Beranda Opini Anwar Ibrahim, Tamat kah Sudah?

Anwar Ibrahim, Tamat kah Sudah?

BERBAGI
Jurnalis senior dan pemerhati politik Malaysia, Barlian AW. (Foto/Ist)

“Ketika orang lain yang dipilih, dia pun jadi ‘pemenang’ karena Yang Dipertuan Agong menunjuk Muhyiddin Yasin, dari partainya, Partai Pribumi Bersatu Malaysia”

————

Oleh: Barlian AW

Nasib Anwar Ibrahim sangat apes. Dua puluh tahun menunggu jadi PM, sirna sudah. Seniornya, PM Mahathir Mohammad, telah “menyandera” nya. Meski sudah dijanjikan, tapi yang menggantikan Mahathir, justru orang lain, Muhyiddin Yasin.

Tan Sri Muhyiddin Yasin (73th), pada Minggu hari ini (1/3/2020), akan mengangkat sumpah sebagai PM ke-8 Malaysia. Dia adalah Presiden Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), partai yang didirikan Mahathir Mohammad tiga tahun lalu. Dengan demikian hasrat Anwar Ibrahim sejak 20 tahun untuk menjadi PM Malaysia, terkubur sudah.

Muhyiddin dipilih oleh Yang Dipertuan Agong sebagai kepala negara. Berdasarkan UU Federal pasal 40 dan 43, Yang Dipertuan Agong berhak menunjuk seseorang di antara anggota parleman yang mendapat dukungan mayoritas di Dewan Rakyat menjadi PM Malaysia.

Anwar, Presiden PKR dan Pimpinan Koalisi Pakatan Harapan (PH) yang memenangi Pemilihan Raya 14 berusaha maju sebagai calon PM, setelah Mahathir meletakkan jabatan pekan lalu, sekaligus mundur dari PH yang didirikannya.

Sesuai UU Federal (Perlembagaan Persekutuan) Malaysia untuk menjadi PM seseorang calon harus memperoleh dukungan 112 dari 222 anggota parlemen. Dukungan minimal 112 ini di Malaysia disebut mayoriti mudah.

Anwar hanya mampu mengumpulkan 94 dukungan dari PKR, DAP, dan PAN (koalisi PH). Sebelas anggota parlemen partainya sendiri mengundurkan diri dan pasti tak mendukungnya lagi. Sempalan ini dipimpin Azmin Ali, deputi Presiden PKR dan Menteri Urusan Ekonomi.

Cara lain yang bisa dilakukan Yang Dipertuan Agong ialah mengembalikan kepada rakyat dengan membubarkan parlemen lalu melaksanakan Pemilihan Raya. Partai mana yang menang, partai itu pula yang berhak membentuk ‘kerajaan’ (pemerintah).

Tapi Yang Dipertuan Agong memilih memanggil anggota parlemen ke istana dan menanyai satu persatu pendapat mereka. Setelah itu, nama Muhyiddin yang dipilih. Muhyiddin yang disebut-sebut berayah Bugis dan beribu Jawa ini, memperoleh 114 suara anggota parlemen.

Muhyiddin yang kini memimpin PPBM, sebelumnya adalah politisi UMNO. Tahun 2015 dia bersama Muhriz Mahathir dipecat oleh PM Tun Razak sebagai Wakil Perdana Menteri.

Setelah Mahathir mengalahkan BN dan menjadi PM ke-7, anggota parlemen dari Pagoh, Johor itu diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Saat menyertai UMNO, Muhyiddin pernah menjadi Menteri Besar Johor. Dalam kabinet Najib, dia juga pernah ditunjuk sebagai Menteri Pertanian dan Industri Azas Tani.

Kelihatannya Muhyiddin, jika dia dinyatakan memiliki dukungan mayoritas, selain didukung PPBM juga memperoleh dukungan dari partai koalisi BN (UMNO, MCA, MIC), PAS, dan partai lokal dari Serawak dan Sabah.

Dalam konsensus koalisi PH yang memenangi Pemilu 8 Mei 2018, Mahathir hanya jadi PM dua tahun setelah itu menyerahkan jabatan itu kepada Anwar Ibrahim, yang kala itu meringkuk dalam penjara karena tuduhan sadomi.

Tapi itulah janji politik. Dari pada menyerahkan jabatan kepada musuhnya yang dipecat pada 1998, Mahathir lebih baik meletakkan jabatan terlebih dahulu agar dia bukan lagi PM dari PH hingga tak perlu menyerahkan jabatan itu kepada Anwar Ibrahim.

Ketika orang lain yang dipilih, dia pun jadi “pemenang” karena Yang Dipertuan Agong menunjuk Muhyiddin Yasin, dari partainya, Partai Pribumi Bersatu Malaysia. Muhyiddin adalah orang yang dipecat oleh Najib, musuh Mahathir. Bukankah musuh dari musuh kita adalah kawan. Muhyiddin adalah musuh Najib, yang boleh jadi dia adalah kawan Mahathir.

Dalam dua tahun ini Mahathir atau “Tun M” berhasil menyingkirkan dua musuh sekaligus. Najib Razak dan Anwar Ibrahim. Di usia hampir mencapai satu abad (94 tahun) politisi dari Kedah ini masih punya akal panjang.

Dan dalam akal panjang itu pula Anwar yang dia penjara, yang dia lepaskan, kemudian dia “sandera,” menunggu penyerahan kekuasaan dari Mahathir, tersingkir dalam kesedihan yang panjang. (**)

  • Penulis adalah Jurnalis Senior/Pemerhati Politik Malaysia
BERBAGI