Kunci Keberhasilan Pemberantasan Narkoba Lewat Pendekatan Agama

    BERBAGI
    Kepala BNNK Banda Aceh, Hasnanda Putra (dua dari kiri) sedang memberikan keterangan pers akhir tahun 2019 di kantor BNNK Banda Aceh, Rabu (4/12/2019) (waspada/T.Mansursyah)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Banda Aceh, Hasnanda Putra menegaskan, kunci keberhasilan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika (P4GN) adalah melalui pendekatan keagamaan.

    ‘Kita sudah buktikan, walaupun itu masih hipotesa, bahwa pendekatan paling bagus dalam merehabilitasi pecandu narkoba adalah pendekatan agama,” ungkap Hasnanda Putra dalam konprensi pers dengan sejumlah wartawan terkait refleksi akhir tahun 2019 di kantor BNN Banda Aceh, Rabu (4/12/2019).

    Kata dia, ke depan dalam pencegahan narkoba, diarahkan menjadi rehabilitasi berbasis masyarakat. Namun, untuk Aceh, meski pun pendekatan berbasis masyarakat itu bagus, akan dikombinasikan menjadi pendekatan berbasis religi (agama) atau berbasis pendekatan hati, kata Hasnanda.

    Menurutnya, pihak BNN Kota Banda Aceh telah mempunyai klien yang menjalani rehabilitasi di suatu dayah (pesantren) di Aceh. “Ternyata kemajuannya luar biasa, daripada di tempat berbasis rehabilitasi,” tuturnya.

    “Kalau kita tempatkan berbasis rehabilitasi, itu standar minimal enam bulan di sana. Tapi kalau kita tempatkan mereka di dayah kita lihat dalam waktu satu atau dua bulan sudah terjadi kemajuan dan perubahan yang luar biasa,” jelas Hasnanda didampingi Kasi P2M, Jufri dan Kasi Rehabilitasi, Desi Rosdiana.

    Kata Hasnanda, saat ini pihak BNNK Banda Aceh telah melakukan penanganan rehabilitasi rawat jalan terhadap 12 orang anak jalanan atau istilahnya “sahabat kita”. Dari jumlah tersebut ada yang rehabilitasi dirujuk ke pesantren dan juga masih rawat jalan.

    Para anak jalanan atau istilah BNN “sahabat kita” ini juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan agama, seperti safari shalat subuh berjamaah, mengikuti zikir dan kegiatan keagamaan lainnya.

    “Karenanya, fungsi keluarga sangat penting dalam menjaga anak-anaknya dari pengaruh narkoba. Kalau ayah dan ibunya tidak harmonis dalam keluarga, maka anak-anaknya akan mudah terjerumus dalam lingkaran narkoba. Anak pecandu narkoba yang kita tangani sekarang akibat rumah tangganya broken home,” ujar Hasnanda.

    Kecuali itu, Hasnanda juga menjelaskan, hasil survey dari LIPI dan BNN Pusat bahwa orang Aceh yang kini terpapar penyalahgunaan narkoba sebanyak 69.069 jiwa. “Untuk itu, karena Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh, maka kita juga harus berperan sebagaimana kabupaten/kota lainnya dalam hal pemberantasan dan pencegahan narkoba ini”.

    Hasnanda menyebutkan, hasil keunjungan BNNK Banda Aceh ke Lapas Lambaro Banda Aceh tercatat napi yang menghuni lapas tesebut sudah over capasitas. Artinya, jumlah Lapas Lambaro itu kafasitas huniannya sekarang sebanyak 709 Napi, sementara kafasitas tersedia hanya 380 orang. Dari jumlah tersebut tercatat 549 orang berstatus narkoba atau 77,43 persen Napinya terlibat narkoba.

    Mantan Ketua KNPI Banda Aceh ini juga mengatakan, pihaknya telah melakukan penandatangan MoU dengan Lapas Lambaro Banda Aceh menyangkut dengan pencegahan dan rehabilitasi pecandu narkoba. Kepala Lapas Lambaro sangat komit dengan ini dan juga akan mengambil tindakan tegas kepada sipir-sipir yang terlibat peredaran narkoba di LP tersebut, jelas Hasnanda.

    “Memerangi narkoba sampai tuntas menjadi prioritas BNNK Banda Aceh dan aparat penegak hukum lainnnya. Dukungan seluruh elemen bangsa sangat dibutuhkan dalam mengemban tugas dan amanah yang diberikan oleh masyarakat, sehingga negara kita khususnya Aceh bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba,” demikian Hasnanda Putra. (T.Mansursyah)

    BERBAGI