Beranda Sumut Hingga Januari, 42.000 Ekor Babi Mati di Sumut akibat Flu Babi

Hingga Januari, 42.000 Ekor Babi Mati di Sumut akibat Flu Babi

BERBAGI
Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi. (Foto/Ist)

Medan — Hingga Januari 2020 ini, sudah 42.000 ekor babi mati di Provinsi Sumatera Utara akibat terkena virus flu babi Afrika atau African Swine Fever (ASF). Diperkirakan butuh biaya besar dan waktu lama untuk benar-benar memusnahkannya.

Hal itu diungkapkan Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, Senin sore (6/1/2020) di Medan. Edy menilai butuh biaya besar dan waktu yang lama untuk benar-benar memusnahkan penyakit itu seperti di China.

Edy menuturkan salah satunya cara adalah dengan melakukan pemusnahan massal seluruh babi di Sumut, baik yang terjangkit virus mau pun yang tidak. Kondisi itu pernah dilakukan di China. Namun China sendiri butuh 20 tahun untuk memulai ternak lagi dari awal, katanya.

Apalagi, kata Edy, butuh biaya besar melakukan itu semua. Karena harus memberikan ganti rugi kepada pemilik dan peternak, baik masyarakat maupun ternak milik perusahaan. Di Sumut sendiri, diperkirakan terdapat 3 juta ekor ternak babi.

Mantan Pangkostrad dan Pangdam I/BB itu menilai cara itu yang paling tepat. Karena nantinya seluruh ternak pasti akan terkena virus serupa. Untuk itu, dia butuh waktu untuk mengambil keputusan tersebut.

“Dilemanya itu, kalau nanti saya setujui, bisa jadi ini bencana. Saya perlu waktu. Nanti saya pertimbangkan,” kata Edy.

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian telah menetapkan 16 daerah di Provinsi Sumut positif terjangkit penyakit ASF babi. Hal itu disampaikan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, melalui SK Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang pernyataan wabah penyakit demam babi afrika (African Swine Fever) pada medio Desember tahun lalu.

16 daerah itu antara lain Dairi, Humbahas, Deli Serdang, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar dan Medan. (sulaiman achmad)

BERBAGI