Beranda Laporan Khusus Ketika Pusat Peradaban Islam Nusantara Diterjang Banjir

Ketika Pusat Peradaban Islam Nusantara Diterjang Banjir

BERBAGI
Presiden Joko Widodo meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di Kelurahan Pasar Baru Gerigis, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 25 Maret 2017 silam. Kini Barus luluh lantak diterjang banjir. (Foto/Ist)

Medan — Nama Barus, satu wilayah kecamatan yang berada di pesisir pantai barat Sumatera Utara, dalam beberapa hari terakhir kembali menjadi trending topik. Pasalnya karena kecamatan yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatera Utara, luluh lantak diterjang banjir besar.

Data yang dihimpun Waspadaaceh.com dari Badan Pelaksana Penanggulangan Bencana (BPPB) Sumatera Utara, tercatat hingga Jumat (31/1/2020), banjir di Kecamatan Barus  telah memakan korban 9 orang meninggal dunia dan 1.449 kepala keluarga (KK) mengungsi.

Bencana banjir yang melanda Barus ini kembali mengingatkan publik tentang satu daerah pesisir yang memiliki peranan besar dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Mengapa Barus begitu dikenal?

Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam

Presiden Joko Widodo meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di Kelurahan Pasar Baru Gerigis, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 25 Maret 2017 silam.

Di Aceh, ada Titik Nol Kilometer Indonesia, sebagai tanda luasnya geografis wilayah Indonesia, yaitu pulau Sabang.

Sedangkan di Sumut, ada Barus yang ditetapkan sebagai Pusat Peradaban Islam Nusantara yang pertama kali penyebaran agama Islam. Peradaban Islam pertama kali ternyata di Sumatera Utara, bukan di Jawa. Meskipun disebut-sebut banyak para wali, yang kemudian dikenal dengan sebutan Wali Songo, yang berasal dari tanah Jawa.

Saat peresmian, Presiden Jokowi mengenakan jubah kebesaran warna coklat yang transparan seperti yang dikenakan Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud saat berkunjung ke Indonesia. Jubah itu pemberian Raja Salman kepada Presiden Jokowi. Dia juga mengenakan kopiah putih sembari memegang tongkat.

Presiden juga mengatakan bahwa dirinya pernah mendengar bahwa mumi-mumi yang diawetkan di Mesir menggunakan kapur barus yang berasal dari Barus, Tapanuli Tengah.

“Tadi pagi, saya ditunjukkan makam Mahligai yang di situ banyak dimakamkan syekh dari Timur Tengah. Itu menandakan peradaban perdagangan, syiar agama sudah dimulai sejak beratus-ratus tahun lalu,” ungkapnya.

Untuk itu, Jokowi berharap agar para ulama yang ada di Sumatera Utara terus menyebarkan ajaran agama Islam yang rahmatan lil alamin sehingga masyarakat Indonesia dapat memandang perbedaan yang ada sebagai sebuah kekuatan untuk menjaga persatuan dan kesatuan Tanah Air.

Keberagaman tersebut dirasakan sendiri oleh Presiden saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah di Tanah Air, salah satunya adalah pengucapan salam yang berbeda-beda di setiap daerah.

Barus Diterjang Banjir

Namun kini, Kecamatan Barus tertimpa bencana banjir. Hingga Kamis, (30/1/2020), telah memakan korban 9 orang meninggal dunia dan 1.449 kepala keluarga (KK) mengungsi.

Berbagai pihak sudah turun ke lokasi termasuk Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi memberikan bantuan kepada keluarga korban. Termasuk BPBD Sumut dan tim gabungan dari Pemprov Sumut.

Keluarga korban berharap para korban yang hilang dapat segera ditemukan. Mari kita doakan bersama untuk para korban yang meninggal ditempatkan disisi-Nya dan tim dapat segera bekerja dengan cepat mengevakuasi para korban lain.

Kuat Dugaan Banjir Akibat Perambahan Hutan

Banjir yang terjadi di Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara itu sungguh tragis. Musibah itu menjadikan berbagai mata tertuju ke daerah bersejarah ini

Berbagai pihak sudah memperkirakan, adanya perambahan hutan dan tidak terawatnya alam menjadi salah satu penyebab. Meskipun terjadi hujan deras, namun tidak lah mungkin disebabkan oleh hal itu saja.

Kepala Seksi di Dinas Kehutanan Sumut Albert Sibue mengaku meski belum bisa memastikan namun pihaknya melihat adanya indikasi kesana.

“Kita lihat memang ada pohon dan kayu yang berjatuhan dari atas gunung. Ada yang menimpa rumah warga dan terseret banjir,” kata Albert, Jumat (31/1/2020).

Saat ini tim sudah turun ke lapangan melakukan pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan indikasi pembalakan dan perambahan hutan. Pihaknya juga pada pekan depan akan turun memastikan, nanti hasilnya akan diumumkan ke publik. (sulaiman achmad)

BERBAGI