Beranda Opini Budaya Belanja dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Budaya Belanja dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

BERBAGI
ILUSTRASI
“Konsumerisme lambat laun berdampak buruk. Hal ini membuat lebih dari 30 negara memilih untuk memperingati hari tanpa belanja setiap minggu akhir di bulan November setelah perayaan Thanksgiving”

———————-

Oleh: Muhammad Achdan Tharis

Belanja merupakan kebutuhan semua orang. Bahkan sebagian orang menjadikannya sebagai hobi, sehingga muncul istilah ‘gila belanja’ atau shopaholic.

Namun, tahukah bahwa berbelanja juga memiliki dampak buruk terhadap keberlangsungan hidup manusia? Untuk itu, saban tanggal 26 November kita memperingati Hari Tanpa Belanja Internasional, yang mengingatkan kita pada efek buruk dari belanja.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia pasti berbelanja. Kita telah lazim dengan pengelompokan kebutuhan manusia, dari premier, sekunder, dan  tersier. Kebutuhan premier wajib dipenuhi untuk keberlangsungan hidup, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Sementara kebutuhan sekunder dipenuhi agar dapat membantu kehidupan menjadi  lebih baik, seperti handphone, laptop, kulkas, dll.

Sedangkan kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang jika dipenuhi hanya akan meningkatkan kelas sosial, seperti mobil mewah, jet pribadi, berlian, dll. Persepsi sebagian orang yang kebutuhannya jadi tak terbatas, seiring perkembangan zaman membuatnya lebih mementingkan kebutuhan tersier demi meningkatkan kelas sosial. Hal ini memicu masyarakat jadi sangat konsumtif dan menimbulkan sifat konsumerisme.

Konsumerisme dipahami gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya; gaya hidup yang tidak hemat (KBBI, 2019). Sifat ini makin menjadi  ketika “Toko Online” mulai eksis, hingga mengubah trend berbelanja manusia dari luring menjadi daring (dalam jaringan).

Berdasarkan hasil penelitian TEMASEK dan Google, pertumbuhan e-commerce di Indonesia melonjak seiring dengan tumbuhnya penggunaan internet (Rini Rahani, 2019). Saat ini, situs-situs  toko online banyak mengandalkan diskon dan cashback saat Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) seperti tanggal 11/11, 12/12 dan semacamnya. Pada hari-hari itu pula aktivitas perbelanjaan dan cuitan di berbagai media sosial meningkat dua kali lipat dari biasanya, khususnya untuk fesyen dan aksesoris. Data menunjukkan, bahwa masyarakat Indonesia di kisaran usia 15 sampai 31 tahun melakukan transaksi pada Harbolnas hingga menembus angka Rp 6,8 Triliun (detik.com, 2018).

Konsumerisme lambat laun berdampak buruk. Hal ini membuat lebih dari 30 negara memilih untuk memperingati hari tanpa belanja setiap minggu akhir di bulan November setelah perayaan Thanksgiving. Sementara di Indonesia sendiri, hari tanpa belanja di peringati setiap tanggal 26 November. Peringatan semacam ini pada prinsipnya ingin menentang konsumerisme yang dialami oleh kebanyakan manusia di era globalisasi saat ini.

Menurut penulis, ada tiga alasan mengapa berbelanja secara berlebihan dapat menimbulkan efek negatif. Pertama, berbelanja dapat meningkatkan penggunaan plastik secara berlebihan, Kedua, banyak barang belanjaan yang hanya menjadi sampah. Dan ketiga, belanja secara berlebihan dapat meningkatkan resiko pemanasan global.

Dari Plastik, Makanan, sampai Industri Mode

Dampak sampah plastik kian memprihatinkan dari hari ke hari. Warga Indonesia menggunakan 9,6 juta plastik setiap hari (mongabay.co.id, 2016). Ironisnya, sebagian besar plastik itu didapatkan dari aktivitas berbelanja.

Seiring zaman, jumlah pengguna internet di Indonesia terus mengingkat. Tahun 2015, pengguna internet mencapai 92 juta orang. Jumlah tersebut diprediksi akan meningkat menjadi 215 juta pada tahun 2020. Dari total pengguna internet di tahun 2015 itu, terdapat 18 juta orang pembeli daring. Jumlah ini diperkirakan akan mencapai angka 119 juta pembeli daring pada tahun 2025 (Zaenudin, 2017).

