutuhan hidup rakyat selama kondisi darurat dan saya akan membagikan semua uang negara untuk rakyat agar mereka bisa membeli kebutuhannya agar rakyat saya tetap hidup.

Itulah kesempatan saya untuk bisa menunjukkan diri yang bermanfaat kepada manusia lain yang menjadikan kita dalam catatan emas kemanusiaan dunia.

Meskipun Anda mati maka sikap Anda adalah karya yang abadi yang menjadi pelajaran hidup dan inspirasi bagi kehidupan generasi setelah itu. Dan di masa depan akan banyak mengundang orang di bumi lain mendatangi daerah Anda untuk memberi nilai dan membayar lebih untuk anak cucu Anda. Itulah yang disebut investasi politik dalam pembangunan manusia, tidak perlu mengemis pada investor ke seluruh dunia.

Sebagai pemimpin, apakah ada yang berani atau selamanya menjadi pemimpin dalam jajahan pemimpin lainnya dan Anda hanya memposisikan rakyat Aceh sebagai rakyat terjajah yang tidak pernah merasakan bagaimana sesungguhnya hidup nyaman dalam negara merdeka. (**)

  • Penulis adalah pemerharti sosial dan politik dan pendiri partai politik lokal GRAM berdomisili di Aceh
BERBAGI