Beranda Tausiah Tgk Yusri Puteh: Kebaikan yang Kurang di Hadapan Allah SWT

Tgk Yusri Puteh: Kebaikan yang Kurang di Hadapan Allah SWT

BERBAGI
Kajian subuh Tgk Yusri Puteh di Masjid Baiturahmah, Lampoh Daya Banda Aceh, Minggu (7/12/2019). (Foto/Aldin Nl)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Apa jadinya bila berbuat baik pun dirasa masih sedikit atau kadarnya kurang. Konon bila perbuatan yang dilarang tapi dikerjakan. Nah, surga apa yang dijanjikan Allah SWT dari amalan yang minimal di mata Sya’ban RA (sahabat nabi), dan teramat besar untuk ummat milenial sekarang ini?

Marilah dengarkan tausiah ustadz kondang, Tgk Yusri Puteh, di hadapan ratusan jamaah subuh di Masjid Baiturahmah Desa Lampoh Daya, Kec Jaya Baru, Banda Aceh, Minggu (7/12/2019).

Nilai-nilai kebaikan menjadi topik utama selama hampir satu jam ustadz Yusri Puteh berceramah. Singkatnya hidup di dunia diingatkannya, agar ummat menghamba kepada Allah SWT.

“Ummat tidak boleh melakukan hal syirik, baik dalam lisan mau pun perbuatan.
Karena itu, mari kita berbuat baik kepada Allah dan Rasulullah,” ajak Yusri Puteh.

Foto bersama usai subuh berjamaah di Masjid Baiturahmah, Lampoh Daya Kec Jaya Baru, Banda Aceh, Minggu (7/12/2019). (Foto/Aldin Nl)

Di hadapan jamaah yang hadir, antara lain Kapolres Banda Aceh, BNN Banda Aceh, Ustadz Zul Arafah, tokoh masyarakat perangkat kampung Lampoh Daya dan jamaah Arafah, Yusri Puteh mengutip kitab suci Alquran:

“Bahwa hidup di akhirat lebih utama dan lebih baik bagimu wahai Muhamamd. Sebab, pada saat itu (kiamat), mulut kita dikunci dan semua dihisap atas apa yang kita kerjakan di dunia. Karena manusia tidak sempurna, dan banyak timbangan dosa, cara menghapusnya dengan bertaubat dan memperbanyak istighfar agar kembali kepada Allah dalam keadaan suci. Tidak ada dosa besar klo kita selalu istighfar.”

Ustadz Yusri Puteh mengilas balik perjalanan spiritual yang dilakukan para sahabat nabi besar Muhammad SAW, untuk menjadi renungan para jamaah yang hadir.

“Orang berbuat baik menyesal di akhirat, apa lagi yang berbuat jahat,” ujarnya.

Sahabat nabi, bernama Sya’ban RA (dia tidak populer), diceritakan kembali oleh Ygk Yusri, panggilan akrab ustadz ini, subuh tidak seperti biasanya. Sya’ban RA tidak berada di dalam masjid untuk berjamaah. Rasulullah bertanya kepada jamaah dan siapa yang tahu di mana rumah Sya’ban?

Diceritakan, sahabat Rasulullah SAW, Sya’ban ra, memiliki kebiasaan unik. Dia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Dia selalu mengambil posisi di pojok masjid pada setiap shalat berjamaah dan i’tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid karena dia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah sendiri.

Ditemani para sahabat, Rasulullah mengunjungi rumah Sya’ban. Masa Allah, rupanya, rumah Sya’ban sangat jauh. Setelah menempuh perjalanan tiga jam jalan kaki, baru sampai di kediaman Sya’ban, yang sepanjang hidupnya tidak pernah absen shalat berjamaah bersama Rasulullah.

“Assalamualaikum”. Rasulullah, mengucapkan salam di depan pintu rumah Sya’ban “Wa’alaikum Salam,“ balas istri Sya’ban.

Rasul pun bertanya perihal ketidak hadiran Sya’ban pada shalat subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah.

Istri Sya’ban ra tidak langsung menjawab. Jeda sekian lama, sambil menitikkan air mata, baru dia memberi kabar bahwa suaminya sudah meninggal dunia subuh tadi.

Kalimat terakhir Sya’ban diliputi penyesalan yang dalam. Istrinya kemudian menanyakan kepada Rasulullah makna tiga hal yang disampaikan suaminya, sebelum sekaratul maut.

Tiga hal tersebut; 1. Kenapa tidak lebih jauh, 2. Kenapa tidak lebih bagus dan 3.Kenapa tidak lebih banyak.

Lalu Allah SWT memperlihatkan kepada Rasulullah kebiasaan baik yang dilakukan Sya’ban sebelum ajal menjemput.

1. Ya Allah kenapa tidak lebih jauh rrumah saya dari masjid. ”Maknanya Sya’ban menyesal bahwa 3 jam perjalanan dari rumahnya ke masjid masih terlalu dekat karena setiap langkah kakinya diganjar pahala. Allah SWT akan menempatkan Sya’ban di surga yang akan dihuninya, bila rumahnya lebih jauh lagi.

Sekarang ini, sebut Tgk Yusri, rumah kita dekat, tapi selalu terlambat ke masjid untuk shalat berjamaah.

2. Ya Allah, kenapa tidak lebih bagus? Sya’ban mengatakan ke istrinya dan istrinya bertanya kepada Rasulullah. (Ya Allah kenapa tidak lebih bagus?).

Suatu pagi ketika Sya’ban hendak ke masjid, di tengah jalan berjumpa dengan orang tua yang juga hendak berjamaah ke masjid, tapi dia kedinginan dan wajahnya pucat. Waktu itu lagi musim dingin. Sya’ban berpakaian dua lapis. Lapis dalam untuk pakaian bagus, lapis luarnya dia kenakan pakaian agak kumal. Sya’ban tidak pikir panjang, lalu membuka pakaian luar yang dia kenakan kepada orang tua tadi sambil memapahnya hingga sampai masjid. Perbuatan baik ini dinampakkan Allah kepada Muhammad SAW, bahwa Sya’ban sebelum dicabut nyawanya dinampakkan, andai saja dia berikan pakaian yang lebih bagus kepada orang tua yang kedinginan itu, Allah juga menampakkan surga yang mestinya dia huni. Sya’ban menyesal mestinya dia memberi pakaian paling bagus untuk orang tua tadi.

3. Ya Allah kenapa tidak lebih banyak atau semuanya?

Diceritakan, Sya’ban membagi sepotong roti dibagi dua dan susu kepada pengemis yang sedang kelaparan dan kebetulan melintas saat Sya’ban sedang makan roti (roti orang Arab porsinya besar).

Pada saat sakaratal maut, dinampakkan oleh Allah pemberian makanan itu, dinampakkan kebaikan itu. Tapi Sya’ban menyesal kenapa dia tidak memberikan semua makanan itu kepada pengemis yang kelaparan, bila melihat ganjaran pahala surga yang dibalas oleh Allah SWT.

Di akhir majelis subuh berjamaah, Tgk Yusri Puteh mewanti-wanti, setelah mendengar kisah sahabat nabi Sya’ban RA itu, hendaknya semua ummat punya progres ibadah, diperbaiki dan terus ditingkatkan menjadi lebih baik untuk mendapatkan surganya Allah SWT.

“Karena kematian itu sesuatu yang pasti, kita akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang meminta kematiannya ditunda, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia,” kata Ustadz Yusri Puteh.

Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan. (Aldin NL)

 

BERBAGI