Namun, alih-alih meminimalisir, lonjakan jual-beli daring ternyata malah semakin banyak menghasilkan sampah plastik ketimbang luring. Saat pengiriman barang, produk dikemas secara baik agar aman dan tidak rusak. Bentuk kemasannya beragam, namun plastik masih menjadi pilihan utama. Bahkan ada juga yang menggunakan bubble wrap untuk menopang bahan yang mudah pecah dan rusak (Rini Rahani, 2019).

Ahli lingkungan industrial dari Universitas California, Dr Roland Geyer mencatat, total volume plastik yang pernah diproduksi sampai tahun 2015 mencapai 8,3 miliar ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 6,3 miliar ton sudah menjadi sampah dengan rincian: 79 persen di antaranya masuk ke dalam tanah, 12 persen dibakar, dan hanya tersisa 9 persen yang didaur ulang. Jika tren produksi dan manajemen sampah seperti ini terus berlangsung, pada tahun 2050 diperkirakan sekitar dua belas miliar sampah plastik akan masuk ke dalam tanah (BBC, 2017).

Sisi lain juga penting dicermati. Di beberapa negara seperti AS, setiap harinya masyarakat dapat berbelanja 3-4 jam sehari. Namun sayangnya barang yang mereka beli hanya menjadi sampah setelah 6 bulan pemakaian. Bahkan founder Salur Indonesia, Andien Aisyah mengatakan, sepertiga pakaian perempuan akan dibuang setelah dipakai rata-rata lima kali. Di samping itu, 70 persen pakaian di lemari masuk dalam kategori tidak terpakai (liputan6, 2019). Artinya, sampah fesyen terus menumpuk setiap harinya dan merusak lingkungan jauh lebih cepat.

Melalui tren industri mode ini, 80 miliar potong kain diproduksi setiap tahunnya. Hal ini diperparah dengan minimnya wawasan masyarakat terkait kerusakan lingkungan akibat dari aktivitas belanja yang berlebihan. Bahan tekstil berupa serat mikro yang dibuang ke saluran air maupun emisi metana yang membumbung ke udara, semuanya adalah racun berbahaya. Hal ini seiring dengan prediksi bahwa pada tahun 2050, industri mode jadi penyumbang polusi dunia setelah minyak (CNN, 2019).

Sifat konsumtif akan memacu seseorang untuk membuang belanjaannya jauh lebih cepat. Sama halnya dengan makanan, dimana nyaris 1,3 miliar ton-nya terbuang setiap tahun. Sebagian besar makanan berakhir di tempat pembuangan akhir dan berkontribusi terhadap perubahan iklim (BBC, 2019).

Limbah makanan adalah salah satu masalah terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini. Diperkirakan, sepertiga dari semua makanan yang diproduksi secara global hilang atau terbuang sia-sia. Dengan membuang makanan, ini berarti kita turut berkontribusi pada perubahan iklim. Makanan yang dikirim ke tempat pembuangan, dibiarkan membusuk dan menghasilkan gas metana (BBC, 2019).

Membenahi Pola Pikir

Beberapa dampak tadi hendaknya menjadi bahan renungan, bahwa belanja secara berlebihan berpengaruh besar terhadap ruang hidup kita. Hari internasional tanpa belanja harusnya dijadikan momentum untuk mengevaluasi diri agar kita lebih bijak sebelum berbelanja.

Mari membawa tas belanja sesering mungkin, belanja seperlunya, dan cerdas dalam memilih barang yang akan kita beli. Membawa tas belanjaan sendiri dapat mengurangi dampak buruk sekaligus menjaga lingkungan agar terbebas dari sampah plastik. Terakhir, cermat berbelanja adalah solusi untuk persoalan ini. Kita harus memutuskan barang yang diinginkan dan seberapa lama akan mempertahankan barang tersebut. Mulailah menjadi seorang yang minimalis dan ramah terhadap lingkungan.

Ingatlah, pilih barang yang kita butuhkan, bukan yang kita mau. Selamat Hari Tanpa Belanja Sedunia. (*)

  • Penulis adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Almuslim, Bireuen)
BERBAGI